Arania Ayu POV
Aku tidak percaya dengan yang apa yang baru saja terjadi. Dina tega melakukan itu padaku, dia tidak meberitahu bahwa kemarin ada rapat kelas. Tapi apa? Dina tidak memberitahuku, hanya karena Mia yang melarangnya."Mia awas lo!" Aku sudah berada di dalam taksi untuk menuju tempat nongkrong Mia dan gengnya.
Mobil taksi yang aku naiki pun berhenti di depan sebuah rumah besar yang kutahu ini adalah rumah Aca, yang dulu sahabatku dan sekarang malah membenciku.
Rasa sesak kembali memasuk ke dalam dadaku ketika melihat rumah sahabatku dulu. Aca adalah sahabatku semasa SMK tapi itu semua berakhir karena Mia.
Aku berjalan menuju pintu besar rumah Aca. Dengan emosi aku mengetuk pintu itu.
butuh waktu lama pintu pun terbuka menampilkan sosok wanita tua dengan pakaian yang sederhana.
"Cari siapa?" tanya wanita tua itu.
"Saya cari Aca mbok."
Sebenarnya aku bisa saja menerobos masuk ke dalam rumah Aca tapi aku tidak tega jika harus melakukan itu di depan wanita tua ini.
"Oh si eneng temen non Aca juga ya?"
Mulutku kaku setelah mendengar ucapan wanita tua itu. Kenangan masa lalu kini menyeruak ke dalam otakku, bagaimana dulu dekatnya aku dengan Aca yang sekarang menjauh.
"Ada apa mbok?" suara seorang wanita dari dalam yang jelas aku sangat mengenalnya.
"Siapa mbo-" ucapannya berhenti setelah melihat aku yang sudah ada di depannya.
Ada keheningan yang sempat terjadi, dimana hanya mata aku dan Aca yang berbicara.
"Mana Mia?" Ucapku setelah sadar tujuanku ke sini adalah untuk mencari Mia.
"Mau apa lo cari Mia?!" Balas Aca sambil menyilangkan tangan di dada.
"Gue ada perlu sama sahabat lo itu!"
"Bentar lo tunggu di sini dan jangan coba masuk ke rumah gue!" Aca kembali masuk ke dalam rumah.
Aku menunggu di depan cukup lama sambil menahan emosi yang kurasa akan meledak sekarang juga.
"Oh dia yang cari gue?" Mia menujuk ke arahku dengan tatapan tidak suka.
"Maksud lo apa nyuruh Dina bohong sama gue?!" ucapku sambil mendekatcke arah Mia.
"Hahaha gue gak nyuruh Dina bohong, gue cuma ngelarang dia buat ngasih tau lo... Dan dia nurut sama gue!"
"Cara lo tuh basi!! Gue tau maksud lo apa!" Aku mendorong Mia hingga dia hampir saja jatuh.
"Lo berani sama gue!!" Bentak Mia kencang.
"Eh Ran lagi juga percuma lo ikut rapat kemarin, warna lo gak bakal dipilih, termasuk sama si Dina." tambah Sisil yang sekarang sudah maju tepat di depanku.
"Gue yakin Dina bakal sependapat dan milih warna kesukaan gue!"
Mia hanya terkekeh sedangkan Aca hanya jadi penonton keributan ini, Aca sepertinya tidak berniat beradu mulut tentang pembahasan Dina, ia memilih bungkam sambil terus melihat kami yang sedang beradu mulut.
"Asal lo tau! Warna merah itu adalah warna pilihan Dina dan anak-anak setuju, kecuali lo!!" Ucap Mia
Aku tersenyum smirk ke arah Mia dan Sisil.
"Gue tau itu akal-akalan lo Mi, gue tau lo mau rebut Dina dari gue!"
Aku melirik ke arah Aca sebentar, "Sama seperti dulu saat lo rebut Aca dari gue!" tambahku dan Mia hanya tertawa puas mendengarnya begitupun dengan Sisil yang ikut tertawa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Girl
RomanceTuhan menciptakan dunia dengan berbagai warna di dalamnya dan setiap manusia berhak memilih warnanya sendiri. Tapi bagaimana jika warna pilihannya malah dianggap aneh dan membuatnya merasa dijauhi, bahkan oleh orang yang tersayang. lanjut baca kuy...