Butir III. Kebenaran

2.7K 376 43
                                        

Mikasa sudah bisa pulang dari rumah sakit dua hari kemudian. Selama itulah Eren tidak bertemu Levi dan putri kecilnya. Mereka sampai di apartemen tepat pukul lima sore. Bersamaan dengan pemuda tinggi yang baru saja pulang kuliah. Gadis berambut hitam itu segera berlari memeluk kaki jenjang setelah turun dari taksi. Membuat Eren tersentak dan nyaris berteriak.

Levi membawa satu tas ukuran sedang yang mungkin berisi baju-baju kotor milik Mikasa. Ia hanya diam. Tak banyak berkomentar ketika putrinya mengajak Eren untuk singgah sebentar.

“Ayah, bolehkah Mikasa mengajak Eren berkunjung ke kamar?”

Sepasang mata hijau melirik penasaran. Usai pembicaraan di rumah sakit yang menurut Eren cukup tidak sopan, mereka memang belum terlibat obrolan lagi. Levi sempat datang pada hari minggu. Sekadar membawa baju ganti Mikasa dan langsung pergi. Bahkan ketika mereka berpapasan di lift, pria itu hanya mengangguk pelan.

Wajar jika saat ini Eren merasa sedikit gelisah.

Di luar dugaan, kepala bersurai hitam itu mengangguk. Mata tajam bergulir pelan. Memandang pemuda tinggi yang terdiam. “Tentu. Kuharap kau tidak keberatan menemani Mikasa. Aku harus kembali ke kantor untuk mengambil dokumen penting.”

Belum sempat Eren menjawab, gadis kecil yang masih memeluk kakinya sudah bersuara terlebih dahulu. Sepasang mata bulat terlihat berbinar bahagia.

“Ayah bilang akan bekerja di rumah selama satu minggu untuk menemani Mikasa,” tuturnya sangat ceria.

Senyum lebar tak bisa ditahan. Eren mengusap puncak hitam dengan perlahan. Merasakan tubuh kecil itu masih terasa sedikit hangat.

Ah, pantas saja Levi-san perlu mengambil dokumen penting di kantor. Kondisi Mikasa memang belum sembuh benar.

Pria pendek dengan wajah lelah mulai melirik jam tangan. Ada kegelisahan yang tertangkap oleh sepasang mata hijau. Pun, taksi yang mereka naiki masih berhenti di dekat apartemen. Eren mengulum senyum tipis, masih mengusap helai Mikasa penuh rasa sayang.

“Levi-san bisa ke kantor sekarang,” ucapnya menarik perhatian pria tersebut. Dua pasang mata saling memandang. “Akan kutemani Mikasa selama Anda pergi.”

Sejenak Levi hanya terdiam. Memikirkan baik dan buruk. Lalu pandangan beralih pada putri kecil yang menoleh. Senyum bahagia tak luntur dari wajah mungil tersebut. Mikasa mengangguk pelan. Seraya menyetujui ucapan Eren.

“Mikasa akan jadi anak yang baik selama ayah pergi,” ujarnya dengan nada riang. “Tapi ayah tetap harus cepat pulang, ya.”

Dengkusan terdengar geli. Eren sempat terkesiap ketika mendengarnya. Mata berkedip beberapa kali. Mencoba meyakinkan diri bahwa suara dengkusan tersebut berasal dari pria pendek yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.

Levi mengulurkan tas. Mata memandang lurus ke arah pemuda tinggi yang sedikit tersentak dan segera mengambil tas tersebut. “Aku hanya mengambil dokumen. Tak akan lama. Titip putriku.”

Kepala mengangguk mantap. Eren tersenyum tipis dan menunduk sekilas, mengamati wajah cantik teman kecilnya yang masih sedikit pucat.

“Tentu saja,” bisiknya pelan sembari menatap mata hitam itu lagi. “Hati-hati di jalan, Levi-san.”

Pria pendek terdiam beberapa detik. Memandang senyum tulus dari seorang pemuda yang sejak awal sudah memiliki niat baik terhadap putrinya. Levi mengangguk pelan. Ia mengusap kepala Mikasa beberapa saat sebelum pamit dan kembali menaiki taksi yang masih menunggu.

Di sisi lain, Eren dan Mikasa masuk ke dalam apartemen dengan ceria. Gadis kecil itu akan berhenti sejenak ketika bertemu penghuni lain. Sekadar menyapa dan menyatakan rasa rindu setelah tiga hari tidak berada di apartemen.

MIZZLE [RIVAERE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang