Baru kali ini Eren merasa sangat berbeda setelah hidup selama dua puluh satu tahun. Pertemuannya dengan Carla ternyata mampu mengubah beban masa lalu yang menyakitkan. Ia tidak perlu lagi berusaha untuk tetap tegar. Semua luapan emosi yang terpendam sejak kecil akhirnya terbebas. Membuat batin terasa lebih lega.
Mikasa adalah orang pertama yang menyadari perbedaan tersebut.
Esok paginya, gadis itu terdiam beberapa detik saat melihat Eren berdiri di depan pintu apartemen. Menurut pengamatannya, senyum yang menghiasi wajah pemuda tersebut terlihat berbeda. Seperti memancarkan sesuatu yang membuat Mikasa ikut tersenyum lebar.
"Eren!"
Tubuh mungil memeluk pinggang ramping dengan erat. Mikasa membenamkan wajahnya pada perut Eren yang bergetar karena tawa. Pemuda itu terkekeh pelan sembari mengusap helai hitam. Merasasakan pelukan menjadi lebih erat sebelum akhirnya Mikasa mengangkat wajah. Menempelkan dagunya pada perut pemuda tinggi.
"Ada apa, hm?"
Kepala menggeleng pelan bersamaan dengan pelukan yang melonggar. "Mikasa senang kalau Eren bahagia."
Sebuah pernyataan yang membingungkan. Belum sempat Eren bertanya lebih jauh lagi, suara bariton terdengar dari dalam. Mata hijau memandang ke depan. Menemukan Levi sedang berdiri di dekat pintu masuk dengan wajah lelah. Rambut hitam masih berantakan. Pria itu hanya mengenakan celana olahraga abu-abu dan kaus tanpa lengan berwarna putih. Membuat Eren dapat melihat otot bisep yang menegang ketika ia menggaruk rambut yang berantakan.
"Jangan berdiri di depan pintu," tegurnya dengan suara serak seperti baru bangun tidur. "Ajak Eren masuk, Babi Cilik."
Mikasa mengerucutkan bibir. Ia menoleh dan mendelik tajam. Tubuh mungil mundur beberapa langkah agar tetangganya bisa masuk ke dalam apartemen. Pipi gembil terlihat kemerahan, seolah sedang menahan amarah.
"Mikasa bukan babi!"
Levi hanya mengangkat bahu dan menguap pelan. Ia melangkah malas menuju dapur. Meninggalkan putrinya yang tidak berhenti menggerutu sembari menyalakan televisi. Eren terkekeh pelan. Kaki melangkah mengikuti pemilik rumah. Menarik perhatian pria dewasa yang sedang menyeduh teh hitam.
"Teh?"
"Tidak," tolak pemuda itu tenang. "Levi-san baru bangun?"
Sepasang mata hitam mendadak mengalihkan pandangan. Levi menunduk mengamati teh hitam yang mulai berubah warna menjadi lebih gelap. Membuat Eren mengerutkan kening merasakan keanehan.
"Ya," jawab pria itu singkat. "Mau sarapan?"
"Sekarang pukul sembilan, Levi-san. Aku sudah sarapan di apartemen. Terima kasih atas tawarannya."
Eren tersenyum tipis sebelum berbalik untuk menemani Mikasa di ruang tamu. Luput menemukan pria pendek sedang mengusap wajah dengan frustasi. Helaan napas terdengar pelan dan panjang. Mata hitam menatap sosok tinggi yang kini sudah duduk di sofa bersama putri kecilnya.
Levi tahu. Pemuda bermata hijau itu pasti sadar jika ia seperti berusaha mengalihkan pembicaraan.
Enggan untuk membuat suasana di ruang tamu menjadi tidak nyaman, Levi memilih duduk di ruang makan. Mata menatap lurus ke satu titik. Mengamati bagaimana Mikasa sedang berbincang dengan Eren mengenai hal-hal kecil. Sesekali pria itu akan menyesap teh hitam untuk menghilangkan pening di kepala yang tak berhenti sejak semalam.
Pesan dari Petra benar-benar membuat Levi susah tidur. Pikiran melayang memikirkan banyak hal. Terutama tentang hubungannya dengan pemuda yang tinggal di seberang kamar apartemen.
KAMU SEDANG MEMBACA
MIZZLE [RIVAERE]
Fanfiction[Pemenang Watty 2021 Kategori Fiksi Penggemar] [BL] [BOY X BOY] Disclaimer: Karya ini mengandung tema boy x boy / BL (Boys Love) / Gay / dan sebutan lainnya. Silakan baca bagian deskripsi lebih teliti lagi bagi yang tidak menyukai cerita dengan tem...
![MIZZLE [RIVAERE]](https://img.wattpad.com/cover/209511630-64-k552156.jpg)