Arin dan Riki lebih memilih untuk makan ditempat yang tak jauh dari kampusnya Arin. Restoran dengan desain interior yang menurut Arin sangat menarik. Selain itu, karena letaknya yang strategis, yaitu berada dipinggir jalan, memudahkan para orang-orang yang ingin makan di restoran itu. Deretan menunya pun makanan khas asli Indonesia, menunjukan tanda bukti jika restoran itu mencintai negaranya, Indonesiaku.
Arin lebih memilih untuk duduk dipojok sambil menyenderkan kepalanya ke tembok bercat krem itu.
"Rin, mau pesan apa?" Tanya Riki sambil memberikan buku menu kepada Arin.
"Arin nasi bakar saja, lagi pengen itu." Jawab Arin.
"Oke."
"Mba, nasi bakar 1, nasi goreng spesial 1, sama-"
"Rin, kamu minumnya apa?" Tanya Riki.
"Samain aja."
"Oke, nasi bakar 1, nasi goreng spesial 1, sama es jeruknya 2."
"Ditunggu ya mas." Ucap pelayan itu sambil berlalu pergi.
Riki memperhatikan Arin yang sedang termenung, wajahnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Rin, kamu kenapa?" Tanya Riki lembut.
"Gapapa kok."
"Wajahmu tidak bisa berbohong, jujur saja kepadaku."
Susah sekali bagi Arin jika menyembunyikan sesuatu dari Riki.
"Tadi aku melihat Arga." Jawab Arin singkat.
"Hah, dimana?"
"Taman kampus. Bersama wanita yang waktu itu ia gandeng."
"Lho, tunggu-tunggu, Arga sekampus sama kamu?" Tanya Riki bingung.
Arin menggeleng tidak tau.
"Mau sampai kapan kamu terus begini dik?" Tanya Riki sambil menatap Arin sendu.
"Entah lah, yang pasti aku masih belum bisa moveon darinya."
"Bagaimana kamu bisa moveon dari dia, jika kamu saja masih suka mengingatnya? Arin, moveon memang butuh waktu yang cukup lama, tapi bagaimana halnya dengan kamu yang bahkan untuk mencoba meniatkan dirimu untuk moveon darinya saja tidak pernah?"
Jleb, perkataan Riki benar-benar menancap dipikiran Arin.
"Aku harus bagaimana?" Tanya Arin bingung.
"Lupakan Arga, hargai orang baru yang ingin membuatmu bahagia, ia bahkan sudah ada dikehidupanmu yang sekarang."
"Maksud mu?"
"Huhhhh." Riki menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku mencintaimu." Ucap Riki pelan tapi sarkas.
Arin menaikan alisnya sebelah.
1 detik
2 detik
3 detik
"HAHAHAHAHAHAH" Arin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Riki.
"Apa sih kamu, bercandanya ga lucu banget." Ucap Arin disisa-sisa tertawanya sambil memukul pelan lengan Arin.
"Aku serius." Jawab Riki pelan, raut wajahnya pun memang terlihat sangat serius.
"Maksudmu apa?" Tanya Arin yang mulai terbawa suasana.
"Aku mencintaimu, apa kalimat itu harus ku ulang berkali-kali?" Tanya Riki.
Arin terdiam, gadis itu bingung harus menanggapi bagaimana.
"Jangan bodoh Riki." Ucap Arin pelan.
"Bodoh kenapa? Apa aku salah mencintai seseorang yang telah membuatku nyaman selama 2 tahun belakangan ini?"
"Aku menganggapmu sebagai kakak ku Riki, tak lebih dari itu."
Perubahan raut terlihat jelas diwajah tampan Riki. "Apa salahnya kita mencoba dulu?"
"Maaf, aku tidak bisa. Hatiku sepenuhnya masih milik Arga."
"Kenapa kamu bisa sesayang itu sama Arga, padahal jelas-jelas sekarang dia sudah mempunyai penggantimu."
"Walaupun dia sudah menemui penggantiku, aku tetap mencintainya." Jawab Arin sambil sedikit tersenyum.
"Aku benar-benar mencintaimu Arin." Ucap Riki.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku hanya menganggapmu sebagai kakak ku, karena kamu persis dengan kakak ku yang sekarang sedang ada di Jakarta."
"Jangan anggap aku sebagai kakak mu. Aku ingin menjadi kekasihmu."
"Aku tidak bisa. Sudah ku bilang berapa kali, aku tidak bisa." Jawab Arin sambil beranjak pergi meninggalkan Riki beserta makanan yang sedang ia pesan.
***
1 kata buat Riki?
1 kata buat Arin?
KAMU SEDANG MEMBACA
Argarin 2
Teen FictionSEQUELNYA ARGARIN !!! DIHARAPKAN MEMBACA ARGARIN YANG PERTAMA DULU!!! ----- Jujur saja, setelah kamu pergi meninggalkan ku, aku jadi trauma untuk memulai cinta yang baru lagi. Aku jadi malas jika harus beradaptasi lagi dengan laki-laki yang berusaha...
