4 tahun kemudian..
Seorang gadis cantik sedang berjalan melewati beberapa gundukan tanah yang biasa disebut dengan kuburan. Ia terlihat sedang membawa keranjang yang berisikan bunga dan juga air yang berada di botol kaca. Setelah sampai dikuburan yang ia tuju, gadis itu langsung bersimpuh, layaknya seorang paduka kepada sang raja.
Ia menangis sejadi-jadinya sesambil menaburkan bunga diatas rumah peristirahatan terakhir bagi orang yang sudah pergi meninggalkan bumi untuk selama-lamanya.
Gadis itu memeluk batu nisan orang yang telah meninggalkannya, kemudian mencium batu nisan itu.
Sepertinya gadis itu masih belum bisa menerima kepergian seseorang yang sangat berarti dihidupnya.
"Arga, kamu baik-baik saja kan disana? Aku kangen Ga sama kamu, makanya aku kesini hiks..hiks" ucap gadis itu sambil menangis sesenggukan, yang tak lain dan tak bukan adalah Arin.
"Arga, apa kamu kangen juga sama aku?" Tanyanya lirih. Walaupun ia tau kalau tidak akan ada balasan dari pertanyaannya.
Arin malah semakin erat memeluk batu nisan Arga. Bahkan sepertinya, Arin tidak ingin pergi dari tempat peristirahatan terakhir Arga. Ia sangat nyaman disini. Gadis itu merasa jika Arga ada disisinya.
"Arga, kamu tau. Sekarang sudah banyak yang berubah. Shila yang sudah menikah dan sudah punya anak 3. Oh iya kamu harus tau Ga, Shila menikah dengan saudaranya, ia hamil duluan. Hm, Olivia dan Alaska juga sudah menikah Ga, bahkan mereka berdua sudah dikaruniai 4 orang anak. Ga nyangka ya Ga, secepat itu teman-teman kita menikah. Kalau Vira, dia masih mengandung anak pertamanya. Kalau si Indy tuh Ga, dia udah punya anak 2. Indy nikah sama teman kuliahnya Ga. Teman kamu tuh si Fino, Minggu kemarin dia baru nikah sama Dina. Iya Dina, teman SMA kita dulu Ga. Dhirga sudah punya anak, Rafa juga sudah punya anak. Kalau Rangga masih ngejomblo Ga. Dia masih mencari yang terbaik katanya. Kalo aku sendiri, aku masih berharap banget sama kamu. Aku ga menyalahkan takdir, mungkin memang ini yang terbaik buat aku dan kamu Ga, hiks..hiks. Tapi Ga, kamu harus tau, mama dan papa selalu nyuruh aku buat nikah, katanya mama papa sudah ga sabar mau gendong cucu dari aku Ga." Arin bercerita layaknya memang betul-betul ada Arga.
Suasana dimakam sangatlah sepi, hanya ada beberapa bunyi kicauan burung-burung, dan jangkrik. Makam Arga sudah usang, mungkin sudah lama tidak dibersihkan.
"Ga, kamu tau. Aku sudah wisuda. Aku sudah mendapat gelar Insinyur Ga. Kamu pasti senang dengarnya kan?" Ucap Arin. Gadis itu memaksakan dirinya untuk tersenyum sambil membiarkan air matanya berlinang membasahi pipinya.
Kring kring kring
Suara ponsel itu telah mengalihkan perhatian Arin. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan didalam tas selempang kepunyaannya, kemudian mengangkat sambungan telepon seluler itu.
"Halo? Iya, sebentar lagi aku pulang. Aku masih di makam mantan kekasihku, ku harap kamu mengerti Mas."
Tuuutt
Sambungan ponselnya terputus. Gadis itu sepertinya sengaja memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak ingin diganggu terlebih lagi jika saat ini ia sedang berada dimakam Arga.
"Arga, aku pamit pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini. Aku selalu menyayangimu." Ucap Arin sambil mencium batu nisan Arga.
Sebelum gadis itu beranjak, ia teringat 1 hal yang belum ia beritahu kepada Arga.
"Arga a..aku minta maaf. Bulan depan aku akan nikah."
Ucapnya sambil pergi meninggalkan makam Arga. Gadis itu terpaksa menikah, karena desakan orangtuanya yang selalu menyuruhnya untuk cepat-cepat memberinya cucu.
***
hoam
KAMU SEDANG MEMBACA
Argarin 2
Fiksi RemajaSEQUELNYA ARGARIN !!! DIHARAPKAN MEMBACA ARGARIN YANG PERTAMA DULU!!! ----- Jujur saja, setelah kamu pergi meninggalkan ku, aku jadi trauma untuk memulai cinta yang baru lagi. Aku jadi malas jika harus beradaptasi lagi dengan laki-laki yang berusaha...
