"Terus dia bilang, kalo dia itu mau nyusulin lo Yogyakarta." Ucap Rayhan yang langsung membuat Arin terdiam sejenak.
"Berarti benar ya pemikiran Arin, dia itu nyamperin Arin ke Yogyakarta karena dia cuma mau pamer pacar barunya doang." Lirih Arin sendu. Gadis itu menghela nafasnya, kemudian lebih memilih untuk terdiam.
"HAH? DEMI APA LO DIA UDAH PUNYA PACAR?" Tanya Rayhan heboh. Rayhan ini hebohnya sudah melebihi banci.
"Iya. Waktu itu pas Arin ketemu sama Arga disana, Arga lagi ngerangkul cewek. Mesra banget."
"WAAHHH, TAU GITU MENDING DARI AWAL SI ARGA GUE TONJOK, BIAR ITU ORANG MUKANYA BONYOK KAYA PANCI PENYOK."
"Dah lah, ga penting juga ngurusin dia."
Tak terasa, mereka berdua sudah tiba di rumah. Kedatangan Arin disambut dengan penuh cinta dan kasih dari kedua orang tuanya. Arin menuruni mobil, kemudian gadis itu langsung memeluk mamanya erat-erat.
"Mamaaaa, Arin kangennnn." Ucap Arin disela-sela air matanya. Winda membalas pelukan Arin. Ia tersenyum penuh haru.
"Eh, anak mama kenapa nangis? Ga boleh nangis dong." Ucap Winda sambil melepaskan pelukan Arin kemudian menghapus air mata di pipi putrinya.
Arin tersenyum, ia sangat merindukan momen kehangatan dan kebahagiaan keluarganya ini. Gadis itu memeluk papanya, ia juga sangat merindukan papanya.
"Arin sehat nak?" Tanya Ferdi, papanya.
Arin melepaskan pelukan, kemudian tersenyum menghadap ke papanya. "Alhamdulillah, Arin sehat pah."
"Yaudah, kamu masuk dulu yuk? Pasti cape kan? Mending kamu istirahat dulu. Oh iya jangan lupa makan siang ya sayang." Ucap Winda sambil mengecup kening Arin.
"Iya mah."
"Ray, bawain koper Arin ke atas." Perintah Winda kepada Rayhan.
Rayhan mengernyitkan dahinya. "Kok Ray si mah?"
"Kamu kan cowok."
"Lah, papa kan juga cowok."
"Papa bukan cowok Ray." Sambung Ferdi.
"Terus apa?"
"Papa itu pria." Balasnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Keluarga yang harmonis, bisa-bisanya tertawa disaat lawakan tidak lucu.
***
"Huhhh, akhirnya sampe juga gue dikamar kesayangan gue ini." Ucap Arin sambil menidurkan tubuhnya diatas kasur empuknya.
Gadis itu mengambil ponselnya kemudian ia mendapati ada notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia baru sadar, jika nomor itu pernah mengiriminya pesan juga.
Ia membuka isi pesan itu, kemudian membacanya.
"Sudah sampai Jakarta kan? Jangan lupa kita udah janjian, temui saya di Monumen Nasional jam 2."
"Ish, ini siapa sih? Kenapa ganggu hidup gue terus?" Rengeknya.
Arin melihat arloji ditangannya, waktu menunjukan pukul setengah 2.
"Gila aja, gue baru nyampe udah disuruh ke Monas." Keluhnya.
Tetapi sejujurnya, Arin sangat penasaran dengan si pengirim pesan misterius itu. Apa motifnya ia mengirimi pesan itu kepada Arin?
Dengan langkah gontai, Arin pergi menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya, baru saja gadis itu ingin membuka baju, tetapi tiba-tiba saja Rayhan masuk tanpa permisi. Rayhan melihat sekilas jika tadi Arin sempat ingin membuka bajunya.
Arin berlari ke arah Rayhan, kemudian memukuli dada bidang pria tampan itu. Ia mengunci pintu kamarnya sambil terus mengomeli Rayhan.
"DASAR BANG RAY CABUL. BELUM AJA GUE INJEK LO! OTAK MESUM DASAR. ADIKNYA MAU MANDI AJA PAKE SEGALA DIINTIPIN, MESUM EWHHHH!"
"Dih pengen banget di intipin lo ya? punya lo mah kecil Rin, ga ada nafsu-nafsunya gue!"
"AWAS AJA LO KALO PUNYA GUE GEDE, GUE SUMPEL MULUT LO!"
"Mau kecil mau gede, ga minat gue."
Daripada meladeni Rayhan yang bacotnya melebihi banci, lebih baik Arin pergi mandi.
Ketika semuanya sudah aman, ia membuka bajunya kemudian pergi memasuki kamar mandi, melaksanakan ritual mandinya.
15 menit kemudian, gadis itu telah selesai mandi. Ia mengambil jumpsuit pendek levis, dengan dalaman kaos putih. Arin memoles wajahnya dengan sedikit makeup. Kemudian ia membiarkan rambutnya terurai menjuntai ke bawah. Ia mengambil sepatu putihnya, kemudian tas kecil selempang karakter panda kesukaannya.
Setelah penampilannya ia rasa sudah cukup bagus, gadis itu pergi menuruni anak tangganya satu persatu. Beruntunglah Rayhan sedang dikamarnya, mama dan papanya pun juga sedang pergi, jadi ia bebas untuk pergi tanpa ada yang mengintrogasi.
Arin memesan taksi untuk mengantarnya ke Monas. Sesaat setelahnya, taksi datang. Kemudian Arin berjalan memasuki taksinya. Taksi melaju meninggalkan perkarangan rumah Arin.
Kring!
"Saya didepan pintu masuk menuju Monas. Kamu mengenakan baju apa? Biar saya tidak keliru?"
Arin membalas pesan itu. "Gue make jumpsuit levis dalemannya kaos putih."
Kring!
"Baiklah. Kalau sudah sampai, kabari saya."
***
Segini bae lahhhhh~
KAMU SEDANG MEMBACA
Argarin 2
Teen FictionSEQUELNYA ARGARIN !!! DIHARAPKAN MEMBACA ARGARIN YANG PERTAMA DULU!!! ----- Jujur saja, setelah kamu pergi meninggalkan ku, aku jadi trauma untuk memulai cinta yang baru lagi. Aku jadi malas jika harus beradaptasi lagi dengan laki-laki yang berusaha...
