Part 2 : Awal Pertemuan

2K 86 2
                                        

Seorang gadis yang tengah duduk dicafe, terlihat sangat asik bermain dengan gambarnya. Berulang kali ia menghapus, dan menyambungkan garis. Otaknya terus berputar kira-kira apa ada yang kurang dari gambarnya. Dari raut wajahnya saja sudah menunjukan jika ia tidak bisa diganggu saat itu. Dengan ditemani oleh segelas jus jeruk dan pancake durian disiang hari yang terik, tak membuat ia merasa jenuh. Karena memang jus jeruk merupakan salah satu jus kesukaannya selama ia melanjutkan pendidikannya dikota orang.

Kring.. kring.. kring..

Sial, seseorang yang menelponnya sudah membuatnya merasa terganggu.

Akan tetapi ketika ia melihat siapa yang menelponnya, sontak saja raut bahagia dan senang itu datang seketika dengan jelas diwajahnya yang cantik. Ia mengangkat sambungan telepon itu, kemudian seulas senyum terpancar jelas dibibirnya.

"Halo Arin, lo apa kabar disanaaa? Kapan balik ke Jakarta? Gila lo, kita semua kangen banget sama lo."

"Assalamualaikum dulu orang mah."

"Oiya astaghfirullah, assalamualaikum Arin."

"Waalaikumsalam indy."

"Lo kapan Rin ke Jakarta, kita semua kangen lo."

"Iya nanti, gue nyelesain gambar gue dulu."

"Kapan lo balik ke Jakarta Rin?"

"Lusa, lusa."

"Okey gue tunggu, akhir tahun kita semua pada mau liburan. Lo harus ikut ya Ibu Arsitektur?"

"Iya Ibu warteg."

"Sialan lo."

"Udah ah, gue mau ngelanjutin gambar gue dulu."

"Astaga, jadi sibuk banget deh lo Rin sekarang."

"Iyalah sibuk, dah ya babay induyyy."

"Okey deh, babay korinnnn. Gue tunggu lo di Jakarta. Sampe lo bohong, gue botakin lo."

"Gila lo hahahaha."

Kemudian Arin langsung memutuskan sambungan telepon selulernya dengan Indy dan lebih memilih untuk melanjutkan kembali gambarnya.

Menjadi mahasiswi jurusan arsitektur, tentu saja membutuhkan biaya yang cukup banyak. Disaat anak-anak jurusan lain cuma perlu ngeprint A4 hitam putih doang, mungkin anak arsitektur akan dipaksa oleh dosennya untuk ngeprint A3 atau bahkan A2 full color yang selembarnya sekitar 35ribuan. Bayangin saja kalo Arin disuruh ngeprint 10 lembar A2, udah kena 350 ribu, automiskin cuy~

"Sabar Arin, sebentar lagi gambarnya selesai huftttt.." ucap Arin sambil menenangkan dirinya, lalu menyeruput jus jeruk yang berada tepat didepannya, sambil memakan pancake durian nya.

Semenjak Arin menjadi mahasiswi jurusan arsitektur, waktu tidur yang berkurang sudah menjadi hal yang wajar untuk Arin. Arin sudah terbiasa kehilangan waktu tidur normalnya. Dan itu semua ia lakukan hanya untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh dosennya.

Walaupun terkadang tugas yang diberikan oleh dosennya sangatlah banyak, tetapi Arin tidak pernah mengeluh. Ia selalu mengerjakan tugasnya dengan santuy.

30 menit kemudian, gambar yang Arin buat sudah hampir selesai. Dengan begitu, sebentar lagi Arin dapat beristirahat dengan tenang.

Cafe ini sudah menjadi langganan selama Arin menjadi mahasiswi di kota Yogyakarta. Bahkan, Arin sendiri pun sudah akrab dengan para pelayan yang ada dicafe tersebut.

Ada salah satu pelayan yang selama 3 tahun belakangan ini telah menjadi sahabatnya Arin, yaitu Riki. Riki harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dikarenakan orang tuanya telah pergi meninggalkannya sejak Riki masih duduk di bangku SMP. Oleh karena itu, Riki sudah terbiasa bekerja sejak usia dini.

Setiap ada waktu luang, tak jarang Arin selalu bercerita kepada Riki perihal masa lalunya dulu dengan Arga. Arin bercerita bagaimana bahagianya dulu saat ia masih bersama Arga. Tetapi dengan waktu semenit saja kebahagiaan nya lenyap, hilang.

Baginya, Riki merupakan kakak. Seseorang yang akan selalu melindungi Arin. Seseorang yang akan marah jika Arin disakiti. Terlebih lagi jika ia melihat Arin menangis, rahangnya pasti akan mengeras, tangannya mengepal, dan tatapan matanya akan tajam.

Riki sendiri pernah meminta kepada Arin untuk mempertemukan dirinya dengan Arga. Arin sempat bertanya "Untuk apa?" Tetapi dengan santai Riki menjawabnya "Supaya aku lebih mudah untuk meninjunya." Benar-benar mengerikan cibir Arin.

"Rik, aku pamit pulang duluan ya?" Pamit Arin kepada Riki.

Arin mendapati Riki yang sedang sibuk mencatat pengeluaran dan pemasukan di cafe ini.

Riki mengangguk, kemudian tersenyum simpul. "Sudah selesai dek gambarnya?"

Arin sudah terbiasa dipanggil dek oleh Riki. Karena memang, seperti yang Arin bilang selain Arin menganggap Riki sebagai kakaknya, usia Arin dan Riki pun juga terpental jauh. Kalau sekarang usia Arin adalah 21 tahun, maka usia Riki adalah 26 tahun.

"Sudah Rik,"

"Owalah, oke deh. Hati-hati yo dek" ucapnya lembut.

Arin mengangguk sambil tersenyum. Ia berjalan meninggalkan cafe, kemudian pergi keluar berniat untuk menunggu becak yang lewat.

Selama Arin berada di Yogyakarta, sisi ketradisional Arin semakin menambah. Arin jadi lebih suka mendengarkan alunan musik berangklung di Malioboro. Bahkan, ia pun mulai mencintai makanan khas Yogyakarta. Padahal sebelumnya, ia sangat tidak menyukai.

Baginya, Yogyakarta merupakan kota indah yang membuat Arin menjadi lebih semangat dalam menghadapi kerasnya kehidupan ini. Arin mencintai Yogyakarta, seperti ia mencintai mantan kekasihnya yang dulu, Arga.

"Becaknya mbak?" Tanya seorang pengemudi becak yang kebetulan lewat didepan cafe langganan Arin ini.

"Iya pak."

"Yo wes, naik toh mbak."

Arin menaiki becak itu, kemudian becak melaju dengan pelan. Sekitar 5 menit Arin menaiki becak tersebut, Arin melihat sosok laki-laki yang sedang berjalan sambil asyik merangkul wanita yang ada disebelahnya. Jarak mereka berdua sangatlah dekat, bahkan Arin sendiri pun menduga jika mereka berdua mempunyai hubungan khusus. Kedua pasangan itu terlihat sangat bahagia, bahkan ia tak ada henti-hentinya tertawa. Entah apa yang mereka jadikan lelucon.

Arin mengenal betul siapa laki-laki itu.

"Pak stop pak," ucap Arin sambil sedikit berlari dan meninggalkan semua barang bawaannya didalam becak.

Becak berhenti, Arin mengejar laki-laki tersebut. Berharap jika ia akan dapat memberhentikan laki-laki tersebut. Matanya tak bisa berhenti ketika ia menatap laki-laki itu.

Jaraknya dengan laki-laki yang ia kejar hanya sekitar 100 meter saja. Ia terus berlari, sampai pada akhirnya Arin berhasil memukul pelan pundak laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya ketika ia melihat Arin. Wanita disebelahnya pun juga ikut menoleh ke arah Arin. Wanita itu menatap Arin dengan tatapan bingung.

Arin menutup mulutnya, tak menyangka jika ini adalah pertemuan pertamanya setelah sekian lama tidak bertemu. Yang lebih membuatnya tak menyangka adalah wanita yang berada disebelah lelaki itu, wanita itu terus berglendotan manja di lengan lelaki itu. Sepertinya ia tidak ada niat untuk melepaskannya.

"Aaarrr- argaaaa.." suara Arin serak dan parau. Tak kuasa menahan tangis, akhirnya ia menumpahkan semua air matanya.

Argarin 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang