"Tapi menurut kamu, kira-kira siapa yang menelponku ya?" Arin mencoba bertanya hal itu kepada Riki.
Riki mengendikan bahu tidak tahu.
"Jangan dipikirin dek. Nanti malah membuatmu kehilangan fokus. Mungkin orang itu salah sambung."
"Salah sambung? Tapi ko ia tahu namaku?"
Riki masih saja terdiam. Ia lebih memilih untuk mengabaikan gadis yang sedang duduk disebelahnya, tanpa menghiraukan pertanyaannya sedikit pun.
Arin merasa jika ia sedang diabaikan oleh Riki. Gadis itu mengambil langkah untuk pergi menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Riki menoleh begitu melihat Arin yang tiba-tiba saja pergi.
Riki berdiri, kemudian ia menarik pergelangan tangan Arin.
"Hei, mau kemana?"
"Ke atas."
"Lho kenapa?"
"Aku mau cerita ke tembok saja." Balas Arin cuek tanpa menatap wajah Riki sedikit pun.
Riki tertawa begitu mendengar ucapan Arin. Rupanya gadis itu sedang merajuk kepadanya. Riki mengacak-acak rambut Arin gemas. Ia tersenyum kemudian mencubit kedua pipi Arin.
"Aw, sakit." Pekik Arin sambil mengelus-elus kedua pipinya yang sakit akibat dicubit oleh Riki.
"Cie ngambek." Goda Riki sambil mencolek hidung mancung Arin.
Arin menepisnya pelan. Kemudian ia memegangi hidungnya. Dan tiba-tiba...
HATCHIMMMM
Arin bersin, gadis itu bersin tepat didepan wajah tampan Riki. Bukannya meminta maaf, tetapi Arin malah tertawa geli. Gadis itu memperhatikan wajah Riki yang sedang menatapnya jengkel.
"Jorok kamu dek." Ucap Riki datar.
"Bodo." Arin menjulurkan lidahnya.
"Awas saja kamu."
"Apa?"
"Aku kelitikin." Ucap Riki sambil mengelitiki perut Arin. Arin malah semakin tertawa keras. Berulang kali ia berusaha untuk menepis kedua tangan Riki, tetapi tetap saja ia tak kunjung bisa juga.
"Ah sudah ah." Ucap Arin disela-sela sisa tertawanya.
"Habisan kamu konyol sih, kan aku jadi gemes."
"Ah masa?" Tanya Arin dengan penuh selidik.
"Bodo."
"Ih udah gede keselan." Sindir Arin.
"Dah lah, aku ke atas dulu." Pamit Arin.
"Eh mau ngapain?" Tanya Riki.
"Mau prepare, kan lusa nanti aku mau pergi ke Jakarta."
"Aku ikut."
"Ikut apa?"
"Ikut kamu ke Jakarta."
"Buat apa Riki?"
"Supaya aku bisa terus jagain kamu dek."
Arin tersenyum kecil.
"Di Jakarta kan ada keluarga ku, kamu ga perlu risau. Aku bisa jaga diri baik-baik."
"Hm, yakin?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu. Eh iya tugas gambar mu sudah selesai?"
"Sudah Rik. Besok aku tinggal mengantarkan saja, tidak perlu ikut kelas."
"Lho, kenapa?"
"Aku sudah ngambil izin 2 minggu."
"Lama sekali dek."
"Iya, karena aku disana akan bertemu dengan teman-teman SMA ku dulu." Ucap Arin.
"Termasuk Arga?" Tanya Riki sambil memicingkan matanya menatap Arin dengan penuh kecurigaan.
Arin menghembuskan nafasnya pelan. "Kamu sudah lupa ya Rik? Arga ada di Yogyakarta." Lirihnya pelan. "Bersama perempuan yang waktu itu ia rangkul." Sambung Arin pelan.
Riki memeluk erat tubuh Arin, ia menenangkan. Ia paham jika saat ini kondisi Arin sedang tidak baik. "Jangan dipikirin terus."
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya?" Tanya Arin sambil melepaskan pelukan Riki. Menurut Arin, pelukan Riki adalah pelukan yang paling membuat dirinya merasa nyaman dan aman. Pelukan hangat dari Riki, sama seperti pelukan hangat dari mantan kekasihnya yang dulu, Arga.
"Bisa. Cobalah cari aktifitas yang menyenangkan, lambat laun kamu pasti bisa lupa dengan dia."
"Aku sudah mencoba, tapi selalu gagal."
"Itu tidak gagal dek. Tetapi kamunya saja yang belum niat."
"Baiklah mulai saat ini aku akan niat."
Riki mengangguk kemudian tersenyum singkat menatap Arin. "Aku pulang ya? Kamu siap-siap saja buat lusa. Yang penting, harus hati-hati, jaga diri kamu, jangan sedih terus, jangan mikirin dia terus, jangan lupa moveon ya dek, dan jangan lupa.."
Arin menatap Riki malas. Bisa-bisanya lelaki itu tiba-tiba mendadak jadi bawel kepadanya. Gadis itu menaikan alisnya sebelah. "Jangan lupa apa?"
"Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh yang banyak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Argarin 2
Teen FictionSEQUELNYA ARGARIN !!! DIHARAPKAN MEMBACA ARGARIN YANG PERTAMA DULU!!! ----- Jujur saja, setelah kamu pergi meninggalkan ku, aku jadi trauma untuk memulai cinta yang baru lagi. Aku jadi malas jika harus beradaptasi lagi dengan laki-laki yang berusaha...
