Part 3 : Air Mata

1.7K 65 3
                                        

"Aaarrr- argaaaa.." suara Arin serak dan parau. Tak kuasa menahan tangis, akhirnya ia menumpahkan semua air matanya.

"Arga? Kamu kenal yang sama dia?" Tanya wanita yang ada disebelahnya.

Yang? Apa Arin tidak salah dengar? Apa benar yang Arin duga jika wanita disebelahnya adalah kekasih Arga yang baru? Jika benar, kenapa secepat itu Arga melupakannya?

Arga mengelak. Ia tidak mau mengakui kalau dirinya mengenali Arin. "Aku tidak mengenali dia siapa."

"Arga, kenapa kamu ga mau mengakui kalau kamu mengenalku?" Lirih Arin, butiran bening itu mengalir deras dipipinya yang mulus.

"Heh, denger ya. Kalo gue bilang gue ga kenal, ya gue ga kenal sama lo! Harus berapa kali gue bilang kalo gue ga kenal sama lo?" Bentak Arga yang membuat Arin terpaku seketika.

Arga berubah 180 derajat. Arga yang sekarang berbeda dengan Arga yang dulu. Arganya yang dulu sangatlah baik, tidak pernah membentak Arin, bahkan untuk sekedar menteriaki Arin saja Arga tidak pernah. Berbeda dengan Arga yang sekarang. Arga yang sekarang jauh dari ekspetasi Arin. Ia jahat, suka membentak, bahkan menurut Arin, Arga memang sudah benar-benar membuang dirinya, melupakan dirinya, melupakan semua kenangan indah yang pernah ia lalui bersama Arin.

"Arga, ini aku Arin. Ga mungkin kamu ga kenal sama aku." Ucap Arin sendu.

Arga masih saja mengelak. "Gue ga kenal siapa lo. Dan 1 lagi, gue ga peduli lo siapa." Setelah berucap seperti itu, Arga pergi meninggalkan Arin di dalam keramaian yang ada di kota Yogyakarta. Anehnya walaupun ramai, Arin selalu merasa sendiri.

Mungkin ini sudah jalannya. Arin berbalik ke arah pengemudi becak yang sudah menunggunya diseberang. Gadis itu kembali menaiki becak sambil menghapus air matanya kasar.

Ia termenung sambil terus berpikir, mengapa Arga sejahat itu kepadanya? Mengapa Arga bisa secepat itu menemukan pengganti dirinya? Mengapa Arganya berubah? Mengapa Arga menjadi jahat? Mengapa Arga suka membentak-bentak Arin?

Terlalu lama berpikir, membuat kepalanya menjadi pening. Sepertinya ia memang harus membeli beberapa obat sakit kepala di apotek yang tak jauh dari rumahnya.

Harus kalian ketahui, Arin di Yogyakarta tidak ngekost ataupun ngontrak. Tetapi Arin sengaja dibelikan rumah oleh papanya. Walaupun rumahnya tidak sebesar dari rumahnya yang ada di Jakarta, tetapi setidaknya rumahnya yang ada di Yogyakarta sangatlah nyaman, suasananya pun sejuk, masih jauh dari polusi dan kemacetan.

Rumah Arin modelnya minimalis bernuansa modern. Karena Arin sangat menyukai aesthetic, maka warna rumahnya pun tak jauh dari warna krem, coklat muda, dan putih.

Sesampainya Arin di rumah, ia langsung meletakan semua barang bawaannya didalam kamarnya. Kemudian gadis itu segera bergegas pergi mandi.

Ia berharap jika ia dapat melupakan kejadian yang baru dialaminya barusan.

"Mbakyu, makanannya sudah siap." Ucap Bi Tata. Ia sudah bekerja dengan Arin sejak 2 tahun yang lalu. Arin pun sudah sangat akrab dengan Bi Tata.

"Iya Bi, sebentar lagi Arin selesai mandi."

15 menit kemudian Arin keluar dari kamar mandi, tentunya dengan wajah serta badan yang fresh.

Ia pergi ke kamarnya kemudian mengenakan celana pendek levis sepaha, dan kaos putih yang bergambarkan Doraemon. Setelah itu, ia menyisir kemudian memoles wajahnya dengan sedikit makeup yang natural, lalu segera pergi ke meja makan.

Arin makan dengan tenang. Kebiasaan Arin sejak dulu yaitu, ia selalu makan dengan waktu yang cukup lama. Arin tidak biasa makan cepat.

"Mbakyu, ojo lama makannya. Didepan sudah ada Riki." Ucap Bi Tata.

Dengan segera Arin meninggalkan piring yang masih terisi cukup penuh nasi beserta beberapa lauk. Arin menghampiri Riki yang menunggunya di teras depan rumahnya. Sudah menjadi hal biasa bagi Arin jika Riki main kerumahnya, walaupun hanya sekedar cerita-cerita saja.

"Rik?" Panggil Arin yang langsung membuyarkan lamunan Riki.

"Eh dek. Kamu sudah makan?" Tanya Riki.

Arin mengangguk sambil ikut duduk disebelah Riki.

"Owalah bagus deh."

"Rik aku mau cerita." Keluh Arin kepada Riki.

Riki menatap Arin bingung. "Mau cerita apa? Mau cerita tentang kecoa yang sudah mengganggu waktu belajarmu?" Tanya Riki sambil tertawa sekilas.

Arin menatapnya jengkel kemudian Arin terdiam.

"Eh iyaiya, mau cerita apa toh dek?"

"Tadi aku ketemu Arga."

Argarin 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang