"Yang sabar ya," Ucap Bagas menepuk-nepuk pelan pundak Hanif. Hanif menyingkirkan tangan Bagas dari bahunya dengan keras. Bagas yang mendapatkan pelakukan seperti itu dari Hanif tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
Hanif masih saja dalam mode merajuk-nya karena ia mendapatkan adik di luar ekspetasinya. Ia kira ia akan mendapatkan satu adik. Tapi Allah berekehendak lain, ia langsung di berikan tiga adik sekaligus.
"Udah kali ngambeknya. Emang kamu pikir kalo kamu ngambek bakalan di bujuk apa?" tanya Kanaya dengan tampang polosnya.
Hanif diam saja tidak menjawab pertanyaan dari Kanaya. Masih dengan kekesalan yang menajalar di hatinya. Ia berjalan mengahampiri Aira yang sedang bermain ponsel.
"Aira ikut 'Aa gak? 'Aa mau beli es krim." Dengan cepat Aira menyerahkan ponselnya ke arah sang mama lalu mengangkat tangannya kearah Hanif. Hanif yang mengerti dengan keinginan Aira membawa Aira kedalam gendongannya lalu pergi meninggalkan kamar rawat bundanya tersebut.
Kenzia menatap sedih kepergian anak sulungnya tersebut, ia merasa bersalah karena tidak memberitahu kepada Hanif jika ia hamil kembar 3. Memang selama ini Hanif selalu menanyakan kenapa perut Kenzia terlihat lebih besar. Sangat berbeda dari orang hamil pada umumnya.
Dan dengan santai Kenzia menjawab itu hanya perasaan Hanif saja. Hanif yang polos hanya mengangguk saja karena ia pikir mungkin itu memang hanya perasaannya saja.
"Aku salah ya?" Tanya Kenzia pelan tapi masih dapat di dengar oleh mereka semua yang berada diruang rawat Kenzia.
"Lo gak salah, Hanif hanya belum terbiasa. Tapi nanti dia bakal kebiasa kok. Jangan terlalu di pikirkan. Kasian anak lo nanti gak bisa dapet ASI dari lo karna lo nya banyak pikiran." Ucap Arsyla. Kenzia menganggukkan kepalanya. Tapi hatinya masih saja tidak enak.
"Kamu sih." Ucap Kenzia kepada Nabil yang masih setia duduk di kursi yang berada di samping brangkarnya. Nabil mengerutkan keningnya.
"Kok aku?" tanya Nabil kepada Kenzia.
"Memang nih, pasti salah Nabil kan makanya lo bisa hamil kembar 3." Ucap Doni dengan tampang tampa dosa miliknya.
Bimo menonyor bahu Doni kuat, "gak salah Nabil. Memang dia punya bibit ungulan. Bukan kayak lo. Sampe sekarang masih sendiri kemana-mana." Sontak mereka semua tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bimo tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Assalamu'alaikum." Mereka semua mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. Disana terlihat Rasya, Abyan, Talita, Abid dan Haura yang berada digendongan Abid.
"Wa'alaikumusallam," Jawab mereka.
" Muka lo semua kenapa gitu?" tanya Abyan heran melihat muka teman-temannya yang seperti menahan tawa.
"Yan, Di kantor lo ada karyawan jomblo gak?" Tanya Bagas.
"Banyak deh kayaknya. Kenapa?" tanya Abyan kepada Bagas.
"Tuh kenalin ke Bang Doni satu. Kasian gue ngeliatnya jomblo kayak gitu." Ucap Arsyla kepada Abyan.
Abyan tertawa begitu pula Abid, Rasya dan Talita. "Gak usah. Gue bisa nyari sendiri." Ucap Doni kesal.
"Emang Om Doni mau perempuan yang gimana sih?" Tanya Abid kepada Doni.
"Yang cadaran kalo ada." Jawab Doni asal. Mendadak hatinya tidak memiliki mood yang baik karena terus-terusan di pojokkan masalah jodoh jika ia sudah berkumpul bersama sahabat-sahabatnya ini.
Abid mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Doni. "Hanif kemana?" tanya Abid, karna sejauh matanya memandang. Abid tidak dapat menemukan sosok Hanif.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam Satu Dojo
Spiritual"Wa, lo mau gak?" Tanya Abid ambigu pada Marwah yang sedang memperhatikan adik-adik mereka yang sedang latihan gerakan dasar karate. "Mau apa? Jangan aneh aneh deh lo." Jawab Marwah dengan nada sedikit sinis. Abid tersenyum mendengar jawaban dari M...
