Sembilan Belas

6.7K 387 17
                                        

Reyhan menyambar kaus dalam, mengenakannya sambil melangkah cepat menuju mobilnya diparkir. Pertanyaan sang Ibu yang menatapnya heran di ambang pintu, sama sekali tak didengarnya. Dengan kecepatan penuh, ia melajukan mobil ke arah Metro.

Apa Ivy saat ini sedang menunggunya sambil menangis?

Ia menghela napas, sebenarnya masih sangat kesal pada gadis itu. Tapi mendengarnya begitu mengibai minta dijemput apalagi ini malam hari, ia menjadi tak tega.

Sudahlah. Tak usah ngambek lagi. Lebih baik ia memaafkan Ivy. Toh, gadis itu memang tak mengkhianatinya. Kecerobohannya yang membuat ia harus terjebak pernikahan dengan sahabatnya sendiri.

Reyhan segera melompat turun begitu sampai, memandang sekitar yang ramai. Di mana Ivy?

Sambil melangkah memasuki Candra, ia menoleh kanan-kiri. Ivy tidak tampak.

Reyhan merogoh HP, dengan cepat menyentuh tulisan 'Penyejuk Hati. Nada sambung terdengar dan akhirnya berhenti sendiri. Reyhan mengulangi. Nada sambung kembali terdengar. Untuk kesekian kalinya, panggilannya tak juga diangkat. Apa jangan-jangan ....

Reyhan akhirnya menekan nomer Evan. Tekan. 'Si Nakal' tertera di layar. Tak menunggu waktu lama, suara Evan pun terdengar.

""Halo, Rey."

"Van, apa Ivy bersamamu? Aku saat ini ada di Candra untuk menjemputnya. Tapi dia tidak ada!" katanya dengan suara cemas. Walau Ivy terkadang begitu ceroboh, tapi ia sangat menyayanginya. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.

"Ivy bersama adikku. Nenek ingin gadis pembawa sial itu datang ke rumah."

Reyhan menghela napas lega. Syukurlah kalau begitu.

"Aku sedang mengemudi. Kumatikan Rey."

Sambungan terputus. Reyhan membuka aplikasi WA. Lalu mengetik pesan.

Besok, datanglah ke rumah

***

Ruang tamu itu begitu hening meski tiga orang tengah duduk berdekatan. Ketiganya, sama-sama menatap ke arah televisi yang menyala tanpa suara, hanya sekadar mencari-cari apa yang bisa dilihat.

Tidak tahan pada situasi yang mendadak tegang, Reyhan akhirnya menatap sang Ibu, lalu berganti memerhatikan sang adik yang langsung menunduk. Reyhan menghela napas panjang. "Baiklah," ucapnya. Ia meraih kotak di hadapannya lalu membukannya pelan.

"Tapi, mana mungkin menikah dengan terburu-buru, Bu?" tanyanya setelah membuka kotak itu. Benda-benda di dalam kotak tampak berkilauan terbias cahaya lampu. Ada gelang, kalung, cincin, juga mas batangan.

"Kenapa tidak? Bukankah kekasihmu ingin kamu segera menikahinya?" sang adik menatapnya.

Reyhan membisu. Benar juga. Tetapi, benda-benda ini adalah pemberian mediang ayahnya di setiap ulang tahun ibunya. Haruskah ia memakainya?

Bu Desi menatap Reyhan penuh kasih sayang. "Pakai saja. Ibu sengaja menyimpannya. Gunanya ya ini, bisa dipakai saat benar-benar dibutuhkan."

"Tapi, ini kan dari Ayah." Reyhan terlihat ragu. Setelah Maya lulus kuliah sebentar lagi, ia pasti bisa menabung lebih banyak karena tak lagi membiayai kuliah sang adik.

"Kalau kamu menolaknya, itu sama saja membuat ibu merasa tak berguna. Jual saja. Ivy pasti sangat senang saat mendengarmu akan menikahinya."

"Atau aku berhenti kuliah aja, Kak. biar kakak bisa nabung buat nikah." Sama seperti sang Ibu, Maya kini ikut menatap Reyhan.

Reyhan menatap perhiasan dalam kotak yang seolah tengah menertawakannya. Ini milik ibunya. Peninggalan terakhir dari sang ayah sebelum meninggal karena diserang bandar narkoba yang memberontak tak mau menyerahkan diri. Apa ia tega memakainya? Tidak. Tetapi ....

Terpaksa Nikah (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang