"Sini, Vy, ikut aku." Ajak Evan, berkata dengan suara nyaris berbisik.
"Tapi, kenapa kamu mengajakku masuk ke kamarmu?" tanya Ivy dengan wajah heran.
"Karena sesuatu yang akan kuperlihatkan padamu ada di kamar, Vy."
Ivy menatap Evan dengan wajah curiga. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tak beres dengan lelaki di hadapannya ini. Dan meskipun waswas, ia akhirnya menyusul langkah Evan menuju kamar tamu. Ivy menatap sekeliling yang rapi. Sedikit kagum karena tenyata Evan suka kerapihan. Sebelum ditempati Evan, kamar ini selalu berantakan.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan padaku?" tanyanya, masih sambil mengamati sekeliling ruangan yang rapi.
Evan langsung membuka lemari, tangannya sigap meraih sesuatu. Ia langsung berikan benda di tangannya pada Ivy yang langsung membelalak tak percaya.
"Ini kan ...." Ivy tak melanjutkan ucapannya. Mulutnya terbuka.
Evan menjentikkan jari ke udara sambil tersenyum kecil. Aah, ia jadi teringat Tari. Setiap ia memberikan kejutan pada Tari, pasti ia akan menjentikkan tangan ke udara. Ia menarik napas panjang saat teringat wajah Tari saat menjenguk nenek tadi. Tari yang begitu sedih. Tampak sangat terluka. Juga terpukul. Bahkan sampai detik ini, ia masih sangat mencintainya. Namun untuk kembali memulai ....
Evan menggeleng pelan. Tidak! Membuka lembaran baru dengan Tari, berarti sama saja kembali menyakiti Tari. Ayahnya tak pernah menyukai Tari. Saat mereka masih bersama, ayahnya selalu menyuruhnya segera menyudahi hubungannya dengan Tari. Dan nenek ... sampai detik ini ia bahkan belym sepenuhnya percaya neneknya bisa begitu menyayangi Ivy.
Ia tatap wajah gadis yang terlihat cemberut itu. Mengamatinya lekat. Ivy tidak buruk. Sikapnya yang mudah sekali akrab entah kenapa membuatnya mulai merasa nyaman. Mungkin, sebaiknya ia mencoba menjalani pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya.
"Kenapa?"
"Yaaa masa aku pakai ini, Van." Ivy mengerucutkan bibir, terlihat begitu menggemaskan di mata Evan. Lelaki itu meraih benda di tangan Ivy lalu membalikkan tubuh gadis itu.
"Coba, Vy, kupakaikan," katanya sambil melinkarkan tangan di tubuh Ivy.
"Yang benar saja, aku gak mau, Van."
Namun akhirnya, Ivy memilih membiarkan saja Evan meletakkan benda yang terlihat membulat di perutnya, ia rasakan tangan Evan mengikat tali di bagian pinggangnya. Ia mengerucutkan bibir saat Evan membalikkan badannya sehingga kini mereka bertatapan dengan jarak yang begitu dekat.
"Aku tak terlihat langsing lagi, kan, jadinya." Protesnya sambil menurunkan dresnya. Ia menatap ke arah cermin dengan wajah cemberut. Ia mirip ibu hamil sekarang. Tangannya bergerak perlahan membelai perut.
"Apa aku terlihat seperti wanita hamil sungguhan?" Ivy memandang ke arah cermin, menatap dirinya.
Evan mengangguk, lalu tersenyum kecil. "Selama di dekat nenek, kamu harus pakai itu."
"Sampai kapan?" tanyanya. Tangan Ivy bergerak ke belakang lalu melepas tali yang membelit pinggangnya.
Evan menyahut lirih. "Sampai kamu benar-benar hamil."
KAMU SEDANG MEMBACA
Terpaksa Nikah (TAMAT)
RomanceIvy Swastika Maharani Terlahir dari keluarga berada, cantik, pintar, juga mandiri. Sayangnya, tak pernah berpikir panjang dan begitu ceroboh. Karena kecerobohannya, ia harus terjebak pernikahan dengan Evan, mantan pacar sahabatnya yang selalu jute...
