Tiga Puluh Tujuh

5.8K 458 48
                                        

"Yaang, tunggu! Yaang!"

Ivy pasti sudah berlari mengejar Reyhan jika saja Evan tak mencekal lengannya cukup kuat. Nenek menatap Ivy lalu ke arah Reyhan yang baru saja pergi. Wajahnya terlihat bertanya-tanya.

"Siapa dia?" Nenek memandang Ivy.

"Dia Reyhan, pacarku, Nek."

"Apaa?"

"Mantan pacarnya, Nek." Evan langsung menimpali.

Nenek mengangguk, wajahnya yang tadi ramah kini begitu sinis.

"Seseorang yang sudah menikah, maka tak boleh lagi memikirkan lelaki lain. Suamimu itu Evan, apa kamu tidak mempedulikan perasaan cucuku?" Nenek menatap tajam.

Ivy mengangguk. Benaknya berkecamuk. Mungkin, sebaiknya ia berterus terang sekarang. Mungkin ini saat yang tepat.

"Nek, dia memang pacarku. Baik dulu maupun sekarang. Aku dan Evan menikah karena kesalahan, Nek. Aku yang bersalah, Nek. Aku merusak  pernikahan Evan karena ingin membalaskan sakit hati temanku. Nek, aku tidak hamil. Semua adalah salahku. Tari, maafkan aku. Van, maafkan aku." Ivy berkata cepat tanpa berani memandang nenek. Sungguh lega rasanya bisa mengatakan semua ini.

"Jadi, jadi ...." Nenek menatap Ivy dan Evan dengan pandangan tak percaya. Tangannya yang berhias gelang emas bergerak cepat ke arah dada yang tiba-tiba terasa berat. Jantungnya mengentak kuat menahan kesal. Wajahnya yang memerah karere amarah tiba-tiba terasa kebas. Begitu pun dengan mulut. Juga tangan. Evan berlari mendekat saat tubuh nenek terlihat sempoyongan yang segera diikuti oleh Ivy dan Tari. Beberapa pelanggan di toko itu langsung berlarian mendekat, dua lelaki membantu membopong nenek hingga masuk ke dalam mobil. Evan langsung melesatkan mobil dengan kecepatan penuh, beberapa kali mengklakson pengendara lain dengan tak sabar. Di samping nenek, Ivy tak henti meminta maaf. Sementara Tari hanya diam. Kesedihan tergurat jelas di wajahnya melihat betapa ringkihnya wanita tua yang amat disayanginya itu.

***

Ivy memandang Evan yang terlihat gelisah di kursi tunggu di sampingnya duduk. Ia menatap ke arah pintu yang menutup di mana nenek tengah ditangani dokter. Ia menghela napas dalam, tak menyangka ucapannya akan membuat nenek terbaring di rumah sakit. Walau ia tak sengaja melakukannya, tetapi tetap saja ia merasa bersalah.

"Van, aku minta maaf, aku tidak bermaksud ...."

Ivy berhenti berkata saat tangan Evan terangkat dengan telapak tangan menghadap ke arahnya. Ia tak bermaksud membuat nenek jatuh sakit. Di samping Evan duduk, Tari hanya terdiam. Sesekali gadis itu menatap layar HP-nya.

"Van, aku harus kembali bekerja. Aku tak bisa lama-lama di sini."

Evan mengangguk. Tari lalu menatap Ivy yang terlihat begitu menyesal. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk pelan bahu gadis yang terlihat sangat menyesal itu.

"Nggak ada akibat tanpa sebab. Sebaiknya di lain waktu, setiap tindakan harusnya dipikirkan terlebih dulu."

Ivy memandang Tari, lalu terisak. Ucapnya, "Aku hanya ingin kebenaran segera terungkap. Hanya itu."

Tari menatap Ivy, benar-benar tak habis pikir. "Tapi seharusnya kamu tau keadaan nenek. Nenek sudah tua. Sering kambuh darah tingginya. Kamu seharusnya bicara pelan-pelan pada nenek. Bukan seperti tadi."

Tari tak bermaksud menyalahkan Ivy, tetapi ia begitu kesal sampai tak sadar jika ucapannya telah menyudutkan Ivy. Gara-gara Ivy, pernikahannya batal. Hanya gara-gara alasan konyol tak masuk akal.

Ivy mengangguk-angguk sambil terisak.

"Memangnya dengan kamu menangis, nenek akan segera bangun? Lebih baik, berdoa pada Allah agar nenek diberi kesembuhan."

Terpaksa Nikah (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang