Mystic Apartement 13

928 63 18
                                        

Kenyataan dan Kebohongan (Part 3)

.

Jadi setelah meninggalkan kamar apartemennya Blaze pun bergegas turun ke bawah secepat mungkin. Siapa sangka Ice yang biasanya mageran ternyata sudah lebih dulu menunggunya disana. Sembari menyamakan langkah keduanya secepatnya keluar dari dalam halaman rumah susun bertingkat dua tersebut untuk menuju tempat perjanjian mereka hari ini.

Yaitu halte bus yang terletak tepat di depan kompleks perumahan mereka.

Untuk menghindari kecurigaan mereka berangkat terpisah-pisah. Lalu Yaya yang sudah lebih duluan ada disana bersama adiknya terlihat tengah menanti kedatangan dua bocah dengan penampilan kontras, biru dan merah itu.

Derap langkah keduanya pun segera memecah keheningan disana, hingga membuat gadis dengan kerudung pink itu membalikkan tubuhnya. Ia pun tersenyum begitu mengetahui itu adalah Blaze dan Ice yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu kehadirannya. "Blaze! Ice! Selamat pagi!" sapanya ceria sembari melambaikan tangannya dengan tinggi ke udara.

"Pagi Nee-san!" yang segera dibalas oleh kedua anak itu dengan tak kalah bersemangatnya.

Sembari tersenyum gadis berjilbab itu langsung menghampiri keduanya. "Wah... Kau benar-benar bisa ikut hari ini, kupikir tadinya kau akan tinggal Blaze. Ngomong-ngomong kau sudah izin dengan Kakakmu kan?" dan menanyakan hal yang sangat tidak terduga.

Blaze bergidik seketika itu juga, bulu kuduknya sampai merinding saat Yaya bertanya soal itu. "S-Sudah kok... Katanya nggak pa-pa" jawabnya terbata

Yaya nampak mengernyit sembari menempelkan tangannya ke dagu dan memasang pose berpikir. "Tumben sekali Halilintar ngasih izin." Gumam gadis itu.

"E-Entahlah... Mungkin dia kesambet sesuatu kali" sahutnya bocah bermata merah itu lagi.

Sementara itu, Ice disampingnya hanya bisa memperhatikan dengan tatapan yang seperti berkata 'yang bener aja loe'. "kayaknya gak izin sama sekali deh" batinnya berkomentar.

~M.A~

Beberapa saat kemudian, setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai pada terminal pertama menuju tujuan mereka.

"Oi, ini seriusan kita mesti lewat sini?" ujar Blaze penuh keraguan menatap pada adik dari Yaya yang ada dihadapannya.

Mereka berempat tampak berdiri mengelilingi sebuah penutup saluran air limbah bawah tanah pada sebuah pojokan gedung yang begitu sepi.

"Mau gimana lagi, menurut petunjuk dari foto-foto acak yang ada di memory card, markas komplotan itu ada di dalam gunung dan satu-satunya jalan kesana harus lewat bawah tanah. Yang terakhir, petunjuk itu mengarahkan kita kesini" sahut Totoitoy menganggapi dengan agak malas sambil membuang nafas berat.

"Memang sih, kalau dilihat dari posisinya tidak akan ada yang memperhatikan jika seseorang keluar masuk lewat sini" timpal Yaya berpendapat.

Blaze pun meluruskan punggung dan berbalik menghadap arah lain. "Tapi apa nggak ada jalan lain? Terowongan gitu. Kita nggak bisa seenaknya ngebongkar fasilitas umum" protesnya dengan begitu cerewet.

"Udah kebuka tuh" Namun kemudian Blaze sukses dibuat bungkam, ketika ia berbalik dan mendapati Ice sudah memegangi piringan besi bulat berat yang merupakan penutup dari lubang menganga di bawah. Sepertiinya selagi Blaze asik mengoceh ini itu, Ice justru sibuk berjongkok dan mengutak-atik penutup got dibawahnya. "Penutupnya longgar, sepertinya karena sering dibuka tutup. Tidak salah lagi, pasti ada orang yang lewat sini" tambah Ice dengan wajah datar.

Fanfiction ElementalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang