Mystic Apartement 12

769 54 8
                                    

Kenyataan dan Kebohongan (Part 2)

.

Malam harinya, setelah apa yang terjadi pada Blaze sebelumnya hingga menyebabkan satu lingkungan sekolah terbakar, para pasukan SHAMAN dari sektor Tokyo pun berkumpul disana untuk mengurus sisa-sisanya. Memadamkan kebakaran, merapikan tempat itu seperti semula dan menghapus semua jejak yang tertinggal. Sementara anak itu sudah lebih dulu diamankan oleh Kakaknya.

"Maaf kami terlambat!" dari kejauhan tampak seorang bocah berambut hitam kelabu sedang terburu-buru menuju ke sana. Tak jauh di belakangnya seorang gadis ikut berlari mengekornya. Gadis itu memakai jaket hijau bertudung, rambutnya panjang berwarna kecoklatan dan dikepang dengan rapi.

Kedatangan keduanya sontak membuat seisi regu itu menoleh pada mereka.

"Senpai! Shielda-san! Disini!" sambut seorang gadis anggota SHAMAN berambut navy, Lucky dengan begitu ceria.

Dengan cepat keduanya pun langsung menghampiri si gadis serta pemuda berambut pirang yang merupakan rekannya satu timnya tersebut.

"Maaf... aku tidak membaca pesan lebih awal" ujar Shielda membungkuk meminta maaf pada senior-seniornya tersebut.

Lucky hanya tersenyum lembut padanya. "Tidak pa-pa, Tidak pa-pa~ Yang penting kau sudah disini sekarang" hiburnya.

"Bagaimana keadaannya?" kali ini Totoitoy angkat bicara untuk menanyakan kondisi sekolah yang terbakar hebat tersebut. Karena saking berbahaya nya bahkan beberapa meter dari tempat ini sampai dipasangi garis polisi.

"Tidak bagus. Kebakarannya sangat besar. Dan karena angin kencang, api mulai merambat sampai ke fasilitas sekolah yang lain." Jawab Zero.

Jawaban tersebut sontak saja membuat dua orang yang baru datang itu melongo lebar saking kaget dan paniknya.

Totoitoy menoleh pada gadis di sampingnya dengan tatapan penuh kepercayaan. "Shielda-san, kuserahkan padamu" ucapnya.

Gadis berambut kepang satu itu mengangguk mantap. Kemudian ia merentangkan satu tangannya tinggi ke udara dan mulai merapalkan 'mantra'(?). Kedua manik gioknya secara pelan berubah menjadi kemerahan seperti warna darah.

"Dengan penuh hormat atas perjanjian yang kita buat dengan ini aku memanggilmu...

Datanglah! Dewa penjaga gerbang utara! Sang Kura-kura Hitam!

GENBU!"

Ribuan gelembung air tampak bermunculan dan melayang-layang di udara, terbang ke atas menuju satu titik dan berkumpul menjadi satu kesatuan. Perlahan tapi pasti benda-benda itu mulai membentuk suatu wujud hewan.

Setelahnya air-air itu memadat dan dengan sempurna memunculkan sosok seekor kura-kura raksasa dengan ekor berupa ular hitam. Makhluk dengan dua spesies dalam satu tubuh itu melirik pada sang gadis yang sudah memanggil mereka kesana.

"Halo Shielda-chan~ Ada perlu apa hingga kau memanggil kami?" sapa Sang kepala berbentuk kura-kura itu lembut. Dari suaranya sepertinya dia perempuan.

"Katakan saja kami akan langsung melaksanakannya"timpal ekornya yang berbentuk ular tersebut dengan nada suara cempreng kekanak-kanakan.

Shielda yang belum lama kenal dengan keduanya karena baru mengetahui tentang kekuatannya tentu dibuat canggung dan gugup. Bahkan ini adalah pertama kalinya ia mendapat misi bersama dengan seniornya yang lain. Memang anggota yang bukan atau setengah manusia sudah ada sejak dulu, namun kasusnya ini berbeda, Shielda baru saja menyadarinya beberapa bulan lalu jika dia hampir bukan manusia.

Fanfiction ElementalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang