Mystic Apartement 8

1K 61 6
                                        

Jangan berpikir (Part 1)

.

2 April, Musim semi.

Seminggu setelah waktu perkuliahan pertama di Universitas Tokyo pun tiba. Saat ini di ruang kelas yang terbilang sangat panjang kali lebar itu, seorang gadis nampak duduk di bangku perkuliahan yang sudah di sediakan sambil sibuk mempersiapkan segala alat tulis untuk mencatat apa yang nanti akan diterangkan oleh dosen yang mengajar kelas tersebut.

Sementara itu tepat di sampingnya ada seorang mahasiswa lain dengan manik zamrud dan wajah polos khasnya, siapa lagi kalau bukan Thorn. Ia tampak sibuk mengunyah snack untuk mengisi energi sebelum dosen memasuki kelas dan memulai pelajaran.

Jika anda bertanya-tanya kenapa Thorn yang berbeda jurusan bahkan fakultas dengan Yaya bisa ada di kelas yang sama. Itu karena mata kuliah yang diberikan adalah mata kuliah umum yang bisa diambil semua mahasiswa dari jurusan manapun.

Ngomong-ngomong Yaya itu jurusan kimia dan Thorn itu jurusan pertanian.

Tak lama kemudian ada seorang mahasiswa lain juga memasuki kelas tersebut dan mulai sibuk mencari bangku yang kosong. Hingga akhirnya dia menemukannya paling pojok tepat di sebelah Yaya. "Anu... permisi. Apa sebelahmu masih kosong? Boleh aku duduk disini?" tanyanya sopan.

"Iya. Silahkan" Yaya berbalik pada mahasiswa tersebut setelah selesai mengambil benda yang dibutuhkannya dari dalam tas. Begitu menoleh tampaklah di matanya sosok pemuda berambut hitam lebat dan sepasang bola mata berwarna delima. Tentu saja sontak keduanya sama-sama tercengang dengan mulut menganga lebar.

Benar kan? Bahkan Halilintar yang dari jurusan hukum publik pun ada disini.

krik...krik...

Setelah cukup lama terdiam akhirnya si vampir bermata ruby pun angkat bicara. "J–Jangan salah sangka ya!? Aku sama sekali nggak ada maksud mengikutimu! Dalam 'kartu rencana studi' ku memang ada mata kuliah bahasa inggris! Cuma itu saja kok!" cerocosnya mencoba untuk berkelit dengan pipi memerah juga gaya dan ekspresi tsundere nya yang cukup khas.

"Aku belum ngomong apa-apa..." gumam Yaya sambil bersweat drop ria.

Sambil mendengus keras dan amat sangat terpaksa Halilintar langsung meletakkan tas di atas meja di sebelah gadis berhijab tersebut.

Yaya bergeser untuk memberikan cukup ruang agar Halilintar bisa duduk.

Jujur ia agak bingung, akhir-akhir ini cowok dengan manik delima itu agak sedikit aneh semenjak kejadian dua minggu yang lalu. Dia seperti menjaga jarak dengannya, bisa dilihat pemuda itu agak sedikit risih saat duduk di sampingnya sambil asik melipat tangan. Kalau wajah ketusnya itu sih sudah biasa.

Halilintar marah padanya ya?

"Kenapa?" hingga tiba-tiba sebuah pertanyaan singkat dari Halilintar sukses mengejutkan Yaya.

"Eh? T–Tidak." sahut Yaya spontan karena kaget. "Anu... Aku minta maaf kalau membuatmu marah karena waktu itu" lanjutnya lagi dengan tatapan memelas.

Halilintar diam dan sempat mengerjap beberapa saat. "pffft..." sebelum akhirnya dia tak mampu untuk menahan tawa. Sambil memalingkan wajah, ia pun asik cekikikan sendiri.

Fanfiction ElementalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang