Anastasya

37 8 1
                                    

Anastasya

A-nas-ta-sya...

Bibir bergetar setiap kali aku menyebut nama itu, hatiku kelu mengingat nama yang selalu kusebut itu pernah berada dalam dekapanku, sekarang yang tersisa dari dia hanyalah seonggok badan yang dingin. Sulit mengingat terdapat senyum yang hangat pada wajah tanpa ekspresi itu.

Apakah yang aku lakukan ini akan berbuah karma? Tapi semua ini demi cinta.

Demi cinta...

Semua orang akan melakukan apapun demi seseorang yang dicintainya.

Aku tersenyum, geli dengan kalimat cliche tadi. Tidak dapat dibayangkan seorang pria sepertiku, yang asing dengan namanya cinta, akan melakukan apapun untuk orang yang dikasih.

Tetapi ini untuk Anastasya..

Matipun aku rela agar dapat mencumbu dia lagi. Merasakan kenyal bibir merahnya, kulit putih mulusnya memberi kehangatan di tengah malam.

Aku ingin merasakan semua itu lagi. Sehingga setelah memikirkan semua konsekuensi yang kan kuambil, aku memutuskan untuk membawanya kembali.

Biarlah aku disebut sang pendosa, biarlah aku menyalahi aturan alam semesta bila memang itu gelar yang patut aku sandang.

Setiap langkah yang kuambil setelah mengangkat mayatnya dari kubur terasa ringan, seolah Iblis merestui perbuatanku dan membantuku.

Belatung berhasil menembus kulit cantiknya, memakan bola matanya yang indah.

Oh Anastasya... Sungguh terbuang percuma kecantikanmu, namun kau tidak perlu khawatir, akan kubangkitkan dirimu. Agar semua makhluk di langit dan di bumi terpukau akan keindahanmu. Dan aku senang... Sebab akulah pemilikmu.

Setelah perjalanan panjang yang diiringi cahaya bulan, aku berhasil membawanya kembali ke rumah, di mana kita pernah saling bergurau dan bermesraan, melupakan semua kata-kata pembenci yang beracun.

Aku letakkan Anastasya di atas meja makan.

"Silahkan." Kataku.

Di sudut tergelap, muncullah seorang pria berkulit pucat seakan tidak terkena sinar matahari selama bertahun-tahun. Dan jenggotnya tidak pernah dia rawat sehingga memberikan kesan berantakan. Dia mengeluarkan botol sampel kaca yang berisi cairan hijau dari kantong jas labnya.

"Apa kau yakin?" Tanyanya.

Aku mengangguk.

Pria berjas lab itu mengambil cairan tersebut dengan spuit dan langsung menyuntikkannya ke kulit Anastasya.

"Berapa lama aku harus menunggu?"

"Tergantung, tapi perkiraanku istrimu akan bangkit dua jam lagi." Pria itu membuang spuit ke dalam tempat sampah. "Jadi... Mari kita beristirahat sebelum datangnya kebangkitan."

Aku ingin melihat langsung ketika istriku hidup kembali, namun aku kelelahan dan mataku terasa sangat berat. Pada akhirnya aku jatuh tertidur.

Aku merasakan goncangan dan membuka mata. Rupanya pria berjas itu membangunkanku, dia berkata sebentar lagi istriku bangkit.

Aku dapat melihat di balik kelopak mata Anastasya yang terpejam, bahwa bola matanya bergerak dan aku mendekatkan telingaku ke dadanya untuk mendengarkan tanda-tanda kehidupan.

Irama jantungnya terasa walau sangat pelan. Bagaikan bayi yang baru terlahir di dunia.

Aku meneteskan air mata.

"Akram..." Badanku bergetar ketika suara yang familiar dan sangat aku rindukan menyebut namaku dengan begitu syahdu.

Oh Anastasya... Kau bangun dari tidur lelap yang panjang, dan kata pertama yang kau ucapkan adalah namaku? Kau membuatku sangat senang.

Aku menatap mata Anastasya yang telah terbuka, dan dia balas menatap mataku balik. Cahaya lampu memantul dari bola matanya, dia bangkit namun aku tidak merasakan kehidupan dari mata tersebut.

Tetapi tidak jadi masalah, dia tetap Anastasya-ku... Dengan erat aku memeluk tubuhnya, aroma mayat menusuk hidungku. Setelah ini aku akan memandikannya, membersihkan seluruh binatang dan kotoran yang melekat di tubuh Anastasya.

Setelah menerima bayaran yang besar, pria berjas lab itu pergi.

Aku memandikannya teramat berhati-hati, takut bila setiap sentuhanku akan menyakitinya.

"Lapar..." Anastasya berbisik.

"Apa kau ingin makan?" Tanyaku. "Setelah ini aku akan memasak makanan untukmu."

Anastasya diam, dan aku lanjut membersihkannya.

Spaghetti telah masak, sebenarnya aku ingin membuat makanan yamg lebih mewah untuk merayakan hari ini. Namun bahan makanan kurang, sehingga aku menggunakan bahan yang ada saja.

Sambil mengunyah, aku memandang Anastasya. Dia hanya diam memandang spaghetti miliknya. Mengapa Anastasya tidak menyentuh makanannya? Bukankah dia tadi berkata bahwa dia lapar?

"Aku tidak ingin makan ini." Bisiknya.

"Terus kau ingin makan apa?" Tanyaku sambil menyentuh lembut pipinya, kulitnya dingin.

Dia menunjuk diriku.

"Aku ingin memakanmu." Katanya datar.

Aku terdiam dan sedikit menjaga jarak. Dia masih memandangku seakan berharap kalau aku memperbolehkannya untuk memakanku.

"Anastasya... Haha kau pasti bercanda kan?"

Dia menggeleng. "Tidak Akram, aku tidak berselera dengan masakan ini. Aku hanya ingin memakanmu, oh Akram... Mengapa kau menghidupkanku kembali? Bukankah ini menyalahi takdir?"

Anastasya mendekatiku.

"Akram. Kau harus bertanggung jawab, tubuh ini tidak selayaknya lagi untuk merasakan kotornya dunia fana. Rohku telah bahagia di alam sana. Mengapa kau menghidupkanku kembali?"

Tanpa kusadari dia telah memegang pisau. Dengan tatapan ingin membunuh, dia berlari ke arahku dan siap untuk mengayunkan pisau tersebut.

Tepat sebelum dia berhasil menancapkan benda tajam itu di tubuhku, dia tergeletak di lantai.

Aku menatap jam tangan. 'Lebih cepat daripada dugaanku.' Pikirku.

Jantungku berpacu dengan kencang, harus kuakui kejadian tadi cukup membuatku takut. Aku tidak menyangka Anastasya berniat membunuh dan memakan suaminya sendiri.

Pria berjas lab tadi berkata akan ada beberapa hal kejadian di luar dugaan, dan dia menyuruhku untuk tetap siaga.

Aku membuka koper yang diberikan pria berjas lab, dan menghitung sisa botol sampel kaca.

Ada 15, itu artinya aku bisa menghidupkan Anastasya tercintaku 15 kali lagi. Dan bila cairannya habis, akan aku membelinya lagi.

Akan kuhidupkan lagi Anastasya tercinta, tidak akan kubiarkan satu detikpun hidupku tanpa kehadirannya. Anastasya akan mati dan dikubur bersamaku.

Aku akan menyuntikkan cairan hijau ke dalam tubuh Anastasya. Tetapi sebelum itu aku harus mengikat Anastasya, berjaga-jaga kalau dia berniat untuk memakanku lagi.

-Tamat-

A Bed Time StoriesWhere stories live. Discover now