"Aduh, kok lenganku sakit, ya," kata Aleena yang baru saja bangun.
Tok, tok, tok!
"Non, gak sekolah? Udah jam enam lewat, lho," panggil Bi Surti.
Aleena tidak menggubris panggilan dari asisten rumah tangganya itu. Sebab ia tengah menahan rasa sakit di lengan kirinya.
"Kenapa lenganku sakit, ya? Apa yang terjadi kemarin?" gumam Aleena berusaha mengingat kejadian kemarin.
"Oh, iya. Kemarin kak Clarisa dan kak Meisya menghadangku, dan ... kak Clarisa menyayat lengan kiriku," ujarnya. "Kukira sakitnya cuma sebentar. Ternyata sakitnya masih terasa sampai sekarang."
Suara Bi Surti sudah tidak terdengar lagi. Sepertinya hari ini Aleena tidak akan masuk sekolah dulu. Ia ingin mengobati lukanya ke dokter.
"Dek, kamu udah bangun belum?" Suara Seno terdengar dari balik pintu. Namun, ia tidak menggubrisnya sama sekali.
"Dek, kakak masuk, ya."
"Gawat! Bisa-bisa dia liat noda darah ini. Gimana, nih? Gimana caranya supaya kak Seno gak masuk?" gumamnya panik.
Ceklek!
Terlambat! Kakaknya sudah masuk.
"Dek, kamu udah bangun? Kenapa gak jawab kakak? Kamu sakit, ya?" kata Seno menghampiri adik satu-satunya itu dan duduk di sampingnya.
"Gak, kok. Aku gak apa-apa, Kak."
"Kenapa kamu gak ganti baju seragamnya? Itu lengan baju kamu kenapa merah-merah?" ucap Seno memegang lengan baju adiknya. Ia tak sengaja menyentuh luka sayatan itu.
"Aww." Aleena menepis tangan kakaknya. Walaupun luka itu sudah tertutupi perban, tetap saja terasa sakit jika dipegang.
"Eh, kenapa?" Seno mengangkat lengan bajunya sedikit. Betapa terkejutnya ia melihat perban yang terdapat noda merah itu. Atau lebih tepatnya terkena darah.
"Kenapa lengan kamu, Dek?! Kita ke dokter, ya?"
Aleena bingung menjawab semua pertanyaan darinya. Ia bingung mau menjawab apa. Oleh karena itu, ia ikut saja saat dibawa ke dokter.
***
"Lengan adik saya lukanya parah gak, Dok? Membahayakan gak?" ucap Seno khawatir. Sedangkan adiknya santai-santai saja.
"Tidak membahayakan kok. Lukanya juga tidak terlalu lebar, tapi lumayan dalam. Sepertinya butuh waktu beberapa minggu untuk lukanya menutup sempurna," jelas dokter wanita itu.
Seno mengangguk kecil tanda mengerti. "Udah boleh pulang, Dok?"
"Sudah," ucap dokter itu singkat. Aleena segera bangkit dari ranjang, ia keluar bersama kakaknya dari ruangan serba putih itu.
***
Sampai di rumah, bukannya disuguhkan makanan atau minuman. Namun, malah ocehan-ocehan menyakitkan telinga yang ia dapatkan dari kakaknya.
"Siapa yang udah lukai kamu, ha?!" Belum sempat ia menjawab, kakaknya malah langsung melanjutkan ucapannya.
"Jangan bilang karena gak sengaja! Kakak gak akan percaya. Alasan itu udah terlalu sering kamu ucapkan dulu! Kamu di-bully lagi, ya? Iya, 'kan?"
'Ya Allah, Ya Rabbi, Ya Karim ....
Gimana caranya Al jawab pertanyaan demi pertanyaan dari kak Seno, kalau setiap selesai satu pertanyaan ia malah mengajukan pertanyaan yang lain. Ya Allah, pusing kepala Al dengernya,' Aleena menggerutu dalam hati. Tak tahan dengan ocehan kakaknya, ia pun angkat bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aldeva
Teen FictionSelamat membaca❤ Kritik, saran, tanggapannya dibutuhkan. [BELUM DIREVISI] TERBIT✅ _____ Menaruh hati pada sahabat lama bukanlah suatu kesalahan baginya. Namun, karena ia sudah memiliki kekasih, itulah kesalahannya. Maka keputusan yang harus ia lakuk...
