Chapter 21 : Raja Para Naga

238 15 3
                                        

disaat semuanya berjalan meninggalkan aula, diriku tidak bisa menahan keinginan yang selalu meledak-ledak didalam dada, ku hentikan langkah kaki dan kutarik nafas dalam-dalam "Putri..." panggilku

Putri menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku "ada apa Lia?"

dengan sedikit ragu akhirnya ku beranikan diri untuk mengutarakan keinginan hati "jika diperbolehkan... aku ingin menghadapi Pixie seorang diri..." kataku perlahan "tapi bukan maksudku lancang ataupun sok hebat karena terlalu percaya diri untuk menghadapinya sendirian, hanya saja..." ku mantapkan hatiku untuk mengatakannnya "aku ingin menghadapinya langsung agar aku merasa puas apapun hasil akhirnya, kumohon... bisakah diriku melakukannya?"

aku tidak terlalu berharap Putri meng iya kan permintaanku ini karena aku sendiripun sudah tahu benar kalau apa yang akan aku hadapi sangatlah berbahaya, namun aku hanya ingin mengutarakan harapanku padanya.

tanpa kuduga Toru ikut berdiri tepat disamping kananku dengan tatapan penuh rasa harap pada Putri "aku juga meminta hal yang sama seperti Lia, biarkan aku menghadapi Sarnax dengan tanganku sendiri"

Putri menatap dalam-dalam mata kami seolah sedang mencari tau kesungguhan hati kami "baiklah jika itu keinginan kalian, tapi bila terjadi sesuatu yang tidak di harapkan pada kalian.... kalian jangan pernah menyalahkan siapapun termasuk diri kalian sendiri, apakah bisa kalian berjanji akan hal itu?"

kami saling bertatapan dan diriku mengangguk pelan padanya kemudian kami kembali memandang Putri "baiklah, kami janji tidak akan menyalahkan siapapun ataupun diri sendiri"

"lakukan apapun yang kalian mau..." itulah keputusan akhir yang diberikan Putri sambil ia berlalu meninggalkan aula disusul dengan kelima orang kepercayaannya


________________________________

____________________

__________



diluar istana, lima orang kepercayaan Putri sudah bersiap ditempat mereka masing-masing diikuti oleh pasukan yang mereka pimpin. Vivamus melihat sekelilingnya kemudian ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dalam sekali tiupan kearah langit tepat dikepalanya, samar-samar terlihat bayangan putih ikut keluar dari mulutnya dan menyebar keudara kemudian menghilang.

"ini bisa sedikit menghalangi mereka" jelas Vivamus

"ini akan menjadi hari yang panjang..." lanjut Cleric sambil memainkan tasbih yang ada di tangannya

"walau sejak awal sudah dicegah agar hal ini tidak terjadi, namun siapa sangka ternyata kebencian itu membuatnya dapat menemukan jalan yang ia cari" Aria menutup mata dan merasakan udara disekelilingnya "udara semakin bergemuruh tidak tenang, mereka akan tiba sesaat lagi"


____________________________

_________________

_________


aku tidak bisa berdiam seperti ini saja, ku putuskan beranjak dari dudukku tanpa perdulikan yang lain dan berjalan menuju pintu keluar "mau kemana kau Lia?!" teriak kak Lisa

"aku tidak bisa berdiam diri saja disini, apa kalian kuat dan tahan melihat mereka bertarung sendirian demi kita? lagipula aku ada urusan dengan Pixie... aku harus menyapanya bukan?" kataku tegas

Toru ikut melangkah tepat kesampingku "aku juga ada urusan dengan Sarnax, jadi aku akan ikut denganmu"

semua yang ada didalam aula hanya bisa terdiam tidak dapat berkata apapun namun kak Shin angkat bicara "sepertinya mereka tidak bisa melawan hanya berdua, kita semua akan ikut keluar siapa tahu ada yang bisa kita lakukan diluar sana daripada kita hanya menyaksikan semua orang mati tanpa berbuat apapun"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 15, 2015 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DeepBlue KingdomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang