"Arkha itu bukan cuek, tapi nyebelin!!!!!" ucap Khansa pada teman-temannya.
______________
*Maaf ini cerita dibumbui dengan humor 😊
Definisi laki-laki cuek itu gimana?
Dingin, irit kata, ga terlalu peduli keadaan, susah diraih.
Pemeran cerita ini...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari Kamis di minggu pertama Sasa sekolah adalah sejarah bagi seorang Sasa. Di mana dia pertama kali menginjakan kaki di kantin yang kalau istirahat jangan ditanya penuhnya.
"Perut oh perut kenapa kamu lapar? Bagaimana aku tak lapar, kamu males ke kantin, kamu males ke kantin," kata Sasa dengan nada mengikuti lagu kartun upin ipin.
Sasa ke kantin sendiri tanpa Indy atau teman lainnya. Mereka sudah membawa bekal dari rumah, sedangkan Sasa tidak punya stock makanan apapun sejak pagi.
Dia membeli macam-macam gorengan dilumuri sedikit saos dan sambal. Betapa nikmatnya Sasa memakan jajanan itu di depan warung kantin.
"UH SUER BU ENAK BANGETT." Sasa berteriak sambil mengunyah makanan tersebut.
"BESOK-BESOK SASA NGE-STOCK DEH"
"Terutama gehunya ya bu, pedesin lagi biar makin MANTAP!!" Ibu kantin melihatnya sedikit heran. Sedangkan Sasa kini menjadi pusat perhatian murid-murid karena suaranya yang sangat keras.
Pikirnya, apa yang sedang orang-orang lihat? Dia menaikkan bahunya, menandakan tidak peduli dengan tatapan semua orang. Yang penting perut terisi, Sasa bahagia.
Penjaga sekolah yang sedari tadi melihat Sasa pun seperti ragu untuk berbicara dengannya. Sasa menatapnya, bapak penjaga itu balik menatap sambil senyum.
"Pak, mau gorengan ?" tanya Sasa mengambil satu bala-bala dari plastiknya. Bapaknya menggeleng tapi tetap tersenyum.
"Neng Khansa, ya?" tanya bapak penjaga.
Sasa kaget, jangan-jangan bapak ini sudah mengincarnya sejak tadi. Sampai nama saja dia sudah tahu lebih awal.
"Kenapa ya,pak, kalo boleh tau?" nada tanya Sasa sedikit takut.
"Anu neng..." bapak itu mengeluarkan surat dari saku di celananya, "Surat dari mas tanpa nama"
Sasa memasukan lagi bala-bala ke plastik gorengannya. Dia mengambil surat yang ada di tangan bapak penjaga tersebut. Tertulis di bawahnya 'tanpa nama'.
"Pak, kalo boleh tau, ko suratnya sama bapak? Jangan-jangan bapak ya yang ngirim surat ke Sasa? Gausah bohong pak, Sasa tau kok banyak penggemar, tapi, bapak ini bapak rumah tangga," ucap Sasa beberapa kali memotong obrolan yang akan dilontarkan oleh Bapak penjaga.
Mereka sama-sama bingung. Yang satu bingung karena surat, satunya lagi bingung karena ocehan. Memang ya, ketemu Sasa siap-siap telinga mengecil.
"Neng, baca aja lah, bapak cuma nyampein amanat dari mas tanpa nama. Kalau bukan karena kopi, bapak juga mending nyuruh masnya ngasih langsung," kata bapak penjaga sekolah, "Oh iya neng, bapak namanya Jajang, jadi nanti kalo neng mau bales pesen, panggil aja pak Jajang di depan, ya." bapak itu pergi meninggalkannya.
Sasa langsung lari terbirit-birit ke kelas. Dia harus menemui Farrel, teman curhatnya sekarang.
Saat Sasa sampai kelas, teman-teman Sasa melihatnya bak orang dikejar zombie. HEBOH POKOKNYA!!