Bab 8

76 15 1
                                    


  Mentari pagi bersinar dengan terangnya. Hujan tadi malam membuat udara semakin segar. Terlihat awan putih yang menggantung indah di atas langit. Burung burung ikut serta bernyanyi meramaikan pagi ini.

Leandra menghirup udara luar dalam dalam hingga memenuhi rongga perutnya. Kemudian menghembuskannya perlahan.

Leandra keluar dari kamarnya, mencium aroma wangi dari dapur. Ia pun melangkah ke dapur dan melihat mamanya tengah berkutat dengan celemeknya.

"Mama mau aku bantu?"tanya Leandra. Ya, sekarang dia sudah terbiasa memanggil Nandira-mama.

"Boleh, tapi apa tanganmu tidak sakit?" Nandira sembari memperhatikan tangan Leandra.

"Ngga kok ma, ini udah mendingan."

"Ya udah,"

Mendengar respon mamanya, ia langsung menggunakan celemeknya dan ikut memasak. Bahkan dirinya lebih dominan memasak dari pada mamanya itu.

"Wah akhirnya udah selesai, hmmm pasti enak banget nih,"ujar mama

"Kan mama yang ngajarin aku," jawab Leandra malu malu.

"Ya udah, kamu panggil Aidan gih. Biar mama yang nyiapin ini."

"Emang ngga papa ma."

"Ga papa dong sayang,"

Leandra menaiki tangga menuju kamar Aidan. Baru saja ia ingin mengetuk pintu, pintunya sudah dibuka oleh pemiliknya.

Leandra menatap wajah tampan Aidan dengan setelan jas kantornya yang melekat pas di tubuhnya.

"Kenapa hm?"tanya Aidan

"Eh ehm sarapan udah siap, Ai" Leandra menunduk malu.

"Kenapa nunduk? Malu yaa?"goda Aidan

"Lah apaan sih. Udalah aku mau turun."ucap Leandra sambil berlalu.
Aidan hanya menatap sambil terkekeh.
Lalu menyusul Leandra.

"Wah tumben mama masak banyak,"ucap Aidan sembari menatap makanan yang sepertinya sudah tak sabar untuk di cicipi.

"Ini bukan mama yang masak. Lea yang udah masak sebanyak ini, mama cuma nonton dia,"ucap mama sambil terkekeh.

"Wah Kak Lea pinter masak ya sekarang" goda Anindira.

"Luka tanganmu?" tanya Aidan menatap mata Leandra.

"Oh ini udah sembuh. Lagian dua minggu lalu udah dikasih obat sama mama."jawab Leandra sambil menata makanan di meja.

"Bagaimana dengan rencanamu itu?"tanya ayah

"Aku sudah melakukannya. Nanti aku jelaskan padanya."

"Baik lah. Jelaskan padanya baik baik. Jangan sampai dia salah paham,"ucap ayah yang hanya di tanggapi acungan jempol oleh Aidan.

Leandra menatap Aidan penasaran, "rencana apa Ai?"
"Bukan apa apa."ucap Aidan sambil tersenyum

"Udah ayo kita makan," seru Anindira

Selesai makan, Aidan mengajak Leandra pergi. Tentu saja ia terkejut. 'Harusnya Aidan pergi bekerja bukan? Tapi kenapa mengajakku?' batinku.

Sempat ingin menolak, tapi ia merasa tak enak hati pada Aidan. Akhirnya ia menerima ajakannya.
Mereka masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalanan dalam keadaan hening. Leandra hanya melihat pemandangan lewat kaca mobil.

Aidan menyadarinya, ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk berbicara hal penting itu. Tapi di sisi lain, ia takut Leandra marah padanya. Alhasil Aidan membisu.

LeandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang