Happy Reading
Please ada typo komen ya
************
Sinar rembulan telah berlalu tergantikan dengan sinar mentari yang tak kalah indah. Matahari menyembul di balik awan dengan cantik. Tetesan embun yang berjatuhan menambah nuansa sejuk pagi ini.
Hari ini semuanya akan berakhir. Aidan telah mempersiapkannya matang-matang. Aidan yakin ini pasti akan berhasil.
Aidan akan memulai kehidupan yang lebih baik kali ini.
Aidan menatap benda di tangannya yang telah lama ia simpan. Kini benda itu akan jatuh pada orang yang tepat.Aidan memandang Nandira, berujar "Aku bimbang. Perasaanku tak enak hari ini."
"Itu hanya perasaanmu saja. Percayalah."
"Tolong doakan. Dan jangan lupa beritahu dia untuk segera menemuiku." pamit Aidan. Nandira mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum lebar.
***
"Ada apa ma?" tanya Leandra ketika melihat Nandira berdiri tepat diambang pintu kamarnya.
"Apa kamu bisa menolong mama, nak?" alibi Nandira.
"Tentu saja aku bisa. Memangnya mama perlu bantuan apa?"
"Tolong bantu cari Anindira, dia pergi tanpa memberi tahu mama. Dan tadi mama baru dapat telpon, katanya dia disekap di gedung xxxx." ucap Nandira yang tak mampu membendung air matanya.
"Disekap? Astaga. Baik ma, aku pergi sekarang ya. Mama tunggu di sini." ujar Leandra sembari menyambar tasnya.
Leandra pergi bersama supir pribadi milik keluarga Putera. Perasaanya tidak karuan sekarang. Ingin rasanya menghubungi seseorag untuk meminta bantuan, tapi ponselnya miliknya tertinggal di rumah.
Hingga akhirnya Leandra sampai di gedung tua yang dimaksud Nandira. Leandra melihat dua orang pria dengan tampang yang menyeramkan berjaga di depan pintu rumah itu.
Leandra memberanikan diri untuk bertanya pada mereka."Permisi, aku ingin menjemput__"
Salah seorang pria itu memotong ucapannya, "Masuk saja. Sudah ditunggu."
Leandra membulatkan kedua matanya terkejut. Menatap tak percaya pada mereka.
"Cepat masuk." ucap salah seorang dari mereka.
"Ya. A-aku masuk."
Leandra membuka pintu rumah tersebut perlahan. Ia melangkahkan kakinya, kedua bola matanya menatap rumah tak terawat ini. Manik mata Leandra mengarah pada pintu bercat merah darah. Warna yang paling mencolok diantara warna yang lain. Leandra membawa kedua kakinya ke pintu tersebut. Leandra mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya pada pintu itu, lalu merabanya. Leandra menatap tangannya, terlihat cat mencolok itu membekas jelas di jemarinya.
"Cat ini belum lama. Tapi kenapa hanya ada satu pintu?" Leandra bermonolog.
Leandra mendorong pelan pintu itu, dan ruangan yang dia lihat sangat jauh dari kata bersih. Dan anehnya, ada tangga yang mengarah ke lantai atas di dalam ruangan ini. Perlahan, Leandra menaiki anak tangga tersebut.
Dilihatnya pintu berwarna hitam kusam, Leandra kembali mendorong pintu itu.
Terlihat seorang pria berpakaian hitam berada di depannya. Tepatnya membelakangi dirinya.
Leandra yakin pria itu yang telah menyekap adiknya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Leandra
Dla nastolatkówLeandra Nadine seorang gadis piatu, yang kini tinggal bersama dengan ayah dan kakak perempuannya. Gadis sederhana yang selalu di fitnah dan disiksa kakak perempuannya. Pertemuannya dengan seorang Aidan Andros Ararya, membuat kehidupannya sedikit le...