Usai mencuci semua peralatan makan, tanpa menoleh Lita menyusul Nick ke ruang kerja Stefano.
"Bolehkah aku minta dipeluk?" tanya Lita.
"Sini ...." Nick mundur sedikit, menunjuk pangkuannya.
Lita duduk miring, pemuda itu memeluknya, memberanikan diri mencium bibirnya, tak ada penolakan, bahkan gadis itu melingkarkan tangannya di leher pemuda itu.
Mendapat angin, Nick semakin berani. Lita memakai rok dengan kancing full dari atas ke bawah, ia membukanya satu-persatu.
"Ooo ... Carmelita."
Ciumannya turun ke bawah, mengulum putingnya, gadis itu mengerang.
Tangan pemuda itu bermain-main dengan g stringnya, menyusup untuk mengusap kelentitnya. Lita menggeliat, mengikuti naluri ia membuka semua kancing kemeja pemuda itu, mengusap bulu-bulu halusnya.
"Carmelita, I want you," katanya dengan suara serak, mendekap gadis itu merasakan kulit dada mereka bersentuhan. Lita merasakan ada yang menyodok pantatnya.
"Aku masih perawan," kata Lita, "kau boleh bermain-main di mulut liangku, tapi jangan masuk."
Nick mengiyakan saja, yang penting gadis itu bersedia kelamin mereka bersentuhan, selanjutnya urusan nanti.
Lita melepaskan g stringnya, Nick menurunkan celananya. Gadis itu merabanya, membayangkannya sebagai pusaka Stefano, sama besarnya.
Ia naik ke pangkuan pemuda itu, masing-masing kaki di luar pahanya, membimbing ujungnya bermain-main di mulut liangnya.
Ada keinginan menancapkan dirinya, tapi ia ingat Suwandi, ia ingin mempersembahkan keperawanannya kepada Suwandi di malam pengantin mereka.
Sebaliknya, Nick tak tahan dengan godaan itu, ia bertekat mengggagahi gadis di pangkuannya itu. Sayang, di saat kritis itu suara Stefano menggelegar di sampingnya.
"What are you doing here?"
Kaget, Lita meloncat dari pangkuan Nick, gelagapan mencari roknya yang dilempar entah kemana oleh pemuda itu. Ia menemukan g string lebih dulu, saat membungkuk memakainya, ia melihat roknya di kolong meja. Cepat dipakainya, dan ia berlari ke kamarnya, merasa malu kepada kakak beradik itu.
"I have told you, she.is.mine!"
"Aku tidak memaksanya, brother, ia yang datang kepadaku."
"Apapun alasanmu, kau tak boleh menyentuhnya. Dia milikku!"
Nick tertawa.
"Kalau kau menginginkannya, mengapa kau tega menyetubuhi Gladys di depan matanya?"
Stefano tidak menjawab, ia menyuruh Nick pergi.
"Lima belas menit lagi, aku tuntaskan transaksasi ini dulu."
*
Stefano masuk ke kamar Lita, gadis itu menangis, tengkurap di ranjang. Ia tak perduli roknya tersingkap, belahan pantatnya sangat mengundang.
Lelaki itu membuka pakaiannya, menyusupkan pusakanya di pangkal paha gadis itu, menggerakkannya turun naik. Gadis itu mengerang, membalikkan badannya, kaget melihat majikannya siap menggagahinya.
Namun ia membuka semua kancing roknya, menarik turun tubuh Stefano merasakan bulu-bulu dadanya mengelus payudaranya.
"Ooo ... Lita ... kau menginginkanku?"
"Make out saja, jangan masuk."
"Aku tidak janji ...."
Stefano bergerak sampai mencapai klimaks.
Lelaki itu tak menduga bisa puas tanpa memasuki liang sempit gadis itu.
Sampai sore mereka bergumul di ranjang, saling mengelus.
"Carmelita, kau menginginkanku?"
Lita mengangguk, menyusupkan kepala di dada Stefano.
"So, let's do it."
"Tidak, Mr. Malik, saya akan menyerahkan keperawanan kepada suami saya di malam pengantin."
"Tapi kau tak keberatan digerayangi seperti ini? Aneh."
Mereka melanjutkan make out sepanjang hari Minggu.
"Siapkan makanan, aku segera kembali."
Stefano mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan Lita termangu-mangu.
Satu jam kemudian ia kembali, makan, mandi sebelum bergumul lagi dengan Lita.
"Tadi kemana?"
Stefano menyeringai, "menemui Gladys, quickie. Kaupikir bisa aku cuma make out saja?"
*
"Kau kuliah apa di Inggris?" tanyanya saat sarapan.
"International Business."
"Ikutlah aku ke kantor."
Stefano menyuruh menyediakan meja kecil ke ruangannya, dan sebuah laptop. Ia menyerahkan setumpuk berkas di meja itu, ada komen di tiap dokumen.
"Buatkan draft email balasan untuk setiap dokumen ini."
Lelaki itu sibuk menelpon ke sana kemari, menjelang makan siang, ia memeriksa draft email satu-persatu dan mengirimkannya.
Lucille --sekretarisnya-- masuk dengan setumpuk email yang sudah diprint.
"Danny Van der Brink makan siang di restoran favorit anda, Sir, bila berkenan, ingin anda bergabung tiga puluh menit lagi."
"Nanti aku telpon sendiri untuk konfirmasi."
Lita panik.
"Mr. Malik, bolehkah saya tidak ikut?"
"Mengapa?"
"Pakaian saya, akan mengundang mata lelaki ...."
Stefano setuju, ia menelpon Rocky, menyuruhnya membelikan makan siang.
"Ini bukan rok yang saya belikan," komentarnya saat membawakan makan siang.
"Pilihanmu terlalu terbuka."
"Itu yang disukai Mr. Stefano." Ia tertawa.
"Apakah kau selalu menonton tubuh semua perempuannya?"
"Ya! Mr. Stefano tidak pernah memperhatikan tempat, dan perempuan-perempuan itu tak punya malu, mau saja berhubungan sex dilihat orang lain."
Melangkah keluar, tapi di pintu ia berhenti, "bersiaplah, sore ini pasti Gladys datang ke sini. Quickie di mobil di depan apartemennya kemarin sore tak cukup baginya, ia belum orgasme sudah disuruh pergi."
Lita baru selesai makan ketika Nick muncul.
"Aku mencarimu di mansion, menyusulmu ke sini ingin mengajakmu makan siang."
"Aku sudah selesai makan."
"Kopi?"
"Mungkin lain kali."
Nick membawa laptop sendiri, ia duduk berhadapan dengan Lita dan mulai bekerja, sementara gadis itu mengambil berkas yang diletakkan Lucille di meja Stefano. Memang belum diperiksa, tapi setelah setengah hari menyusun email balasan, ia merasa mampu menjawab tanpa panduan.
Jam lima sore ia telah membuat draft email balasan semuanya, ditutupnya laptop dan menunggu Stefano datang. Membunuh waktu ia ikut melihat bursa saham di laptop Nick berusaha mengerti.
Stefano datang bersama Gladys jam setengah enam, senyumnya hilang melihat Lita duduk sangat dekat dengan adiknya.
Gadis itu meletakkan berkas kembali ke meja majikannya, "saya sudah menyusun semua email balasan."
Lelaki itu mengangguk, Gladys sudah berlutut di depannya membuka celananya.
"Saya lihat anda akan sibuk, Mr. Malik, ijinkan saya pulang duluan."
"Aku akan mengantarmu."
Nick berdiri, dan sebelum sempat Stefano mencegah, mereka telah keluar ruangan.
Nick mengajaknya makan malam di sebuah cafe, suasananya remang-remang membuat Lita tenang. Ia jarang hang out, keluarganya tak akan mencarinya ke sini.
Di saat makan, Lisa Mae menelponnya, "Miss Lita? Saya berhasil mencuri paspor anda."
"Ouw, terima kasih, terima kasih. Titipkan Chiko besok."
"Chiko sedang cuti seminggu, Miss, ia akan masuk tiga hari lagi."
"Tidak apa-apa. Tolong fotokan halaman yang ada fotoku. Terima kasih."
"Ada kabar baik apa?" tanya Nick melihat seri wajah Lita.
"Aku segera mendapatkan pasporku, aku bisa pulang."
"I will miss you."
"You can visit me. I will take you to Bali. Have you ever been to Bali?"
"Not yet."
Sampai di mansion, Lita melihat Lisa Mae sudah mengirimkan foto paspornya, ia ke ruang kerja Stefano, bermaksud memakai komputernya booking tiket pulang.
"NYASAR?"
Surabaya, 8 Mei 2020
#NWR
KAMU SEDANG MEMBACA
CARMELITA
RomansaCarmelita lari dari rumah. Ayahnya menjodohkannya dengan anak sahabatnya. Ini bukan zaman Siti Nurbaya, ia ingin menikah karena cinta, bukan untuk kepentingan bisnis. Pergi terburu-buru ia lupa membawa paspornya, tak bisa pulang ke Indonesia. Ia ju...
