Stefano meminta ibunya membawa istrinya berbelanja pakaian yang pantas untuknya, dengan catatan, tidak boleh terbuka. Ibunya tertawa, mengingat bagaimana terbukanya pakaian yang disediakannya untuk Lita dulu.
*
"Hi, my sexy boss," sapa Nick senin pagi. "Kau tahu, melihatmu Jumat kemarin, sangat merangsang ...."
"Apaan? Kau kan melihat dari samping."
"Entahlah ..., yang dulu melihatmu disetubuhi di rumahmu, aku tak terangsang, tapi kemarin ..., dan mengingat kita pernah berciuman, aku sungguh ingin melakukannya denganmu."
"Nick!"
"Aku serius, Carmelita!"
Lucille masuk, tak sengaja menyelamatkannya. Ia membacakan jadwalnya hari itu.
"Sebulan ke depan, kau masih menemaniku meeting, kolega-kolega kita mungkin belum tahu perubahan jabatan ini."
Ada beberapa pertemuan di luar negeri.
"Saya pesankan tiket? Berdua dengan Mr. Malik?" tanya Lucille.
"Tunda dulu, besok kuberi jawaban."
"Mengapa?" tanya Nick heran.
"Harus tanya Stefano dulu. Ia marah karena setahun ini aku ngantor tanpa diketahuinya."
"Yang Jumat kemarin itu, melampiaskan kemarahan kepadamu?"
"Kaukenal kakakmu, tahu kebiasaannya."
*
"Berdua dengan Nick ke luar negeri? No way!"
"Lalu bagaimana? Aku kan harus menemui kolegaku."
"Beri aku jadwalmu dua bulan ke depan, minta Lucille pesankan tiket untukku juga, tagihkan ke kantorku. Ia bisa berkoordinasi dengan Gracia, sekretarisku."
"Nick?"
"Terserah mau ikut atau tidak, tapi tak akan kubiarkan kau berduaan dengannya di hotel."
Pertama mereka ke Sidney.
Saat Nick dan Lita menemui rekan bisnisnya, Stefano melakukan yang sama.
"Suamimu posesif," kata Nick, Lita tertawa. "Kalau kita mau, tetap bisa menyelinap."
"Maksudmu?"
Mereka sampai di depan pintu kamar Nick, ia menarik Lita masuk.
"Ada waktu sekitar satu jam, cukup untuk quickie."
Pemuda itu mencium kakak iparnya, menekankan tubuhnya, Lita merasakan bukti Nick terangsang menyodok perutnya.
"Nick!"
"I love you, Carmelita, you know it."
"Nick, I love my husband."
"But you kissed me back. Don't you have any feelings for me?"
"A kiss doesn't count. We kissed on several occasions."
Nick melepaskan dasinya, mengikat kedua tangan Lita, dan menyeretnya ke ranjang, mendorongnya telentang.
"Nick! What are you doing?"
"I wanna taste you."
Pemuda itu menurunkan celana dalamnya, lalu membuka kakinya.
"Hmmm ...," gumamnya mengagumi area rahasianya, lalu ia menciumnya, mengulum bibir itu, memasukkan lidahnya ke relung kenikmatannya.
"Nick ! Nick ...! Nick ...." Seruannya semakin lemah, berganti desah dan erangan.
Pemuda itu makin terangsang, ia mengeluarkan pusakanya, menyatukan tubuh mereka.
"Auw! Nick!"
"Rasakan bedanya, mana yang lebih nikmat, denganku atau kakakku."
Ia menggenjotnya merasakan sensasi menikmati perempuan yang dicintainya.
Nick meraih ponselnya, saat Lita orgasme, ia memotretnya, mulai penyatuan tubuh mereka sampai ekspresi kakak iparnya. Lalu ia bergerak cepat membongkar muatannya. Jatuh menindih perempuan itu.
"Fuck! Carmelita! You are so tight I couldn't last longer."
Lita mendorongnya, "Shit! You came inside me!"
Nick membuka ikatan tangannya, Lita meraih celana dalamnya, masuk ke kamar mandi membersihkan diri, lalu keluar tanpa pamitan. Lelaki itu masih terkapar dengan kejantanan mengacung.
*
Bulan berikutnya Lita tidak mens, hatinya sangat kacau. Ia tidak yakin mengandung anak Stefano.
Nick menggunakan foto itu untuk mengancamnya bila menolak berhubungan sex. Beberapa kali adik iparnya menidurinya saat jam makan siang.
Mertuanya senang dengan kabar kehamilannya, "semoga bayinya laki-laki," doa mereka penuh harapan.
Stefano juga sangat berbahagia.
Kehamilannya rewel, sering muntah-muntah dan tubuhnya lemas. Stefano ingin ia beristirahat di rumah, tapi Lita ngotot ngantor, kan bisa rebahan di ruang istirahat.
Nick melarang Lucille mengganggunya, berkas-berkas disuruhnya diletakkan di meja, ia yang akan membawa masuk ke ruang istirahat ... sekalian meniduri kakak iparnya.
"Mulai besok pakai rok bukaan depan, jangan memakai pakaian dalam," perintahnya menelanjangi perempuan itu.
Memandanginya penuh nafsu ia membuka semua pakaiannya sendiri, mulai menindihnya. Mengulum putingnya dan mengobok-obok kewanitaannya. Lalu menyatukan dirinya, menggenjotnya sampai ejakulasi.
"Fuck! Bersamamu aku tak bisa bertahan lama."
Cepat ia berpakaian dan memakaikan pakaian Lita.
"Biasanya bersama siapa?" tanya Lita mengejek, ia tahu Nick tak punya pacar.
"My fuck buddy, sesama pialang saham."
Merasa ia tak bisa memuaskan perempuan yang dicintainya, Nick minum obat kuat. Kali ini ia bertahan lama, Lita mendapatkan beberapa kali orgasme, dan ia terkapar di sampingnya, terlelap kelelahan.
Lita meraih ponsel lelaki itu, memeriksa gallerynya, menghapus foto yang dipakai memerasnya.
Kemudian ia bangkit berpakaian, dan darah segar mengalir sepanjang kakinya.
"Lucille, call 911."
Ia berbaring lagi dan membangunkannya Nick. Team paramedis datang tepat setelah Nick berpakaian kembali.
"What happened?" tanyanya bingung.
"I am bleeding," jawabnya tersenyum, Lita menduga ia keguguran, karena itu ia tersenyum bahagia, karena ia yakin mengandung benih Nick, dan ia tak menginginkannya.
Sampai di rumah sakit ia menelpon Stefano, yang kemudian datang setelah ia selesai dikuret.
"Honey, we lost him."
"It's OK, we can try again anytime."
"Kau tidak bersedih?"
"Yang penting kesehatanmu, my love." Menoleh kepada adiknya, "terima kasih brother, cepat membawa istriku ke rumah sakit."
Nick tersenyum kecut, ada penyesalan, tadi ia sudah bicara dengan dokternya, Lita keguguran karena saat orgasme dinding rahimnya berkontraksi sangat kuat.
Lita dirawat di rumah sakit tiga hari, lalu bedrest di rumah sepuluh hari. Nick berusaha menemuinya, tapi sejak di gerbang mansion ia sudah ditolak.
"Mr. Malik berpesan tak boleh ada tamu menjenguk Mrs. Malik."
"Ini urusan kantor."
"Mrs. Malik beristirahat, tidak mengurus pekerjaannya."
Nick berusaha sabar menunggu waktunya Lita masuk kerja lagi, tapi gadis itu tidak muncul. Yang datang surat pemberhentiannya sebagai wakil CEO.
"APAAA?" Dengan marah ia menyapu semua yang di atas mejanya, jatuh bertebaran di lantai.
Ada niat jelek untuk menghalangi file di komputernya, tapi ternyata komputer itu dikunci. Ia membuka laptop pribadinya, mencoba akses email perusahaan, ternyata sudah berganti password.
Keluar dari gedung itu seperti jendral kalah perang, besoknya ia menerobos masuk ke ruang CEO. Lita di situ sedang berbicara dengan Lucille, wajahnya berseri, ia tampak lebih cantik dari yang diingat Nick.
"Carmelita, I need to talk to you!"
Lucille bermaksud mengusirnya, tapi Lita memberi tanda ia akan baik-baik saja, menyuruh sekretarisnya keluar.
Nick mengunci ruangan itu memandang kakak iparnya dengan pandangan mengancam.
"Mau memperkosaku lagi?" Gadis itu menunjuk beberapa kamera di situ, "di ruang istirahat juga dipasang kamera. Kau boleh memperkosaku, akan kupastikan kau merana di penjara seumur hidupmu."
Lita mengarahkan layar monitor laptopnya ke Nick, "kau kenal dia?"
Seorang gadis cantik, roknya robek memamerkan payudara dan selangkangannya, empat lelaki telanjang dengan kondisi ereksi mengelilinginya. Seorang memegang kedua tangannya di atas kepala, dua orang lagi masing-masing memegang satu kaki.
Masih ada lelaki kelima merekam adegan itu, lelaki keempat memasukkan pusakanya, dan menggerak-gerakkannya perlahan keluar masuk. Gadis itu berteriak-teriak.
"Nicole!" desis Nick, his fuck buddy.
"Aku hanya membalas yang kaulakukan padaku." Lita tertawa, "berapa kali kau memperkosaku?"
"Your fuck buddy hanya merasakannya lima kali, tapi sekaligus!"
Nick mengepalkan tinjunya.
"Pergilah! Gadis itu membutuhkanmu, mereka telah meninggalkannya di apartemennya."
Surabaya, 12 Mei 2020
#NWR
KAMU SEDANG MEMBACA
CARMELITA
RomansaCarmelita lari dari rumah. Ayahnya menjodohkannya dengan anak sahabatnya. Ini bukan zaman Siti Nurbaya, ia ingin menikah karena cinta, bukan untuk kepentingan bisnis. Pergi terburu-buru ia lupa membawa paspornya, tak bisa pulang ke Indonesia. Ia ju...
