Happy reading
.
.
.
.
.
.
.
.
Hukuman
Setelah jam pertama selesai, jam kedua pun dimulai. Pelajaran kedua adalah pelajaran guru terkiller kedua disekolah mereka. Namanya Pak Mahmud atau bisa dibilang oleh para murid disebut Ares.
Taukan Ares, dewa meteologi Yunani si dewa perang yang kejam dan haus darah.
"Haduh, gue lupa sekarang lan pelajaran Ares. Ucap Meri dengan nada pelan sambil menepuk jidadnya
"Gue juga lupa, bahwa sekarang pelajaran wajib dia." Ucap Salsa sambil bisik-bisik.
"Siapa yang bisik-bisik, jika berisik lagi keluar dari pelajar saya?!" Ucapnya mengancam.
"Ingat!! Tidak ada yang boleh bersuara saat saya sedang menjelaskan dan juga tidak boleh berisik. Kerjakan soal masing-masing tanpa mencontek dan tidak ada yang boleh datang terlambat pada saat jam saya mengajar kalau tidak dia akan berdiri diluar. Saat tidak bisa menjawab pertanyaan saya maka kalian akan saya hukum lari mengintari lapangan sebanyak sepuluh kali saat jam dua belas siang." ujar Pak Mahmud menjelaskan dengan panjang lebar.
"...."
"Haduh, mampus gue." Ucapnya Salsa sangat pelan hingga tak ada yang mendengar.
"Ini mah bukan sekolah, tapi neraka." Bisik Hendi.
"Kamu, apakah kamu ingin keluar dan berdiri dipintu saat pelajaran saya?" Tanya Pak Mahmud
"Eng... enggak pak." Jawab Hedri dengan gugup sambil meneteskan keringat dingin.
Pak Mahmud tidak akan segan-segan menghukum para anak didiknya saat melakukan kesalahan.
Dia begitu kejam saat memberikan hukuman tidak memangdang bulu siapa yang dia hukum.
Dengan suasa kelas yang suram, mencengkam, dan juga sangat hening. Suara Pak Mahmud terdengar sangat jelas saat dia berbicara menerangkan pelajaran.
Mereka semua terdiam dengan tubuh bergetar mendapat tatapan tajam Pak Mahmud yang mengarah kearah mereka.
"Rileks dan jangan tegang saat saya mengajar." lanjutnya lalu berbalik kebelakang, mengambil spidol dari atas meja dan mulai menulis dipapan tulis.
'Gimana bisa gak tegang coba, orang ngajarnya saja kaya gini.' Batin seluruh kelas.
Semua siswa mendengarkan yang dijelaskan oleh Pak Mahmud dengan wajah pura-pura serius. Ada yang membuka buku untuk mencatat, tapi....
"Dan jangan ada yang mencatat selagi saya menjelaskan dan tanpa saya perintah." ujar Pak Mahmud tegas membuat gerakan tangan murid yang menulis terhenti dan menatap papan tulis.
'Aduh,, deg degan gue, untung aja Pam Mahmud gak liat." Batin mereka.
Setelah menulis dipapan tulis, Pak Mahmud mulai menjelaskan unsur-unsur Radioaktif dan Anisa serta semua murid diam mendengarkan apa yang dijelaskan.
Sesekali Anisa akan melamun dalam pelajaran ini. Dan sampai puncaknya dia terbengong di pelajaran Pak Mahmud.
"Kau, yang duduk di pinggir jendela, jelaskan jenis partikel dasar radioaktif." ujar Pak Mahmud setelah tahu kalau Anisa melamun.
"Sa..saya pak?" Tanya Anisa
"Iyah, kamu."
Anisa terkisap dan dengan cepat memperhatikan isi bukunya dengan wajah terlihat ketakutan yang mendalam.
'Bagaimana ini?' pikir Anisa takut sambil terus membolak-balikan halaman.
'Mampus gue, kenapa harus melamun pas dia menerangin sih.'
'Pas gue gak nyatet lagi.'
Sedangkan Pak Mahmud mulai berjalan mendekati mejanya. Pak Mahmud memukul kepala Anisa pelan dengan buku cetak yang dia pegang seraya berkata, "Siang ini dilapangan, sepuluh kali putaran." ujar Pak Mahmud dingin lalu kembali lagi kedepan kelas.
Para sahabatnya hanya memandang dia dengan prihatin.
'Hah,, hukuman lagi." Ucapnya dalam hati.
...
Akhirnya Anisa menjalani hukumannya dengan berat hati. Setelah lima putaran berlalu dia mulai kelelahan. Coba banyangkan lapangan yang begitu luas dan juga panas teriknya matahari. Gimana gak capek coba.
"Haaaah..." napas Anisa mulai tidak teratur tapi dia terus berusaha untuk berlari dan untungnya dia selalu memakai training dibalik rok pendeknya jadi jika roknya melayang maka paha dalamnya tidak akan terlihat saat dia berlari.
'Gue udah capek'
Enam putaran terlewati.
'Gue udah gak sanggup'
Tujuh putaran terlewati.
'Panas, banget lagi.'
Delapan putaran terlewati.
Sembilan putaran terlewati.
Sepuluh putaran terlewati.
'Akhirnya selesai juga gue lari, capek banget udah panas lagi.' Batin Anisa.
.
.
.
.
.
.
Next.....
Jangan lupa tinggakan jejak
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN
Fiksi RemajaAnisa adalah gadis manis yang ceria, Anisa selalu tersenyum dimanapun dan kapanpun. Tapi itu hanya diluar, tidak ad yang tau bagaimana sifat asli dari dirinya. Dia juga bingung siapa dia yang sebenarnya??? keceriaan? kegembiraan? semua hanyalah tope...
