6

406 49 4
                                        

Tringg

Lonceng cafe berbunyi. Menandakan ada seseorang yang membuka pintu, masuk atau keluar dari cafe. Doyoung yang sudah duduk menunggu di pojok jendela pun melambaikan tangannya saat melihat sosok yang sedang dia tunggu dari tadi, Kim Jisoo.

"Ah...apa kau sudah menunggu lama?"tanya Jisoo yang tidak enak dengan Doyoung sekarang.

"Tidak. Santai saja.."jawab Doyoung dengan santai.

Jisoo tersenyum jahil dan mengangguk asal "Omooo... ada apa ini Kim Doyoung..? Apa kau baru menang lotre?"candanya meledek suasana hati Doyoung yang sepertinya sedang baik hari ini.

Doyoung tersenyum malu saat Jisoo berhasil menggodanya "Aku berbaikkan dengan Sejeong....."ucapnya dengan suara pelan.

"Apa? Aku tidak bisa mendengar mu."lanjut Jisoo yang pura-pura tidak mendnegar suara Doyoung sekarang.

"Aku berbaikkan dengan Sejeong....!"ucapnya sekali lagi dengan suara yang sangat keras.

Sangking kerasnya suara Doyoung, pelanggan lain yang duduk di sekitarnya langsung melihat ke arah mereka. Membuat Doyoung baru sadar kalau dia mengatakannya dengan sangat keras hingga terdengar di telinga pelanggan lain. Dia melirik Jisoo yang sedang menahan tawanya dengan kesal "Aish.....kau berhasil membuat ku malu nuna...."

"Hya...! Kau sendiri yang mengatakannya terlalu keras. Kenapa kau malah menyalahkan ku...?"tanya Jisoo tidak terima.

"Nuna......"panggilnya pada Jisoo yang sedang memesan minuman.

"....mm....?"

"Apa semua baik-baik saja...? Tentang nuna dan Jinyoung hyung..."

Jisoo menurunkan buku menu yang menutupi wajahnya, menatap kedua mata Doyoung yang berada di depannya. Dia tersenyum dan mengangguk ragu "Ada apa Doyoung-ah...?"

"Ku pikir....Jinyoung hyung sangat sensitif akhir-akhir ini..."ujarnya membuat dahi Jisoo berkerut.

"Sensitif..?"beonya mengulang kata yang dikatakan Doyoung barusan.

Doyoung mengangguk pelan "...mm...."

Jisoo menggeleng pelan, tidak percaya "Tidak mungkin.... dia bukan tipe orang yang sensitif...lebih tepatnya dia tidak pedulian. Apa terjadi sesuatu padanya di kantor..?"

Doyoung menggeleng pelan. Dia kembali menyerput secangkir coklat panas miliknya "Jika dia memang seperti yang nuna katakan...." Dia sedikit melirik Jisoo yang sudah menunggu lanjutannya. Doyoung melanjutkannya dengan senyuman di wajahnya "Lupakan saja.."

"Doyoung-ah..."

"....mm....?"

"Apa kau ingin membantu ku...?"

Doyoung tersenyum dan mengangguk dengan cepat "Tentu saja..."

********

Pria yang berjalan di sebelah Seulgi melirik tangan gadis itu yang mengalung di lengannya. Dia sangat tidak nyaman saat Seulgi mulai bertingkah seperti dia adalah pacarnya di depan publik.

"Bisakah tolong lepaskan tangan kotor mu dari lengan ku...?!!"tanyanya membuat Seulgi meliriknya dengan tajam.

"Apakah itu cara mu berbicara dengan adik mu..?! Aku akan memberitahu eomma..!!"ancam Seulgi melepaskan tangannya dari lengan kakaknya, mengeluarkan ponselnya dari saku mantel yang dia kenakan.

Kang Haneul, kakaknya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Lalu merebut ponsel adiknya dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya "Berhentilah bersikap kekanak-kanakan."ujarnya kembali berjalan mendahului Seulgi.

Seulgi mendengus kesal melihat punggung lebar milik kakaknya yang semakin menjauh, lalu berlari kecil menyusul Haneul "Oppa...!" dia kembali mengalungkan tangannya di lengan Haneul, membuat pria itu melihatnya dengan kesal dan mau tidak mau....membiarkan adiknya menggandengnya.

"Apa kau baru saja putus dengan pacar mu?"tanya Haneul saat dia mulai mendorong pintu kaca toko kue. Dia melirik Seulgi saat tidak mendapatkan jawaban "Hei..."panggilnya menyenggol bahu Seulgi "Apa yang kau lihat...?"tanyanya beralih melihat ke arah pandang adiknya.

"Bae Joohyun...."gumam Seulgi dengan pelan.

"Siapa dia?"tanya Haneul dengan heran.

"Park Jin.....young....?"lanjutnya menambah kerutan di dahi Haneul.

Seulgi menunjuk ke arah mobil hitam yang terparkir di tepi jalan "Apa oppa melihat pria yang berada di dalam mobil itu?"tanyanya membuat Haneul memicingkan matanya agar bisa melihat ke arah tunjuk Seulgi "Apa kau melihatnya..?"

"Mata ku rabun Seulgi-ya...."

"Lihatlah benar-benar...! Apa dia Jinyoung...?"

Haneul terdiam saat melihat wajah pria yang berada di dalam mobil itu. Dia beralih melihat Seulgi yang sudah meminta jawabannya "Bukankah dia pria yang dibawa Jisoo ke rumah kemarin....?"tanyanya dengan heran.

Seulgi tersenyum dengan tidak percaya "Dengan Joohyun......?"gumamnya pelan.

2 jam kemudian...

"WHAT....??!!!!"

Seulgi langsung membekap mulut Jiyeon dengan cepat "Kecilkan suara mu..! Kau mengganggu pengunjung yang lain...!"tegurnya saat menyadari beberapa pasang mata pelanggan di toko ayam ibunya melihat ke arah mereka.

"Ah...maaf... tapi, apa aku tidak salah dengar..?!"

"Aku tidak bohong Jiyeon-ah..! Aku melihatnya dengan Haneul oppa. Joohyun keluar dari mobil Jinyoung.."

Jiyeon membuang pandangannya ke arah lain, membuang nafasnya dengan berat "Apa kau tidak salah lihat..?"tanyanya sekali lagi.

"Aku malah berharap, aku salah lihat. Tapi, serius Jiyeon-ah..! Aku bahkan melihat Joohyun menyentuh wajah Jinyoung.."

Jiyeon menggeleng dengan tidak percaya "Aku bisa gila...."

"Kita harus memberitahu Jisoo sekarang...!"ujar Seulgi yang berniat untuk mengeluarkan ponselnya dari saku mantelnya.

"Tidak...!"

"Hah..? Jisoo harus tau sekarang Jiyeon-ah....aku tidak ingin dia dibodohi oleh Jinyoung seperti ini!"

"Aku juga ingin memberitahu Jisoo! Tapi, ini bukan saat yang tepat... apa kau bisa membayangkan bagaimana nasibnya ke depannya? Dia sangat mencintai Jinyoung..... dia tidak akan dengan mudah mempercayai kita jika kita memberitahunya tanpa bukti seperti ini..kau tau sendiri kan Jisoo orangnya gimana..?"

Sedikit masuk akal..

"Setidaknya....kita harus punya 1 bukti yang kuat untuk memberikannya pada Jisoo.."

"Bagaimana jika kalian membuntuti pria itu diam-diam..?"tanya Haneul yang masih mengenakan celemek, ikut bergabung dengan kedua gadis yang sedang sibuk bergosip.

"itu ide gila dan bodoh yang pernah ku dengar."ujar Seulgi meraih sepotong ayam dari piring yang dibawa kakaknya yang dibalas dengan anggukkan setuju dari Jiyeon.

"Hei...! Apakah kalian lupa aku bekerja dimana?"

RegretTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang