36.

1K 108 18
                                        

Setelah sampai di tempat kediaman Yoona, Donghae langsung bertanya, di mana letak kamar putrinya.

Kemudian, ia berlari menaiki anak tangga, tak peduli seberapa berat rasa letih yang ia rasakan. Yang menjadi prioritas saat ini, adalah kondisi putrinya.

Donghae mulai membuka knop pintu. Ia pun berjalan masuk ke dalam, dan duduk di tepi ranjang putrinya.

Rosè tengah tertidur, dengan raut wajah pucat yang membuatnya semakin khawatir. Bukan hanya itu saja, dirinya dibuat terkejut ketika melihat kedua pipi yang semula chubby, kini sudah menirus. Bahkan, tubuhnya semakin kurus.

"Jasslie," panggilnya, seraya mengusap-ngusap rambut panjang putrinya.

Tak ada jawaban dari Rosè, gadis itu masih tertidur pulas tanpa merasa terusik sedikit pun. Dan berhasil membuat Donghae semakin cemas.

"Jasslie, bangun, Nak. Papah di sini buat kamu," ucapnya sekali lagi.

Rosè mengedipkan kedua matanya, ketika kedua telinganya mendengar suara yang tak asing baginya. Setelah penglihatannya sempurna, Rosè merubah posisi tidurnya menjadi duduk, dengan punggung yang ia sandarkan di kepala ranjang.

Ia mengerutkan kedua bibirnya, dengan air mata yang ia bendung ketika melihat ayahnya sudah berada di sampingnya. Tanpa menunggu waktu lama, gadis itu memeluk erat tubuh ayahnya. Bahkan, air mata yang ia bendung mati-matian menetes bersama dengan isakkannya yang sangat keras.

Donghae langsung membalas pelukan erat putrinya, matanya berkaca-kaca setelah mendengar suara isakkan putrinya yang sangat keras.

"Ada papah di sini, Jasslie," ujarnya, seraya mengusap-ngusap punggung putrinya.

"Jae-Jaehyun, Pah!" serunya dengan tangisan yang belum bisa ia hentikan.

"Kamu harus percaya, Nak, Jaehyun di sana berjuang mertahanin kamu. Papah yakin, Jaehyun sayang sama kamu. Posisinya, dia dipaksa untuk menikahi gadis dari anak sahabatnya.

Bagaimana pun keadaan atau permasalahannya, Jaehyun pasti balik sama kamu. Kalau memang kalian ditakdirkan untuk bersama. Dan, kalau takdir berkata lain, kalian berdua pasti ketemu sama orang yang jauh lebih baik," jelasnya.

Donghae melepaskan pelukannya pada tubuh kecil putrinya, lalu menangkup kedua pipi tirus itu, dan menatapnya dengan penuh sayang.

"Kamu harus bahagia, Jasslie. Papah sedih liat kamu kayak gini. Jasmine pasti marah, liat kamu terus-menerus kayak gini," sambungnya lagi, seraya mencium kening putrinya.

Bukannya berhenti menangis, Rosè malah semakin membanjiri kedua pipiny, tetapi, tidak sekeras tadi. Ia terharu, ayahnya mampu membuat fungsi kerja otaknya kembali berfungsi, setelah sekian lama ia membiarkan otaknya membatu.

Donghae tersenyum, lalu menghapus air mata putrinya.

"Udahan, ya, sedih-sedihannya. Papah laper, mau makan bareng sama putri papah yang cantik ini," ucapnya. Yang dijawab anggukkan oleh Rosè.

***

Yoona tersenyum bahagia melihat mentari yang mulai terbit pada diri putrinya, setelah sekian lama malam yang gelap gulita menjebak Rosè di dalamnya.

Setelah makan malam terhidang di atas meja, mereka semua menyantap hidangan hasil tangan Yoona, Alice, dan juga Rosè.

Mereka melahap makanan dengan begitu bahagia, pasalnya Rosè sudah kembali ceria seperti sedia kala. Dan mereka bersyukur atas kehadiran Donghae, yang sudah mewarnai hidup Rosè yang sebelumnya berwarna hitam dan putih.

Bobrok-Jaeros ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang