34.

1K 121 52
                                        

Beberapa bulan kemudian, Jaehyun menatap dirinya di depan cermin. Kemudian, menutup kedua matanya dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Setelah membuka kembali kedua matanya, pria itu tersenyum pilu dengan pakaian dan acara yang akan digelar malam ini di rumahnya.

Setelah bergelut dengan pikiran lainnya, akhirnya Jaehyun memutar knop pintu, dan berjalan menuruni anak tangga. Lagi-lagi, Jaehyun hanya tersenyum pilu melihat pesta yang begitu megah akan segera dimulai di dalam rumah ini.

Ia melihat begitu banyak tamu yang datang dengan raut wajah bahagianya. Seketika Jaehyun bertanya pada dirinya, pernah kah mereka berpikir, jika pemeran utama dalam pesta malam ini tak sebahagia mereka? Sepertinya tidak. Tidak ada yang memikirkan perasaannya malam ini. Jaehyun salah, ia tak sendiri, ada Irene yang selalu membantunya untuk mencegah acara ini terjadi. Namun, usaha kakak beradik itu tidak pernah membuahkan hasil karena orangtuanya terlalu keras kepala, dan tidak ingin mengalah.

Inilah dia, Jaehyun. Pria yang hanya bisa menghela napas beratnya dengan menyetujui permintaan kedua orangtuanya untuk bertunangan dengan gadis bernama Yeri. Gadis yang tak pernah ia pikir akan melakukan hal senekat ini, dengan cara merendahkan Rosè di depan kedua orang tuanya.

Irene yang melihat adiknya berdiri di atas tangga dengan tatapan kosong, mampu membuat kedua kakinya melangkah menaiki anak tangga untuk menghampirinya. Ia menghembuskan napas beratnya, setelah berada di samping adiknya yang masih tak menyadari keberadaannya.

"Jeff," panggilnya.

Jaehyun yang sadar ada orang yang memanggil namanya langsung mencari sumber suara, dan menemukan Irene yang berdiri di sampingnya.

"Kenapa?" tanyanya yang penasaran dengan kehadiran gadis itu di sampingnya.

"Aku udah bilang, kan sama kamu. Kabur dari sini. Jangan sampe perjodohan malam ini terjadi, Jeff," sahutnya yang kembali mengingatkan sarannya pada Jaehyun.

Setelah mengatakan kalimat itu, Irene langsung menatap ke sekeliling karena takut ada orang yang mendengar pembicaraannya dengan Jaehyun.

Jaehyun tersenyum kecil, lalu mengusap-usap punggung Irene yang menatapnya pilu. Seketika dirinya merasa tidak enak hati dengan kakaknya yang sudah membuatnya sedih karena dirinya.

"Aku udah nggak bisa kabur lagi, Kak. Sekalipun itu bisa... mereka pasti nyari aku. Dan aku pikir, udah nggak ada gunanya lagi," jelasnya yang mencoba untuk membuat Irene paham.

Irene tersentuh, tersentuh dengan kalimat panjang yang adiknya ucapkan langsung padanya. Beberapa tetasan air mata membanjiri wajahnya. Ia dapat melihat bagaimana tersiksanya Jaehyun karena ulah Yeri, adik dari sahabatnya sendiri, Wendy. Karena sudah merendahkan Rosè di depan kedua orang tuanya.

"Nggak usah sok bijak di depan aku!" lirihnya.

Kedua tangan Jaehyun terangkat untuk menghapus air mata kakaknya, ketika melihat beberapa air mata Irene mulai jatuh, dan membanjiri wajah cantik kakaknya.

"Kok nangis, sih. Jangan lebay di depan aku," ucapnya dengan tertawa melihat kakaknya menangis.

Beberapa detik kemudian, Jaehyun terdiam. Jika semula kedua bibirnya terbuka karena tertawa, kini kedua bibirnya kembali tertutup karena ia merasa bodoh sudah menertawakan takdir yang sangat perih untuk ia jalani.

"Daripada nangis gini, mending samperin bang Suho, gih!" perintahnya dengan jari telunjuk yang ia arahkan pada seorang pria yang tengah memegang segelas minuman di bawah sana.

Irene yang sadar jika adiknya sedang mengalihkan pembicaraan, langsung melihat ke arah yang di tuju oleh jari telunjuk Jaehyun. Tangan kanannya sengaja ia angkat, dan mendaratkannya tepat pada pinggang kiri Jaehyun, yang membuat pria itu meringis.

Bobrok-Jaeros ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang