Tiga belas|Something In The Rain¦

27 4 0
                                        

Happy reading! 
Jangan lupa tekan bintang di pojok kiri bawah ya...

---------Udah vote? Cuss--------
...

     Aku mungkin tidak bisa menghapus jejak perih luka masa lalumu
Namun, aku bersedia menjadi tempat berbagi cerita suka dan dukamu
Tempatmu bersandar saat kau rapuh
Menemanimu selalu
Meringankan rasa sakit dan lukamu
Membantu menghapus air matamu
Membuatmu tertawa
Di waktu kini dan nanti
...

☔☔☔

"Ra, katanya kemaren lo habis jatoh ya?"

"Habis itu lo digendong sama si 'es batu' SMA Galaksi, kan?  Aaaa so sweet banget."

"Coba cerita Ra!  Gimana perasaan lo waktu itu?"

"Kok bisa gitu, Ra?"

"Tapi lo ga pa-pa kan?"

"Gila! Lo jadi trending topic di grup seangkatan!"

  Seperti yang Raina duga sebelumnya.  Satu per satu lontaran kalimat itu ditujukan kepadanya. Raina hanya membalas dengan senyuman. Padahal jantungnya sudah sangat berdebar jika mengingat hal kemarin.

"Nanti lagi ngobrolnya woy!  Padi udah nunggu!" teriak Dedi yang berdiri dari ambang pintu kelas.

    Seisi kelas yang mendengarnya mempercepat kegiatannya masing-masing.  Raina berterimakasih dalam hati karena teman-tenannya tidak lagi menyerbunya dengan pertanyaan. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.

  Hari ini adalah jam pelajaran olahraga. Seluruh anak kelas XI Ipa 3 sudah selesai berganti baju dan kini memakai seragam olahraga.

   Raina melipat bajunya. Menyusunnya dengan rapi di loker pribadinya agar tidak kusut saat dipakai lagi.  Beberapa anak perempuan sedang sibuk melumuri tubuhnya dengan sunblock, memakai parfum, lip balm dan riasan lainnya.

"Dim,  jangan lupa senjata kita!" teriak Aldi.
Dimas membalas dengan acungan jempol kanannya.

"Udah semua kan? Ayo ke lapangan!"
Ucap Dedi memberi instruksi.

  Mereka semua berjalan bergerombol ke arah lapangan outdoor.
Sebenarnya sekolah mereka memiliki lapangan indoor.
Namun,  ruangan itu jarang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, hanya dibuka jika diadakan pertandingan atau acara lainnya.

  Mereka berbaris dengan rapi.  Pak Junaidi a.k.a Padi sudah berdiri gagah di depan barisan kelas lengkap dengan peluit yang menggantung di lehernya.

Ia meniup peluitnya.  Suaranya terdengar sangat nyaring seolah akan memecahkan gendang telinga yang mendengarnya.

"Apa kabar Anak-anak yang cantik dan ganteng tapi lebih ganteng Bapak?" ujar pak Junaidi.

"Baik Pak ...."
Mereka menjawab dengan serentak.

"Baik, hari ini kita akan belajar tentang tolak peluru. Untuk sekarang, cukup teori dan praktik biasa. Pengambilan nilai dilakukan di pertemuan berikutnya."

Guru dengan kepala yang agak botak itu mulai memberi arahan dan materi serta contoh melakukan gerakan tolak peluru yang benar.
Satu per satu siswa maju dan melakukan gerakan sesuai yang diajarkan.

  Kini giliran Calvin.  Ia mengangkat bola peluru sebesar 7,25 kg itu.  Kemudian mendorongnya dengan kuat hingga terpental jauh.

"Bagus Calvin," puji pak Junaidi.

Something In The Rain ☔ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang