Hi semuanya!
Happy reading!
Vote sebelum membaca, komentar setelah baca.
-----Udah vote?Cusss-----
Bulan dan bintang sudah menampakkan sinarnya pada gelapnya langit malam. Waktunya beristirahat setelah hari yang melelahkan. Sebagian orang mungkin sudah memasuki alam mimpinya.
Raina menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Gadis yang kini memakai piyama berwarna biru itu baru selesai dengan ritual mandinya. Ia mulai menutup matanya, bergegas untuk tidur. Namun baru beberapa detik, kelopak mata indah itu kembali terbuka.
Pikirannya seakan tak menginginkan untuk tidur lebih cepat malam ini. Kini matanya masih terbuka,melihat dengan tatapan kosong ke arah langit-langit kamarnya, sementara pikirannya sedang berkelana.
"Rian" satu nama yang menjadi penyebab utama keadaan sulit tidurnya saat ini. Ia masih bingung dengan perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.
Perasaan seperti kehilangan sesuatu, seakan ada yang kurang dan tidak lengkap karena tidak adanya Rian. Apa mungkin saat ini.... Raina sedang merindukan Rian?
Damn!
Mau ditaruh dimana muka Raina jika ia merindukan Rianeh bin menyebalkan itu?
Raina mencubit pipinya. Menyadarkannya tentang pemikiran dan perasaan anehnya terhadap Rian.
Ngomong-ngomong tentang Rian....
"Rian lagi apa ya sekarang? Kenapa dia nggak masuk? Apa dia sakit?" Raina bermonolog dengan dirinya sendiri.
Berbicara tentang sakit, Raina jadi ingat waktu Rian memeluknya dulu di rumah sakit. Raina bahkan masih ingat betapa menenangkannya pelukan Rian waktu itu. Ah sial! Wajah Raina mulai memerah memikirkannya.
Kepingan memorinya tiba- tiba mengingatkannya dengan perkataannya pada Rian waktu itu. /Baca part without him!/
Sepertinya ia keterlaluan,ia kini merasa bersalah.
"Apa karena itu Rian hilang?" pikir Raina.
Raina melihat benda pipih persegi panjang miliknya. Isinya hanya pesan dari Oliv dan grup kelasnya. Sama sekali tidak ada satupun notifikasi dari Rian, padahal biasanya Rian sudah menerornya dengan pesan tidak jelasnya.
"Apa gue chat duluan aja ya?" monolog Raina.
Raina memukul kepalanya berulang kali.
"Adduhh Rainaa.. Lo kenapa mikirin Rianeh terus sih? Jangan gila deh! Yakali lo mau ngechat dia duluan!? Udahlah, tidur sekarang, gak usah pikirin dia lagi."
Raina menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, memaksakan diri untuk tidur.
1 detik...
2 detik..
3 detik...
Raina kembali membuka selimutnya dengan gerakan tiba-tiba dan langsung menyambar handphonenya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya.
Persetan dengan seluruh gengsinya, ia bahkan tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
Jemarinya sudah bersiap untuk mengetikkan pesan.
Rian, lo kemana aja? Kok gak masuk?
"Isshh..apaan sih, kok kesannya kayak gue peduli amat" gerutu Raina kemudian menghapus pesan yang sudah ia ketik.
Rian, lo lagi sakit ya? Gws deh
"Issh.. Apaan sih. Kesannya kayak gue khawatir banget gitu, meskipun beneran khawatir sih, tapi nggak ah, ganti ganti... "
KAMU SEDANG MEMBACA
Something In The Rain ☔
Fantasi"Saat aku menangis dibawah hujan, tiba tiba dia datang memelukku, menenangkanku dan kemudian kehidupanku berubah" -Raina Dwi Azrilia "Boleh saja kau tutupi tangisanmu pada yg lainnya, biarlah yang mengetahui betapa perihnya luka itu hanyalah aku...
