Chapter 4: The Curiosity

373 64 4
                                        

Ketika mendengar suara ketukan pada pintu kantornya, Jakurai berpikir kalau Hifumi memilih untuk kembali bersembunyi dari android itu dan melewatkan hampir setengah hari waktunya dengan mengocehkan betapa android itu telah mengusik hari-harinya.

"Dasar Hifumi-kun," dengusnya sembari berjalan ke pintu. "Dia benar-benar harus belajar untuk terbiasa dengan android itu—"

Tetapi alih-alih Hifumi, sosok yang berdiri di balik pintu adalah—

"—Doppo?" Jakurai menatap sosok itu dengan tercengang. "Ada apa? Apa Hifumi meninggalkan sesuatu di sini?"

Android itu menggeleng. "Saya datang karena saya ingin menemui Anda."

"Menemuiku?" Jakurai makin kebingungan. "Kenapa?"

"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada Anda, Jinguji-san," Doppo terdiam sesaat, "Itu pun kalau Anda tidak keberatan dengan interupsi ini."

Jakurai terkekeh salah tingkah. "Tentu tidak," katanya. Ia menyingkir dari pintu untuk memberi ruang masuk bagi si android. "Masuklah."

Doppo mengangguk dan berjalan memasuki ruang kantornya. Rasanya janggal melihat bagaimana android itu—yang penampilannya persis seperti seseorang yang ia kenal—menguarkan aura yang sungguh berbeda.

Jakurai menutup pintu dan terheran-heran ketika melihat android itu masih berdiri di tempatnya. "Kenapa tidak duduk?"

"Karena amat tidak sopan jika saya duduk sebelum Anda duduk," jawab Doppo dengan nada datar.

Diam-diam Jakurai mengulum senyum. Rasanya aku mulai memahami kenapa Hifumi-kun frustrasi menghadapinya.

"Kalau begitu, duduklah."

Android itu melakukannya dengan patuh. Punggungnya tegak menempel pada sandaran kursi, dan kedua tangannya bertumpu pada lutut. Matanya mengawasi sekeliling ruangan dengan ekspresi yang datar, lagi mengingatkan Jakurai pada seorang anak kecil yang mudah tertarik pada apa pun yang dilihatnya.

Padahal Doppo yang asli tidak pernah duduk seperti itu. Punggungnya akan selalu melengkung, dan kepalanya akan tertunduk seolah-olah otaknya telah menyimpan begitu banyak beban. Dan tangannya itu—oh, Jakurai tidak mungkin melupakannya—tidak pernah bisa diam. Kadang-kadang jemarinya akan saling bertaut, lalu berpindah ke rambutnya dan mengacak helai-helai itu sampai tampilannya lebih berantakan dari sebelumnya, dan sering kali menutupi wajahnya yang lelah. Bahkan tidak jarang Jakurai menyuruh Doppo berhenti menggigiti ujung kukunya atau mencakari pipinya.

...tapi yang lalu sudah berlalu. Jakurai tidak akan membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa sakit seperti Hifumi.

Maka ia menarik sudut-sudut bibirnya ketika menatap Doppo. "Jadi," katanya. "Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"

Android itu menatapnya lurus-lurus. "Saat ini, Izanami-san tidak terlihat seperti seseorang yang membutuhkan bantuan saya," katanya lugas.

Jakurai tersenyum salah tingkah. "Aku tahu."

"Apa Anda sudah menduganya sejak awal?"

"Tentu saja," kata Jakurai. "Sekalipun aku sedikit berharap kalau dia akan bersikap lebih lunak padamu cepat atau lambat."

"Karena itukah Anda meminta saya mengurusnya?" tanya android itu. "Karena Anda ingin Izanami-san mengandalkan orang lain selain Anda?"

Senyum Jakurai melebar. Logika android itu benar-benar menarik. "Itu salah satu kemungkinan," ujarnya, "Sekalipun aku juga memiliki alasan lain untuk itu."

"Dan alasan apakah itu?"

Jakurai terdiam sejenak sebelum menjawab, "Itu adalah pekerjaan rumah yang harus kau temukan sendiri."

[HifuDo] WitheringTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang