Ketika Hifumi terbangun pagi itu dan keluar dari kamarnya, ia disambut oleh keheningan. Android yang biasa menyapanya "selamat pagi" kini entah berada di mana.
Satu-satunya jejak yang ia tinggalkan adalah sarapan yang telah tersaji di atas meja makan (sup miso, seperti biasa). Tidak ada catatan yang tertempel di pintu lemari esnya atau di sebelah mangkuk supnya, seolah android itu sengaja menghilang tanpa pesan.
Ke mana dia?
Walaupun agak enggan, Hifumi memutuskan untuk menyusuri sudut-sudut lain di kondominiumnya, tetapi android itu tidak ada di sana. Hanya kotaknya yang masih bersandar setia di sudut kamar tidur tamu tanpa tersentuh.
Hifumi sempat berpikir untuk menanyakan keberadaan android itu pada penjaga kondominium, kalau-kalau ia melihat android itu meninggalkan kompleks, tetapi memikirkan bahwa ia harus keluar dari kamar, menyusuri koridor yang panjang, mencapai lift, turun sebanyak enam lantai, menemui penjaga kondominium yang posnya hampir satu petak tanah jauhnya dari lobi gedungnya—itu pun kalau si penjaga ada di sana—lalu kembali lagi, dan—
—yah, intinya memikirkan soal itu saja sudah cukup melelahkan baginya.
Aneh. Android itu bahkan belum mendapatkan perintah apa pun darinya. Mungkinkah ia memutuskan untuk pergi berbelanja atas kemauannya sendiri?
...mungkin saja. Tidakkah android itu selalu memasak untuknya dan membersihkan rumahnya sekalipun Hifumi tidak pernah memintanya? Wajar kalau android itu sudah memiliki serangkaian perintah terkait "mengurus Hifumi" (sebenci-bencinya ia dengan istilah itu, ia tidak bisa menemukan istilah yang lebih tepat lagi) yang terprogram di dalam datanya, kan?
Hifumi menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Daripada memusingkan android itu, lebih baik makan dan menikmati momen sunyinya itu sebelum si android kembali dan mengusiknya seperti yang sudah-sudah.
Ia menyendokkan suapan pertama sarapannya ke dalam mulut dan terkesan ketika menyadari bahwa makanan itu masih terasa hangat di kerongkongannya.
Diam-diam, ingatannya berputar pada sosok si android yang berjaga di sisi meja makan, yang seperti anak kecil menanti-nanti kesan Hifumi soal masakan buatannya.
Senyum tipis terbentuk di bibir Hifumi.
Benar.
Android itu pasti akan kembali.
Lagi pula, Hifumi jadi punya kesempatan untuk menikmati kehidupan normal yang sudah lama tidak ia rasakan.
.
.
Sudah pukul enam sore.
Langit telah sepenuhnya gelap ketika Hifumi melongok ke jendela kamar, dan hujan deras mengguyur bumi untuk pertama kalinya setelah satu minggu yang panas ini.
Dan android itu masih saja belum kembali.
Hifumi menyadari bahwa kepalanya berkali-kali menoleh ke arah pintu setiap kali mendengar suara sekecil apa pun.
Apa dia tersesat?
Rasanya hal itu mustahil terjadi. Para android semestinya memiliki kemampuan untuk menelusuri rumah tinggal mereka. Terlebih lagi Doppo sudah begitu sering pergi meninggalkan kondominiumnya dan kembali tanpa kesulitan apa pun.
Kalau begitu—
Hifumi menggigit bibir bawahnya.
—mungkinkah terjadi sesuatu di jalan?
Hifumi mungkin tidak menyukainya, tetapi android itu berada di bawah kepemilikannya—suka atau tidak. Pada akhirnya, Hifumi-lah yang harus bertanggung jawab seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada android itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[HifuDo] Withering
FanfictionKehidupan Izanami Hifumi yang semula kosong berubah sejak android itu memasuki rumahnya dan menetapkan diri sebagai pengurusnya. . . Hypnosis Mic © KING RECORD, IDEA FACTORY, and Otomate The story concept is based on Detroit: Become Human © Quantic...
![[HifuDo] Withering](https://img.wattpad.com/cover/229510953-64-k288081.jpg)