Hifumi mendapati dirinya lebih sering menghabiskan waktunya di luar kamar akhir-akhir ini.
Pada pagi hari, ia akan keluar dari kamarnya setelah menyelesaikan semua urusannya di dalam kamar mandi dan mendapati android itu tengah memasak sarapan. Lagi-lagi masakan yang sama dengan aroma yang amat familier, tetapi Hifumi tidak keberatan.
Android itu juga menyadari perubahan itu, sebab ia berkomentar, "Kalau boleh jujur, ini pertama kalinya Anda menunggui saya memasak."
"Jangan terlalu sombong," Hifumi menukas, sekalipun bibirnya tertarik membentuk senyum. "Berada di dalam kamar terus-terusan membuatku sesak. Itu saja."
"Kalau begitu, seharusnya Anda membiarkan saya membersihkan kamar Anda."
"Sejak kapan android bisa mengharuskan majikannya untuk melakukan sesuatu?" tanyanya. "Lagi pula, kalimat barusan cuma metafora. Kamu harus banyak-banyak memahami istilah manusia."
"Saya hanya memberi saran."
Sudut bibir naik Hifumi naik. "Pilihan kata-katamu tidak mengesankan begitu."
"Barangkali saya memang harus belajar dari ahlinya."
Gelak tawa meluncur keluar dari mulut Hifumi, hanya untuk berakhir dengan batuk-batuk dan bunyi sengal yang mengiringi napasnya. Cepat-cepat ia mengangkat satu tangannya untuk mencegah android itu mendatanginya. "Kau ini pintar sekali menggunakan sarkasme untuk bicara denganku."
"Itu bukan sarkasme." Android itu balik menatap Hifumi tanpa ekspresi. "Saya cuma bicara apa adanya."
"Oh ya?"
Hifumi merasa geli sendiri. Selama ini, ia tidak pernah benar-benar bicara dengan nada seperti itu pada orang lain. Terutama pada Doppo-chin. Pada pria itu, Hifumi selalu bersikap lembut dan ceria (sebab demi apa pun, Doppo-chin yang malang lebih dari pantas untuk mendapatkan cahaya dalam hidupnya!).
Tetapi android itu membangunkan sisi yang berbeda pada dirinya. Sisi yang bahkan tidak pernah Hifumi sangka ada di dalamnya.
Walaupun kalau dipikir-pikir, bicara seperti ini menyenangkan juga. Hifumi tidak perlu berpura-pura bersikap manis—seperti yang dilakukannya setiap kali ia bicara pada para koneko-chan di bar—atau menahan diri seperti yang kadang-kadang ia lakukan setiap kali ia bicara dengan Doppo-chin atau Jakurai.
"Anda benar-benar harus melakukan sesuatu untuk batuk-batuk Anda itu." Suara si android mengembalikannya pada kenyataan. "Sudah beberapa minggu berlalu sejak saat itu, Anda tahu?"
Hifumi mengibaskan tangannya. "Aku tahu," katanya. "Aku tidak butuh android untuk memberitahu waktu."
"Tapi Anda butuh seseorang untuk mengingatkan Anda," balas android itu dengan nada keras kepala. "Sama saja."
Hifumi mengusap wajahnya dengan lelah. Belakangan ini pegal-pegalnya semakin mengganggu. "Aku punya ide yang lebih bagus," katanya.
"Ide?" ulang android itu.
Hifumi mengangguk. "Kalau kau memang ingin membuatku merasa lebih baik, lebih baik kamu memijatku saja." Ia terdiam sesaat. "Seperti yang waktu itu."
"Saya pikir pijatan saya tidak ada hubungannya dengan—"
"Badanku pegal-pegal," potong Hifumi. "Kalau kamu memang bertugas untuk mengurusku, maka harusnya kamu tidak membantah perintahku."
Hifumi mengamati bagaimana mata android itu berkedip-kedip. Jeda yang terjadi selama beberapa menit setelahnya membuatnya agak gelisah—entah kenapa.
"Kalau itu memang membuat Anda merasa lebih baik," kata android itu, "maka saya akan melakukannya."
Cengiran Hifumi melebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
[HifuDo] Withering
FanfictionKehidupan Izanami Hifumi yang semula kosong berubah sejak android itu memasuki rumahnya dan menetapkan diri sebagai pengurusnya. . . Hypnosis Mic © KING RECORD, IDEA FACTORY, and Otomate The story concept is based on Detroit: Become Human © Quantic...
![[HifuDo] Withering](https://img.wattpad.com/cover/229510953-64-k288081.jpg)