Halooo!
Saya balik lagi dengan chapter baru Withering! Sebelumnya, saya mau ngucapin selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan! Semoga chapter baru ini bisa jadi kado Natal untuk kalian. :3
Karena Withering sudah hampir selesai, saya akan upload secara lumayan intens setiap 1 minggu sekali. :) jadi dihemat-hemat dulu aja bacanya, hehehe.
Enjoy reading!
.
.
"Doppo-chin~!"
Seperti hari-hari lain, Hifumi akan membuka pintu apartemen Doppo dengan berisik dan berlari ke arah pria itu untuk memeluknya. Senyumnya lebar dan seandainya ia bercermin, maka ia bisa melihat dirinya seperti habis menelan matahari. "Aku kangen sekali pada Doppo-chin!"
Doppo menghela napas panjang. "Halo, Hifumi." Nada suaranya kaku dan enggan. Ia bahkan tidak membalas pelukan Hifumi seperti biasanya.
Tapi Hifumi tidak keberatan. Doppo begitu sering memberinya reaksi seperti itu, jadi ia sudah kebal. Dengan kedua tangannya masih bertumpu pada pundak Doppo, kepala kekasihnya menjadi sasaran cium berkali-kali. Wangi khas Doppo yang merasuk di dalam penciumannya membuat dada Hifumi menghangat.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan Doppo-chin selama bekerja," keluhnya, sekalipun senyumnya masih terukir di wajah. "Memeluk dan mencium Doppo-chin seperti ini selalu membuatku merasa lebih baik!" Lalu, untuk kedua kalinya, Hifumi kembali menarik Doppo ke dalam pelukannya.
Ia merasakan Doppo meronta. "Hifumi—"
"Sebentar lagi," bujuk Hifumi. Dagunya kini menempel pada pundak Doppo sementara hangat tubuh Doppo mengaliri tubuhnya. "Biarkan aku memeluk Doppo-chin sebentar lagi."
Tetapi Doppo punya gagasan yang berbeda. Didorongnya tubuh Hifumi sehingga pelukan mereka terpaksa harus berakhir. "Maaf, Hifumi, tapi aku tidak bisa sering-sering menemuimu."
Senyum Hifumi menyusut. Pupilnya melebar. "Apa? Kenapa?"
Doppo menghela napas. Hifumi baru menyadari kalau ekspresinya jauh lebih lelah dari biasanya. "Aku sudah membuang terlalu banyak waktu."
Hifumi tidak mengerti. "Apa terjadi sesuatu di kantor?" tanyanya. "Aku bisa membantumu mengerjakan apa pun, termasuk membantumu berjualan di penjuru Shinjuku sepanjang hari besok—"
"Itu tidak perlu," potong Doppo dengan senyum tipis. Hifumi ingin sekali menarik Doppo ke dalam pelukan, tapi pria itu seolah menciptakan dinding tak kasat yang membatasi keduanya. "Tempatmu bukan di sini, Hifumi. Tempatmu adalah di Kabuki-chou. Di dalam kelab malam yang berkilauan."
Dada Hifumi seperti terhantam oleh sesuatu.
Kalimat itu terdengar begitu dingin ... seolah-olah keberadaan Hifumi di sini tidak diharapkan.
Tapi ia tidak boleh berprasangka. Barangkali ini hanyalah satu dari sekian banyak efek samping yang muncul setiap kali kekasihnya kelelahan. Hifumi adalah pelindungnya, maka ia seharusnya memahami hal itu.
"Doppo-chin kelihatan lelah," katanya. Diusapnya rambut Doppo yang mencuat ke mana-mana. Rasanya lembut sekali. "Aku akan membuatkan makan malam supaya Doppo-chin merasa lebih baik, oke?"
"Aku tidak butuh dimasakkan olehmu," tandas Doppo. Suaranya begitu dingin dan kaku—sama sekali tidak terdengar seperti Doppo yang biasa. "Aku akan baik-baik saja bahkan tanpa dirimu, Hifumi."
Ia meneguk ludah. Ia ingin tersenyum, tetapi bibirnya begitu kaku. "Doppo-chin."
Satu kata itu saja berhasil membuat Doppo tersentak kaget. Kekasihnya otomatis membungkukkan badan sampai wajahnya tidak lagi terlihat; sebuah gestur yang selalu Hifumi lihat setiap kali ia berhadapan dengan atasannya. "Maafkan aku," gumamnya lirih. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak seharusnya bilang begitu, tapi—"
KAMU SEDANG MEMBACA
[HifuDo] Withering
Fiksi PenggemarKehidupan Izanami Hifumi yang semula kosong berubah sejak android itu memasuki rumahnya dan menetapkan diri sebagai pengurusnya. . . Hypnosis Mic © KING RECORD, IDEA FACTORY, and Otomate The story concept is based on Detroit: Become Human © Quantic...
![[HifuDo] Withering](https://img.wattpad.com/cover/229510953-64-k288081.jpg)