"Aku ingin bertemu dengan Doppo."
Android itu mematikan deru penyedot debu dan menatap Hifumi dengan satu alis terangkat. "Apa?"
Hifumi mengangkat wajah. "Aku ingin menemui Doppo," ulangnya. "Apa itu mungkin?"
Android itu tidak langsung menjawab. "Izanami-san, Anda tahu kalau Doppo pasti sudah melupakan Anda."
"Tidak masalah," desis Hifumi. Tangannya menggenggam sapu tangan yang bebercak darah erat-erat; satu bukti bahwa waktunya mulai terkikis habis. "Aku cuma ingin melihatnya satu kali saja, lalu aku tidak akan membahasnya lagi." Sebuah janji yang sulit, memang, tapi Hifumi akan mencoba.
"Tapi dengan kondisi Anda yang sekarang—"
"Aku akan baik-baik saja," Hifumi menyahut dengan keras kepala. "Lagi pula, bukankah kau bertugas untuk mematuhi apa pun yang kumau? Kenapa kamu terus-terusan mengelak seperti itu?"
"Saya tidak mengelak," kata android itu. "Saya cuma melakukan apa yang diinstruksikan oleh Doppo waktu itu."
"Dia menyuruhmu untuk memastikan kalau aku bahagia, kan?" desak Hifumi. "Kalau aku tidak menemuinya sekarang ... barangkali aku tidak akan pernah bisa merasa bahagia."
Kata-kata itu terdengar konyol saat Hifumi mengatakannya keras-keras, tapi ia tidak bohong.
Android itu memejamkan mata, lalu membukanya, seolah permintaan Hifumi begitu berat untuk dipikirkan tanpa berkonsentrasi. "Akan saya lihat apa yang bisa saya lakukan," katanya.
Hifumi tersenyum. "Trims."
Kalimat itu diucapkannya dengan sungguh-sungguh.
.
.
Dunia luar terasa begitu asing di mata Hifumi ketika ia menyaksikan pemandangan di sepanjang jalan Shinjuku selagi mobilnya melaju ke pusat kota.
Gedung-gedung itu ... semua papan jalan itu ... juga semua jenis manusia yang lalu-lalang secara bergiliran dengan kendaraan ... rasanya aneh ketika menyadari bahwa kota itu bergerak dan hidup seperti biasanya bahkan ketika Hifumi pergi. Bahkan dari kaca jendela Hifumi bisa melihat dedaun pada pohon-pohon yang ditanam di sepanjang trotoar mulai berubah warna menjadi kuning kecokelatan.
Hifumi tersenyum pada pemandangan itu. Sebentar lagi sudah musim gugur saja. Padahal rasanya baru beberapa hari yang lalu ketika Hifumi memancing dengan Jakurai saat musim panas. Betapa cepat waktu telah berlalu sejak saat itu.
Seolah-olah ada atau tidak adanya Hifumi di sini sama sekali tidak penting, bahkan sekalipun ia pernah menyandang gelar sebagai host nomor satu di Shinjuku.
Tetapi, hei, Hifumi tidak seharusnya memusingkan soal hal itu. Toh, dia sendiri yang memutuskan untuk menarik diri dari dunia luar sejak beberapa waktu yang lalu.
"Apa saya perlu menaikkan suhu penghangat mobilnya?"
Hifumi menoleh. Di bangku pengemudi, android pengganti Doppo balik menatapnya tanpa ekspresi, seperti biasa.
Tadinya, Hifumi bersikeras untuk menyetir. Setelah berbulan-bulan tidak menyentuh roda kemudi, Hifumi seolah ingin menantang dirinya sendiri, membuktikan pada tubuhnya bahwa ia masih punya kekuatan untuk melakukan sesuatu sendirian.
Sayangnya, android itu menentangnya. "Saya pikir lebih baik kalau Anda tidak menyetir dalam keadaan seperti itu," katanya. "Saya tahu kalau saya tidak seharusnya menentang Anda, tapi—"
Kata-kata android itu setelahnya menjelma suara-suara kabur. Di dalam kepala Hifumi, suara android itu seolah menyatu dengan Doppo—oh, siapa yang sedang dia bercandai? Suara mereka berdua memang serupa—dan Hifumi tidak bisa tidak tersenyum ketika membayangkan kata-kata apa yang mungkin dilontarkan oleh Doppo seandainya ia ada di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
[HifuDo] Withering
Fiksi PenggemarKehidupan Izanami Hifumi yang semula kosong berubah sejak android itu memasuki rumahnya dan menetapkan diri sebagai pengurusnya. . . Hypnosis Mic © KING RECORD, IDEA FACTORY, and Otomate The story concept is based on Detroit: Become Human © Quantic...
![[HifuDo] Withering](https://img.wattpad.com/cover/229510953-64-k288081.jpg)