Chapter 3: The Refusal

452 73 6
                                        

Kalau boleh berterus terang, Hifumi lebih memilih untuk dihantui oleh mimpi buruk—seperti yang selalu dialaminya selama tiga tahun terakhir— dibandingkan dengan menyaksikan android itu di dalam kondominiumnya ketika ia terbangun setiap hari.

Sebab mimpi buruk adalah sesuatu yang bisa berakhir ketika kamu terjaga, dan apa yang terjadi padanya sekarang barangkali baru akan berakhir kalau ia mati.

Parahnya lagi, suara itu selalu mengiringi hari-harinya yang sudah terbiasa ia jalani dalam kesepian; setidaknya setelah ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari kehidupan yang lebih tenang di Nishishinjuku.

"Selamat pagi, Izanami-san. Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Anda."

"Izanami-san, ofuro-nya sudah siap."

"Selamat datang kembali, Izanami-san. Apa Anda ingin mandi dulu? Atau makan dulu?"

"Izanami-san, biar saya bantu melepas jaket Anda."

"Izanami-san, biar saya saja yang berbelanja. Anda tidak perlu repot-repot menuliskan daftar belanjaannya untuk saya, karena saya bisa mengingat semuanya dengan baik."

"Izanami-san."

"Izanami-san."

"Izanami-san."

Terus seperti itu; dari pagi sampai malam, selama Hifumi berada pada jangkauan pandang android itu. Dan kendati android itu bukan android yang berisik, sepenggal panggilan itu saja sudah berhasil menciptakan gaung persisten di dalam kepala Hifumi dan membuatnya sakit kepala.

Hifumi muak. Bukan hanya karena suara itu terus-terusan mengikutinya, tetapi juga karena suara itu begitu mirip dengan Doppo sampai-sampai ia tidak tega untuk membentak si android dan menyuruhnya diam.

Terlebih lagi, setiap kali ia menoleh, ia selalu melihat wajah Doppo.

Masalahnya, Doppo yang dilihatnya saat ini adalah Doppo yang senantiasa berwajah segar. Tidak ada kantung mata yang selalu menegaskan betapa lelahnya ia. Tidak ada pula helai rambut yang mencuat tidak sempurna dan sering membuat Hifumi ingin merapikannya.

Dan setiap kali Hifumi menyaksikan wajah itu terbayang pada si android, rasa sakit otomatis menyeruak di dalam dadanya.

Seandainya saja Doppo-chin punya kesempatan untuk berpenampilan seperti itu.

Tetapi kenyataan bahwa impiannya tidak lebih dari angan-angan kosong belaka membuat dadanya semakin sakit. Doppo yang ia kasihi akan selamanya tercetak di ingatannya sebagai pria lelah berkantung mata dan berambut awut-awutan, yang tubuhnya selalu basah oleh keringat dan pakaiannya selalu kusut gara-gara pekerjaannya, dan kendati Hifumi tetap menyayanginya sepenuh hati, ia sadar bahwa penampilan itu adalah tanda bahwa Doppo-nya menderita.

Dan menyaksikan betapa sempurnanya android itu membuat Hifumi menderita.

Ini tidak adil, suara di dalam kepalanya berteriak. Doppo-chin bahkan tidak pernah lagi berpenampilan sesegar itu, apalagi tersenyum seperti itu padaku.

Ini tidak adil.

Benar-benar tidak adil.

Seandainya saja hal itu tidak pernah terjadi.

Seandainya saja Doppo-chin punya kesempatan untuk bahagia.

Seandainya saja—

Hifumi menggeleng kuat-kuat untuk mengenyahkan segala pikiran buruk itu. Tenggelam dalam masa lalunya hanya akan membuatnya semakin menderita, dan seberapa kuatnya Hifumi menyesali masa lalu itu, Doppo tidak akan pernah kembali.

[HifuDo] WitheringTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang