Chapter 14: The Regret

229 36 3
                                        

Hifumi mendapati dirinya terjebak dalam déjà vu.

Baru beberapa bulan yang lalu Doppo baru kembali setelah berjam-jam pergi, dan sekarang ia telah menghilang selama setengah hari lamanya.

Hifumi yakin ia tidak salah dengar. Doppo bilang kalau dia hanya ingin membuang sampah di bawah. Bagaimana mungkin hal sesederhana itu saja memakan waktu selama ini?

Hifumi sudah menelepon Jakurai setelah satu jam berlalu, tentu saja, tetapi jawaban yang ia terima sungguh mengecewakan.

"Dia memang mampir ke rumah sakit kemarin, tapi tidak hari ini," kata Jakurai lewat telepon. "Kenapa? Apa kamu ingin aku mencarinya?"

Hifumi merasakan sesuatu mengganjal tenggorokannya. "...aku tidak mau merepotkan sensei."

"Kamu tidak merepotkan siapa-siapa," balas Jakurai. "Tenang saja. Kalau dia masih tidak kembali sampai nanti malam, cobalah menghubungi laboratorium HypnoMic cabang Shinjuku. Nomor teleponnya tertera di buku panduan android milikmu."

Entah kenapa, gagasan menelepon laboratorium itu terdengar buruk di telinganya. Tapi Jakurai sudah memberinya saran itu, dan amat tidak sopan kalau dia menepisnya terang-terangan.

Lagi pula, Doppo-chin tidak akan suka kalau aku bersikap tidak sopan.

"Aku mengerti," ujar Hifumi serak. "Trims, sensei."

"Beritahu aku kalau dia sudah kembali."

Hifumi tersenyum tipis. "Pasti." Dan sambungan telepon berakhir saat itu juga.

Tetapi seperti insiden di masa lalu, Hifumi memilih untuk menunggu tanpa menelepon laboratorium itu atau pihak berwajib mana pun.

Sebab waktu itu Doppo kembali sekalipun ia terlambat, dan seharusnya kali ini ia juga begitu.

Lagi pula, pikir Hifumi dengan senyum tipis, aku berutang jawaban padanya.

.

.

Doppo masih saja tidak pulang.

Hifumi tidak henti-hentinya memandangi jam. Tinggal beberapa menit lagi sebelum hari berganti, dan android itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang.

Makanan yang tersedia di panci bisa dipanaskan kapan saja, tapi Hifumi sama sekali tidak berselera untuk memakannya. Untuk melihatnya saja ia mual.

Padahal tadi ia sudah berjanji pada Doppo untuk makan malam lebih banyak. Sayang sekali, sosok yang memegang janjinya tidak ada.

Hifumi menggigit bibir bawahnya. Apakah aku harus mencarinya?

Bayang-bayang Doppo-chin tumpang-tindih dengan wajah android itu. Hifumi membayangkan bagaimana android itu mengalami sesuatu yang buruk—seperti Doppo-chin di masa lalu—dan hal itu terjadi karena Hifumi terlalu tolol untuk tidak menemuinya lebih cepat.

Seharusnya aku tidak menunggunya selama ini.

Hifumi cepat-cepat beranjak dari sofa, tetapi gerakan tiba-tiba itu malah membuatnya terduduk lagi.

Konyol.

Ia mencoba lagi. Kali ini berhasil, hanya saja Hifumi harus menopang tubuhnya pada tembok untuk tetap berdiri.

Payah sekali.

Napasnya terasa jauh lebih berat dari biasa. Bunyinya mengingatkan Hifumi pada suara gesekan gir yang telah berkarat, dan tidak hilang sekalipun Hifumi sudah mencoba mengusirnya dengan terbatuk-batuk. Kepalanya terasa begitu ringan, dan pemandangan ruang tamunya seolah berputar di matanya.

[HifuDo] WitheringTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang