S2 : Part 11

4.5K 298 228
                                    

"Tergantung."

Jiyeon menatap Minho dengan tatapan seolah ia tidak paham jalan pikiran namja itu, bagaimana bisa dia menjawab pertanyaannya dengan kata tergantung? Jiyeon masih berdiri disana menunggu namja itu melanjutkan ucapannya namun Minho hanya diam dan balas menatapnya seakan menunggu dia berbicara.

"Tergantung apa?"

"Tergantung kau ingin jawaban apa."

"Jawaban jujur darimu tentu saja Choi Minho. Aku ingin membuat ini jelas diantara kita, jika kita menikah setidaknya aku harus tahu perasaanmu padaku."

"Orang butapun tahu." jawab namja itu dengan pelan dan berjalan melewati Jiyeon. Jiyeon hanya diam disana berdiri dengan rasa ragu yang mulai menggerogoti dirinya, mengapa dia bertanya seperti itu? dia mempermalukan dirinya sendiri dan Minho tentu saja tidak akan menjawab pertanyaan bodoh seperti itu, dia pria yang berpikiran maju dan pertanyaan seputar cinta adalah hal yang bodoh untuknya.

Jiyeon berjalan membuntuti Minho saat namja itu memintanya untuk ikut, mereka tiba diruangan rahasia karena Jiyeon tidak menyadari ruangan itu ada karena tertutup oleh rak-rak buku tinggi yang ternyata juga merupakan pintu yang bisa diputar, tipikal para orang-orang kaya yang memiliki tempat pelariannya sendiri.

"eh...ehm." Jiyeon ingin bicara namun ia memutuskan untuk tidak mengeluarkan suara dan berjalan ketengah ruangan yang hampir sama besarnya dengan kamar Minho dengan wajah terkejut, terpesona, kagum dan bercampur aduk.

"Itu aku saat kecil." Jiyeon berkata dengan suara serak teringat akan kedua orang tuanya. Ia berdiri didepan foto anak perempuan dengan rambut panjang yang tersenyum menunjukkan giginya yang baru saja tercabut dengan bangga, ibunya mengatakan bahwa saat giginya tercabut itu artinya ia akan semakin dewasa dan dulu ia pikir dunia orang dewasa sangat menyenangkan. Dia bisa memakan apapun, bisa membeli apapun, pergi kemanapun. Tangannya terulur membelai foto yang ukurannya cukup besar itu dengan lembut.

"Dari mana kau menemukannya?"

"Cukup mudah."

Jiyeon berjalan kearah foto-foto selanjutnya dan berhenti difoto dimana ia dan Minho duduk bersama sambil berangkulan di kelulusan SMA mereka, ia tersenyum lebar dan memegang bunga besar yang Minho belikan untuknya. Minho selalu hadir disaat terburuknya, kapan pun dan dimanapun.

"Untuk apa kau mengoleksi semua ini?"

"Aku tidak tahu, tapi dengan begini aku merasa kau ada didekatku." Jawab Minho jujur dan ikut menatap foto kelulusan mereka dengan tatapan sayu. Jiyeon memberanikan diri untuk menghadap Minho dan menatap namja itu dengan penuh keseriusan, ia harus mendapatkan jawaban hari ini dan ia akan memaksa jawabannya.

"Berjanjilah kau tidak akan menyakiti dirimu lagi." Bisik Jiyeon sambil menatap namja yang ia cintai dengan mata yang sudah berkabut karena air matanya. Ia sangat terkejut mendengar apa yang terjadi pada namja itu, Minho namja yang sangat taat pada aturan dan bahkan namja itu tidak pernah merokok sebelumnya apalagi sampai mengkonsumsi narkoba.

Minho menjaga tubuhnya dan tubuh Jiyeon, dulu bahkan ia dilarang untuk minum soju jika namja itu berada didekatnya. Saat mereka makan bbq bersama teman-teman mereka pun, Jiyeon harus rela meminum jus karena jika tidak Minho akan sangat kesal padanya. Sebagai gantinya namja itu juga tidak boleh meminum alkohol, dan Minho menerimanya tanpa protes.

"Kau masih mendaki?" Jiyeon bertanya saat ia melihat foto terakhir mereka mendaki, yang membuatnya menyadari betapa egois dirinya dulu dan sangat kekanak-kanakan karena ia mudah sekali kesal dengan Minho. Padahal namja itu sudah mengusahakan banyak hal untuk Jiyeon, namun dia haus akan pengakuan bahwa namja itu mencintainya. Ia sering bertingkah menyebalkan.

PerfectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang