Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

6. Caffe Jendela 🦋 (REVISI)

8.8K 388 7
                                        

HAI KESAYANGAN AUTHOR, APA KABAR?

SEBELUM BACA LEBIH BAIK KALIAN FOLLOW DULU AKUN AUTHOR.

JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT DI SETIAP PARAGRAF 💬

_HAPPY READING_

🦋🦋

Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar sudah membahana sejak sejam yang lalu di SMA Garuda. Namun, Rafa masih saja berdiri termenung seorang diri di halte samping gerbang sekolah.

Jarum jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan hampir pukul empat sore, tetapi tanda-tanda keberadaan Zico belum juga kelihatan.

Rafa mengembuskan napas berat yang teramat sengit. Pesan WhatsApp yang dikirimnya sejak tadi tak ada satu pun yang dibalas, bahkan saat ditelepon hanya berujung pada suara dingin nada operator. Kekesalannya sudah benar-benar memuncak sampai ke ubun-ubun.

"Abang ke mana sih?! Telepon enggak diangkat, chat enggak dibalas! Dia pikir adiknya tahu jalan pulang apa di kota orang?!" Gerutu Rafa gusar.

Kakinya menghentak-hentak kerikil kecil di lantai halte dengan kesal. Tangannya memeluk tas sekolahnya rapat-rapat, menahan hawa panas sore Kota Bandung yang cukup menyengat kulit mulusnya.

Ponsel di genggamannya diusap kasar. Rasa-rasanya dia ingin melemparkan benda elektronik itu ke aspal jalanan untuk meluapkan amarahnya. Namun, Rafa masih cukup rasional untuk menepis niat impulsifnya tersebut. Bagaimanapun juga, ponsel berlogo apel itu adalah kado ulang tahun ke-15 yang sangat berharga dari papanya tahun lalu.

"Hah! Daripada mati konyol kelaparan dan kepanasan di sini sendirian, mending gue jalan kaki aja deh ke depan. Siapa tahu di jalan utama ada angkot yang lewat" Gumam Rafa pasrah.

Baru saja kakinya terayun dua langkah meninggalkan area halte, suara klakson nyaring mendadak terdengar dari arah belakang.

Tiiiinnn!

Sebuah sedan putih mengkilap menepi presisi di hadapannya. Kaca mobil diturunkan pelan, menampilkan sosok cowok berambut hitam berbelah tengah dengan senyum lebar tanpa dosa. Siapa lagi kalau bukan Zico.

"Halo, adik manisnya Abang Zico!" Sapa Zico riang tanpa gurat merasa bersalah sedikit pun di wajah tampannya.

Rafa langsung menghentikan langkahnya, melipat kedua tangannya tegak di depan dada, dan menatap sang abang dengan tatapan dingin nan menusuk bagaikan bilah es.

Melihat adiknya langsung mengibarkan bendera perang, Zico buru-buru mematikan mesin dan turun dari mobil. Wajahnya dimiringkan, memanyunkan bibirnya dramatis guna meminta belas kasihan. "Aduh, adik Abang yang paling cantik dan imut marah ya gara-gara Abang telat jemput?".

Tanpa aba-aba atau peringatan verbal, jemari lentik Rafa melayang cepat dan mendarat presisi di pinggang Zico, lalu memilinnya kuat-kuat dengan jurus cubitan maut.

"Aww! Aduh! Sakit, Dek! Ampun!" Meringis Zico sambil mengusap pinggangnya yang menjadi korban penderitaan sore itu.

"Rasain! Makanya kalau ada apa-apa tuh kabarin lewat ponsel! Punya ponsel canggih cuma dipajang doang! Udah ah, ayo pulang, aku kangen banget sama kasur!" Omel Rafa berapi-api, langsung ngeloyor masuk menuju pintu penumpang.

Zico bergegas mendahului Rafa dan membukakan pintu mobil untuk adik kesayangannya itu. "Silakan masuk, Ibu Bos galak".

Setelah memastikan Rafa duduk dengan nyaman, Zico memutari mobil dan segera melesat membelah jalanan Kota Bandung yang mulai dipadati kendaraan jam pulang kerja.

REIYRAFA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang