FITNAH

1K 61 0
                                    

Pon.pes.Al-Multazam Adalah salahsatu pesantren yang terkenal di kota A. Suasana pesantren dekat persawahan yang sangat sejuk membuat para santri menjadi betah tinggal di pesantren.

Saat itu memasuki tahun ajaran baru. Sebagai santri baru Almira mulai belajar beradaptasi dengan suasana pesantren dan teman-teman baru.

Di pesantren Almira mulai belajar ilmu agama. Di pesantren pula Almira mulai belajar mengaji, dan lambat laun ia mampu beradaptasi dengan suasana di pesantren dan teman-teman baru.

Tapi satu hal yang tak bisa Almira tinggalkan adalah kebiasaannya memakan tikus. Entah kenapa sejak pertama kali Almira memakan tikus, ia menjadi ketagihan.

Sehari saja Almira tidak memakan tikus, badannya terasa lemas. Dan kepalanya pusing terasa mau pingsan. Oleh sebab itu, setiap tengah malam saat teman-temannya tertidur ia mulai mengendap-ngendap mencari tikus di gudang pesantren.

Saat itu jam 1 dini hari. Semua santri sudah tidur terlelap. Tiba-tiba Almira terbangun. Ia melirik ke kanan dan kekiri, melihat apakah teman-teman kamarnya sudah terlelap?

Almira melihat Zulaika atau yang kerapkali dipanggil mbak Zul masih terjaga selepas sholat tahajud di sepertiga malam.

Almira menunggu mbak Zul untuk tidur sampai hampir setengah jam. Ia sudah tidak sabar menikmati daging tikus dengan balutan darah segar.

Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Almira melihat mbak Zul bersiap-siap untuk tidur. Almira mulai menyingkap selimutnya dan mengendap-edap keluar kamar.

Dengan sangat hati-hati Almira mulai berjalan menuju gudang.

"Hhhhhmmm. Malam ini Almira mau cari tikus yang gemuk biar kenyang sampai pagi" ucapnya dalam hati.

Almira mulai memasuki gudang pesantren. Disana ia mulai mencari tikus dengan bermodalkan lem perekat tikus dan pisau lipat. Ia pun mulai menunggu tikus-tikus yang ada di gudang masuk kedalam perangkapnya.

Setelah sekian lama menunggu akhirny ada seekor tikus yg terkena perangkapnya. Almira mulai mengambil tikus itu dan mulai membedah tubuhnya dengan pisau yang ia bawa.

Ia bongkar seluruh isi perut di tikus dan mencari hati tikus yg menjadi makanan favoritnya. Lalu hati tikus itu ia ambil dan mulai memakannya.

"Sedaaap. hatinya enak banget. Tkusnya masih muda, pasti dagingnya lebih gurih."

Kemudian Almira menggenggam seekor tikus yang sudah ia bunuh dan melahapnya.

Kraauuus.. krauuus.. krauuuus..

Almira begitu menikmati santapan makan malamnya.

Tiba-tiba...

Bruuuuaakk...

Pintu gudang pun terbuka. Di depan pintu gudang berdirilah seorang wanita yang tak asing lagi bagi Almira.

Wanita itu adalah mbak Zul yang tak lain adalah ketua kamarnya di kamar Cordova. Melihat mbak Zul masuk kedalam gudang membuat jantung Almira berdegub sangat kencang.

Bagaimana tidak? Sebelum keluar kamar ia melihat mbak Zul sudah terlelap. Tapi ternyata mbak Zul belum tidur. Dan mbak Zul tau saat dimana Almira keluar kamar.

Lalu mbak Zul mengikutinya sampai kedalam gudang pesantren.

"Astaghfirullah. Yaa Robbi."
Ucap mbak Zul saat melihat Almira yang sedang memakan tikus dengan darah segar memenuhi mulut Almira.

Melihat kejadian itu, mbak Zul sangat shock dan langsung pingsan. Melihat mbak Zul yang pingsan Almira segera mencari cara agar mbak Zul tidak melaporkannya kepada pengasuh pondok.

Ia mulai mencari-cari sesuatu yang ada di dalam gudang. Dan akhirnya ia menemukan seutas tali yang cukup panjang.

Almira menyeret tubuh mbak Zul yang sedang pingsan, kemudian memasangkan tali itu diatap gudang dengan menaiki kursi tua yang ada disana.

Almira mengalungkan tali itu ke leher mbak Zul dan menariknya dengan sekuat tenaga sampai mbak zul tergantung dengan tali yang mengikat di lehernya.

Mbak Zul akhirnya terbangun tapi ia tidak bisa lagi berteriak, karena tali itu sudah sangat kuat mengikat lehernya. Sampai ia pun tak dapat lagi bersuara. Dan tiba-tiba semuanya terasa gelap. Nyawa mbak Zul pun melayang dengan mata melotot dengan lidah yang menjulur keluar.

"Syukurlah lega. Akhirnya semuanya aman. Gak ada yang bisa laporin Almira deh." ucap Almira.

Almira kembali memakan tikus buruannya, ia sangat nikmati daging tikus muda yang terasa nikmat dimulutnya sampai habis.

Lalu ia membersihkan darah tikus yang berceceran di lantai dengan potongan kain yang sudah ia basahi sebelumnya, sampai tak ada lagi darah yang tersisa.

Setelah kenyang Almira kembali ke kamar dengan meninggalkan mayat mbak Zul yang tergantung di dalam gudang.

Esok harinya, seluruh santri putra dan putri di pesantren dikagetkan dengan penemuan mayat di gudang pesantren. Ada beberapa santri yang ketakutan. Dan ada juga yang segera menuju gudang karna penasaran.

"Mbak zul. mbak zul gantung diri." ucap seorang mbak-mbak kamar Cordova.

"Loh, Ya Allah. Ada apa to kok mbak Zul sampai gantung diri?." jawab santri yg lain.

"Anu mungkin karna mbak Zul gak kuat. Kalo gak salah kemarin mbak Zul baru mendengar kabar kalau calonnya dijodohkan. Itu loh gus dari pondok kota sebelah. Katanya calonnya itu dijodohkan"

"Yassalam. Tapi kok mbak Zul pikirannya sependek itu. Kenapa harus gantung diri sih? Mbak Zul itu cantik, pinter ngaji, pasti banyak laki-laki yang mau mengantri"

"Lah namanya juga terlanjur cinta. Mau bagaimana lagi? Sudah beberapa hari ini mbak Zul nangis terus. Gak nafsu makan. Pas aku tanya dia crita kalau gus yang sudah menjalin hubungan lama sama dia itu di jodohkan. Akhirnya mbak Zul gantung diri"

"Hiii serem. Aku takut kalau arwahnya mbak Zul gentayangan di pondok." Gosip mbak-mbak kamar sebelah.

Semua yang ada di pesantren tidak menyangka dengan kejadian yang menghebohkan seluruh isi pesantren itu. Ada beberapa polisi yang datang melihat tempat kejadian perkara.

Gudang pesantren pun dipasangi garis polisi. Dan semua santri berkumpul untuk melihat mayat mbak Zul yang tergantung itu di turunkan.

Semua santri putri tampak takut, kaget, cemas dengan kejadian itu, kecuali Almira.

Hanya satu kecemasan Almira, karena kejadian itu ia tak lagi bisa mencari tikus untuk hari berikutnya.

PSYCOPATH ALMIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang