Sudah Terbit
18+
Cantika Almeira Narendra.
Kesal dan kecewa menggulung menjadi satu, saat Cantika mengetahui betapa berengsek kelakuan kekasihnya. Lelaki yang ia pikir akan menjadi teman hidupnya kelak justru mengkhianatinya.
Rutinitasnya yang semu...
Yeaay, Banyu balik lagi. Yuhuuu ada yang rindu? Yuk sini merapat. Hehe
Selamat membaca teman-teman, terima kasih sudah bertahan sampai bab ini. Gak nyangka kalo sudah 1k viewers dan 159 vote. 😀
Love you to the moon and back. ❤️
***
Entah sudah berapa kali helaan napas kesal sudah Banyu keluarkan. Tatapan matanya masih tertuju pada layar ponsel hingga tak menyadari kedatangan Cantika, Lisa dan Freya di ruang televisi. Lisa yang sudah duduk di samping Banyu mencoba melihat layar ponsel lelaki itu.
"Kamu kapan pulang? Aku kangen." Lisa menirukan kata-kata yang tertera di layar. Banyu langsung menaruh ponselnya dan menatap Lisa dengan lirikan tajam. Sedangkan wanita itu hanya tertawa seraya berkata jika tatapan Banyu tidak membuatnya takut.
"Udah, pulang sana," usir Cantika. Banyu mengabaikan ucapan wanita itu dan memilih mengambil churros yang berada di meja.
"El belum pulang," kata Banyu lalu duduk di lantai dengan piring churros di depannya. Ia sudah memakan hampir seperempat piring, entah karena lapar atau camilan ini cukup enak.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa hubungannya sama El?" tanya Freya tak mengerti, setahunya Aziel mau pulang ke apartemen atau ke rumah Kaivan tidak masalah bagi Cantika.
"Karena El nyuruh aku nemenin Mbaknya yang Cantik di sini," jawab Banyu dengan mulut penuh. Lelaki itu tersenyum lebar ketika melihat Cantika menatapnya dengan dahi berkerut. Entah merasa jijik atau heran dengan ucapan lelaki itu.
Banyu meminum air milik Freya dan langsung direbut oleh wanita itu, "Ambil sendiri!" Freya berkata seraya menaruh kembali gelas di meja. Akhirnya Banyu memilih mengambil air ke dapur.
"Nyu, pacar lo nelepon nih." Lisa sedikit berteriak sembari mengambil ponsel Banyu, Freya yang penasaran pun ikut menatap layar ponsel dan menemukan nama Mutia di sana. "Gue ang—"
"Astaga, biasa aja dong," Freya juga Lisa berteriak bersama ketika Banyu berlari menghampiri mereka dan mengambil alih ponselnya. Lelaki itu menggeser tombol berwarna hijau seraya berjalan menuju dapur, tak ingin ketiga wanita itu mendengar obrolannya dengan Mutia.
Lima menit berlalu akhirnya Banyu pun kembali ke sofa dan memakan camilan buatan Cantika. "Pulang," ucap Cantika menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul lima sore. "Aziel pulang ke rumah Kak Kaivan," lanjutnya, wanita itu hanya tak ingin Banyu terlalu lama di apartemennya.
Mendapat pengusiran dua kali membuat Banyu menghela napas kasar, di tatapnya wajah Cantika cukup lama hingga membuat wanita itu menaikan alisnya, heran dengan sikap Banyu.
Freya juga Lisa ikut menimpali, mereka berdua mengatakan jika rumah Banyu cukup jauh dan akan membuat lelaki itu kelelahan esok hari. Banyu hanya diam, ia merapikan tas, memakai jaket jeans dan sepatu. Tanpa banyak kata lelaki itu berjalan keluar apartemen Cantika.
"Banyu suka sama lo Tik," celetuk Lisa. Sementara itu Cantika tak menanggapi ucapan sahabatnya. Ia hanya menganggap Banyu sebagai salah satu teman adiknya.
***
Ketukan di pintu sudah Banyu lakukan berkali-kali, setelah pergi dari apartemen Cantika lelaki ini memilih mengunjungi rumah Mutia.
"Akhirnya dateng juga," desah Mutia lalu membawa Banyu menuju taman belakang rumahnya. Banyu hanya menuruti keinginan Mutia seraya menatap seisi rumah yang hanya terdapat asisten rumah tangga juga kucing kesayangan gadis itu. Banyu sudah tahu jika kedua orang tua Mutia tengah bekerja dan akan pulang saat malam tiba.
Sesampainya di taman belakang Mutia meninggalkan Banyu dan berkata jika ia akan ke kamarnya sebentar. Banyu mengangguk lalu mengucapkan kata terima kasih ketika asisten rumah tangga Mutia membawakannya minum dam camilan. "Mbak, mi ayam ada nggak?"
Wanita setengah baya ini menggelengkan kepala seraya berkata jika stok mi ayam sasetnya sudah habis terjual sebelum jam lima sore. Mutia yang tengah berjalan menghampiri pun ikut menimpali, "Telat lo! kalo mau, datengnya siang."
"Yang ngabisin pasti Raka nih," gerutu Banyu. Padahal ia sudah membayangkan makan mi ayam buatan Mutia.
Mendengar kata Raka membuat Mutia kesal, wanita itu mendudukan dirinya di samping Banyu lalu menaruh beberapa buku dengan kasar. Banyu mengerutkan dahi melihat perubahan sikap Mutia. Tak berselang lama lelaki ini menyadari jika ia telah salah berbicara.
"Jadi?" tanya Banyu setelah membasahi tenggorokannya dengan air es. Ia mengambil alih buku di dekatnya lalu membaca judul. "Ini sih Raka yang ngerti," ucap Banyu sambil menatap wajah Mutia.
"Lo ganteng juga, Nyu," celetuk Mutia. Wanita itu menyadari ucapannya pun memilih berdeham lalu mengalihkan pandangan. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, menyingkirkan pemikiran aneh itu.
Beberapa menit kemudian, Mutia menatap Banyu lagi dan ternyata lelaki itu masih sibuk membaca, membuat Mutia bisa bernapas lega.
"Thank you lho, Nyu, udah ajarin gue," ungkap Mutia tersenyum setelah Banyu menjelaskan yang ia ketahui.
Banyu mengangguk menatap Mutia, lelaki itu sudah duduk di atas kendaraan. "Sama-sama," jawab Banyu seraya memakai jaket jins.
"Gue balik ... by the way, thanks atas pujiannya," ucap Banyu membuat Mutia terdiam. Setelah mengatakan itu Banyu langsung melajukan motornya keluar pekarangan rumah Mutia.
***
Entah keberanian dari mana, Banyu mengiyakan ajakan Bambang juga Gilang untuk pergi tempat yang tak pernah ia inginkan di hidupnya. Mereka bertiga akhirnya sampai di pelataran parkir dan tengah merapikan rambut juga memakai parfum sebelum keluar mobil.
"Tunggu dulu," ucap Banyu melarang kedua temannya untuk keluar. Bambang juga Gilang menatap Banyu seraya berdecak kesal. Mereka berdua sudah tak sabar untuk melihat kegiatan di dalam.
"Janji, nggak akan minum?" mereka berdua memilih mengangguk dan segera keluar mobil, Banyu mengikuti dan berdiri di samping Gilang. Ketiganya saling tatap sebelum melangkah masuk.
Baru beberapa menit berada di sini Banyu sudah tak sanggup dan memilih keluar lebih dulu, "Mau kemana?" tanya Bambang sedikit berteriak. Suara dentuman musik membuat mereka harus sedikit berteriak ketika berbicara.
"Balik," jawab Banyu lalu pergi, ia tak memedulikan kedua temannya ini. Ia pikir kepergiannya ke sini bisa melupakan rasa sakit saat di tolak tadi siang. Banyu berjalan cepat agar segera keluar dari tempat ini.
"Yakin bisa pulang sendiri?"
"Bisa, lagian gue bawa mobil." Suara yang cukup familier membuat Banyu melangkan ke sumber suara. Lelaki itu menajamkan penglihatannya, meyakinkan jika orang yang berada di sana adalah orang yang telah menolaknya tadi siang.
"Gue bisa pulang sendiri!" tolaknya ketika lelaki itu mencoba membantunya berjalan.
"Tapi—"
"Dia pulang sama gue," kata Banyu menghampiri mereka berdua. Melihat tatapan tak bersahabat dari Banyu membuat lelaki itu memilih pergi.
"Gue udah bilang! kalau gue bisa pulang sendiri." Banyu mengambaikan teriakan juga pukulan pada tubuhnya. Ia menarik napas panjang lalu kembali membawa orang ini menuju mobil.
"Duduk di sini, biar aku yang nyetir," titah Banyu. Orang ini akhirnya menatap wajah Banyu cukup lama.
"Banyu?" Banyu hanya bergumam seraya melajukan mobilnya menuju apartemen.