EMPAT BELAS

781 86 97
                                        

Pernah nggak sih kalian berniat update seminggu sekali, tapi nggak bisa karena tiba-tiba kangen sama Tokoh yang Kalian buat sendiri? Yups, itulaah aku, kadang kalau udah gitu mau gak mau ngetik dan berakhir post. 🤣🤣

Selamat membaca, jangan lupa vote, komen, dan share ke temen kalian, ya.

***

"Siapa yang mau nikah?" Barta menghampiri kakaknya juga Banyu karena sejak setengah jam yang lalu lelaki ini sudah menunggu Cantika di tempat biasa. Ia sengaja ke sini karena ingin makan masakan sang kakak.

Sudah cukup lama Barta tak menikmati masakan dari tangan Cantika. Biasanya setiap minggu mereka selalu memasak bersama dan menikmati olahan makanan yang mereka buat. Cantika menatap kesal Banyu, sementara lelaki itu hanya tersenyum lebar.

"Nggak ada," jawab Cantika, wanita itu berdiri di samping sang adik dan merangkul pinggangnya. "Kamu tumben ke sini nggak bilang-bilang."

Barta membals memeluk pinggang sang kakak dan menyadari sesuatu, lelaki itu menghentikan langkahnya lalu menatap Cantika. Mata lelaki ini memindai tubuh Cantika dari bawah sampai atas dan perbuatan itu membuat Cantika merasa risih. Wanita itu bertanya pada sang adik kemudian kembali membawa Barta menuju dapur karena ia sudah ingin memasak bersama.

Banyu yang melihat kedekatan kedua orang di depannya ini hanya bisa terdiam, ia ikut menatap tubuh Cantika yang terlihat sedikit kurus. Dan entah mengapa ia merasa kesal juga semakin bersalah, seingatnya saat mereka melakukannya, tubuh Cantika tak sekurus hari ini.

"Jangan diet lagi, udah aku bilang berkali-kali, kan, kalau Kak Cantik akan tetap cantik, walaupun gendut," ucap Barta kesal. Dan Cantika hanya tertawa menanggapi ucapan sang adik, wanita itu menjawab jika setiap lelaki pasti akan menyukai wanita yan terlihat langsing daripada yang berisi.

Barta menggeleng cepat lalu mengatakan jika ia lebih menyukai wanita berisi daripada kurus. Cantika hanya mengangguk menyetujui untuk menyelesaikan perdebatan ini. "Jadi masak nggak?" tanya Cantika, Barta menjawab dengan gelengan kepala, ia berkata jika sedang tak ingin memasak.

"Kalau gitu, aku aja yang bantuin, Kak," sahut Banyu, lelaki itu sudah berjalan di belakang Cantika juga Barta. Banyu tersenyum lebar ketika keduanya menatap ke arahnya.

Barta menatap wajah Banyu cukup lama membuat lelaki itu sedikit takut, "Big No! gue nggak mau ngambil resiko kalau dapur restoran keluarga gue hancur sama lo, Nyu."

Banyu berdecak kesal, ia yakin jika Aziel-lah yang telah membongkar aibnya pada lelaki di depannya ini. "Boleh ya, Kak Tika?" Banyu tersenyum seraya menyatukan kedua tangannya di depan dada, berharap Cantika menerima tawarannya.

"Tangan lo aja di perban, gimana bisa bantuin masak? Yang ada nyusahin, udah temenin gue aja, sini," ajak Barta, ia sudah menyeret lengan lelaki itu dan membawanya ke tempat tadi ia menunggu Cantika. Banyu menatap melas pada Cantika, tetapi, Cantika hanya melenggang pergi.

***

Banyu memejamkan mata, mencoba mengontrol emosinya. Sejak ia menginjakan kakinya di restoran ini, selalu saja kebersamaannya dengan Cantika terganggu. Beberapa puluh menit yang lalu oleh Anjar dan sekarang Barta.

"Yang lain mana?" Barta bertanya ketika menyadari jika tidak ada adik juga ketiga temannya yang lain. Banyu membuka matanya lalu menatap Barta, lelaki itu berkata jika keempat temannya yang lain tidak ikut ke sini.

"Gue ke sini karena nyokap nyuruh beli makanan di sini, katanya ketagihan masakan Kak Cantika," ucap Banyu terkekeh. Barta hanya mengangguk lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Banyu yang merasa diabaikan pun memilih memainkan ponsel, mengecek pesan yang sudah beberapa hari tak ia baca.

CANTIKA [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang