"Adit, bayar duit kas!!!"
cukup nyaring suara itu hingga wajah Aditya pengestu memerah malu dilihat semua orang apalagi adik tingkat yang memang lagi berjubel di kantin pada saat jam istirahat seperti sekarang ini.
"Lo bisa ngak sih nagihnya nanti n...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cindy kamu ngapain?" Tanya Adit syok melihat keponakannya yang tengah mencoret-coret tempat tidurnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Om Didit mau mau." Cindy melompat-lompat ingin menjangkau susu kotak rasa pisang milik om nya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Yaallah kenapa begini?!" Adit membiarkan saja Cindy berlari membawa susu kotaknya. Anak itu seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Sementara kakinya yang terkilir masih nyut-nyutan ngilu tak terkira.
"YAALLAH ADIT KENAPA TEMPAT TIDUR KAMU CORET-CORET!!!."
mami yang tadi hendak keluar melewati kamar Adit jadi syok parah melihat penampakan itu.
"Mi i-in-ini ngak seperti yang mami pikirin," Adit berusaha membelah diri ia dengan keadaan pincang memegang lengan maminya yang masih terpaku terdiam.
"PAPIIIII!!!,"
suara menggelegar mami memanggil suaminya terdengar hingga lantai dasar rumah mereka bukan hanya itu saja bahkan rumah Cempaka pun ikut bergetar.
Adit menutup kupingnya yang terasa bengal berdengung-dengung. Suara langkah kaki bergerubuk mendekati mereka.
"Mami kenapa toh teriak-teriak?" Papi Adit masuk kedalam kamar anak laki-laki bungsunya itu.
"Lihat Pi lihat!!" Dengan muka dramatis mami mengarahkan telunjuknya keranjang tak berbentuk milik Adit. Sebagaimana Mami tadi kini papi Adit juga ikut syok sambil memegang dadanya yang nyerih.