"Cempaka tunggu," Indri berlari menghalangi Cempaka yang ingin keluar kelas karena sekarang ini sudah jam pulang sekolah. Kebetulan tadi saat Adit dan Cempaka ke kelas, Bu Riri sudah keluar lebih duluh katanya ada urusan.
Cempaka menoleh ke Indri dan Delon.
"Kok lo bisa sama Adit sih tadi?" Tanya Indri penuh selidik.
Cempaka terdiam sejenak mencari jawaban yang tepat soalnya tak enak membicarakan insiden tembus tadi di depan Delon. Cukup Adit saja yang tahu ia tembus.
"Kok lo diam aja sih?!" Geram Indri melihat Cempaka belum juga buka suara.
"A-anu hm gue——" Cempaka melirik Delon risih.
Delon yang seakan peka pada keaadaan segera menjauh dari keduanya.
"Gue tadi tembus Ndri gila untung ada Adit kalau ngak, ya bisa seharian gue mendekam di toilet." Jelas Cempaka.
Indri mengerti sekarang. "Lo sih ngak bilang gue, gue kan bawa pembalut buat jaga-jaga,"
"Hah, ih kok lo ngak pernah bilang kalau lo selalu bawa pembalut ke sekolah?!" Sebal Cempaka setelah mendengar perkataan Indri. Seandainya saja ia tahu lebih awal jika sahabatnya ini selalu membawa benda kebutuhan perempuan itu maka dijamin Cempaka tidak mungkin serepot itu minta tolong pada Adit.
"Ya Lo nya yang ngak nanya!!!" Indri berujar tanpa rasa bersalah tapi kasihan juga melihat penderitaan temannya ini.
"Ish dahlah udah terjadi juga."
"Kumpul di rumah Lili yuk ntar malam!!" Ajak Indri, mengingat mereka sudah beberapa hari belum berkumpul karena banyaknya kesibukan.
Cempaka berpikir sejanak. "Ngak ada tugas kan kita?"
"Ngak ada tuh." Jawab Indri.
"Yaudah yuklah, eh tapi Lo ngak ngajak Delon kan?" Cempaka memandang Indri meminta jawaban.
Indri menggeleng. "Iya enggak lah, ya kali kita ngajak cowok ke rumah cewek yang ada dicincang bokap Lili kita semua."
"Ya deh, ntar gue ke sana diantar bang Caka. Btw gue duluan ya kayaknya bang Caka udah di depan." Cempaka meninggalkan Indri setelah sebelumnya melempar senyum ke Delon beberapa detik untuk beramah tamah.
"Yuk Lon kita pulang kayaknya Om juga udah jemput." Indri mengajak Dion yang memgangguk.
***
Sepulang sekolah Cempaka segera mencuci pakaiannya dan juga jaket Adit.
"Eh tumben kamu rajin biasanya maen hape mulu sepanjang hari?!." Bunda mengerutkan kening melihat Cempaka sibuk mencuci pakaian di tempat laudry-nya.
Cempaka berhenti sejenak dari aktivitasnya. "Ya dong bun. Bunda aja yang ngak tahu selama ini kalau Cempaka itu anak rajin," bangga Cempaka.
"Pret, biasanya aja minta tolong Nanik nyuci pakaian." Ejek Bunda. Nanik itu pegawai laudri Bunda. Pegawai Bunda ada 3 orang baru-baru ini karena Bunda sudah tidak kuat lagi bekerja sendirian.
Cempaka mengedikkan bahu tak perulih atas ketidak setujua Bundanya pada kenyataan jika dirinya ini anak yang teramat rajin.
"Yaudah, kalau udah nyuci pewangi sama deterjennya jangan ditaruh sembarangan." Bunda mengingatkan Cempaka, kebiasaan buruk Cempaka jika sudah mencuci pakaian maka deterjen dan botol pewangi akan ia tarok sembarang tempat belum lagi bubuk deterjen yang berhamburan serta cairan pewangi yang berceceran di lantai.
"Iya bun siap!!" Cempaka memberikan gerakan hormat bendera pada Bunda.
"Bunda keluar dulu mau belanja bulanan." Pamit Bunda. Perempuan berumur itu pergi ke kamar anak laki-lakinya untuk minta tolong diantar ke supermarket terdekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
JURNAL SMA
Humor"Adit, bayar duit kas!!!" cukup nyaring suara itu hingga wajah Aditya pengestu memerah malu dilihat semua orang apalagi adik tingkat yang memang lagi berjubel di kantin pada saat jam istirahat seperti sekarang ini. "Lo bisa ngak sih nagihnya nanti n...
