"Adit, bayar duit kas!!!"
cukup nyaring suara itu hingga wajah Aditya pengestu memerah malu dilihat semua orang apalagi adik tingkat yang memang lagi berjubel di kantin pada saat jam istirahat seperti sekarang ini.
"Lo bisa ngak sih nagihnya nanti n...
"Eh lihat Aditya dan teman-temannya ngak?," Tanya Cempaka pada adik kelas yang sedang nongkrong-nongkrong cantik di depan kelasnya.
"Ngak kak," jawab mereka.
Cempaka mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Gadis itu kembali menyusuri lorong kelas untuk mencari keberadaan Adit dan teman laki-laki sekelasnya.
"DOOORR!"
Cika mengagetkan Cempaka saat gadis itu lewat di depan kelasnya.
"Cika," Cempaka mengelus dadanya yang berdetak kencang.
"Heheh sorry btw gue jualan susu lo mau beli ngak?" Cika menawarkan jualannya.
"Susu apa?" Tanya Cempaka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Astaga mahal bener isinya emas atau berlian? Mending beli aja di warung cik Ratna paling cepek," ujar Cempaka.
"Yaelah lo mah ngak tahu ini tuh susunya Jungkook BTS," jawab Cika menggebu-gebu.
"Hah?! Giamana-gimana?" Cempaka agak merasa keliru dengan penyampaian pada kalimat Cika barusan.
Cempaka melihat kanan-kiri memastikan tidak ada orang di dekat mereka. "Shuut btw sih Jungkook Jungkook itu cowok kan terus susunya keluar dari mana?"
Cika terbelalak kaget PLAK spontan saja Cika memukul lengan Cempaka sedikit keras mendengar pertanyaan absurd temannya itu. "bukan kayak gitu maksud gue dodol, maksud gue itu susu yang diminum sama Jungkook BTS."
"Woy mau kenama lo?," Pertanyaan Cika tak dijawab Cempaka. "ah yaudah deh biarin aja gue mau jualan lagi."
Cika membetulkan tatatan poninya setelah itu Cika kembali ke kelas-kelas adik kelasnya untuk menjual susu pisang itu. Lumayan dia beli susunya hanya tiga ribu rupiah dan akan ia jual tiga puluh ribu rupiah alamat banyak untung nanti.
BUK
"Aduh," Cika terjatuh ditabrak oleh Adit dan teman-temannya.
"Eh sorry-sorry sengaja eh ngak sengaja maksudnya." Rohim sih hitam manis mengulurkan tangannya hendak membantu Cika berdiri tapi dengan kasar ditolak oleh gadis itu.
"Jalan make mata!!" Cika membentak Rohim tepat di mukanya.
"Eh lo temannya naik-nakk ke puncak gunungkan?" Tanya Adit menghadang Cika yang hendak pergi.
Cika tak jadi melangkah, gadis itu menoleh ke Adit sambil mengerutkan keningnya kebingungan. "siapa?"
"Maksud Adit lo temannya Cempaka kan?!" Tanya Alan memperjelas pertanyaannya.
"Oh iya kenapa masalah buat lo?," Cika kembali membenarkan poninya.
"Sih Cemara kemana ya?."Tanya Adit lagi.
"Cempaka nama teman gue C-e-m-p-a-k-a bukan Cemara," protes Cika dengan mengeja satu-satu perhuruf nama Cempaka.
"Iye iye serah lo, kemana dia?" Adit anak baik dia harus sabar.
"Tadi sih lewat sini barusan tapi ngak tau kemana lagi," jawab Cika.
Para cowok-cowok itu saling tatap sejenak. "oke terima kasih."
mereka kembali bergegas pergi meninggalkan Cika yang kembali menggaruk kepalanya bingung juga setiap orang suka sekali meninggalkannya tampa permisi atau basah basih kek.
***
"Ratna cantik." pak Udin wali kelas XII IPA 1 kembali datang ke kantin untuk merayu janda pujaan hatinya.
"Eh mas Udin ada apa mas?" Cik Ratna tersenyum menanggapi pak Udin yang senyam-senyum kesenangan.
"Kopi dong satu," pesannya dengan mata tak pernah lepas dari lenggak-lenggok halus tubuh molek janda tanpa anak itu.
Pak Udin menyipitkan matanya saat melihat beberapa anak kelasnya sedang berlari menuju kantin.
"CIK ES SATU!," pesan Rohim
"Gue juga dong lo mah ngak setia kawan," Joy memukul kepala Rohim dengan gulungan buku yang ia bawa.
"Udeh udeh, ribut mulu yang penting kita terbebas dari penagih utang itu," ujar Adit menengahi.
"Ekhem!" pak Udin mendekati tempat mereka duduk dengan dehemannya.
"Siapa sih? Alan jangan iseng ah gue pukul juga lo." Adit menepis tangan pak Udin yang menyenggol bahunya. Semua teman-temannya pada diam melihat pak Udin yang sudah melotot galak.
"Dit kayaknya kita ngak terbebas seituhnya deh," ujar Rohim dengan muka sudah ingin menitikan air mata.
"Kenapa sih lo pada? Mending kita makan sepuasnya gue yang traktir!." sombong Adit.
"Ekhem!!" sekali lagi pak Udin menegur Adit yang masih belum sadar. Sedangkan teman-teman lainnya sudah sadar betul itu pak Udin.
"Ap... hehehhe bapak." Adit menoleh hendak menyembur pak Udin dengan omelannya namun ia urungkan setelah sadar siapa yang ada di belakangnya itu.
"Bapak ganteng deh iya kan guys?!," perkataan Adit mendapat anggukan dari teman-temannya.
"Mas ini kopinya," suara ayu itu menyita perhatian pak Udin.
"Iya dik Ratna." serasa ada angin segar menghampiri pak Udin saat Cik Ratna mendekatinya.
Adit dan yang lain pergi diam-diam saat pak Udin sedang asik terpesona dengan Cik Ratna.
"letakin aja di meja dik Ratna cantik, saya harus mengurus anak-anak nakal itu dulu."
"ADIIIT BERHENTI KALIAN!!"
pak Udin berlari mengejar komplotan anak-anak badung itu.