"Ma, pliss jangan ganggu aku lagi dengan begitu banyaknya pilihan mama buat Langit." ucap Langit memohon.
"Ini semua buat kamu sayang."
"Udah berapa banyak mama memperkenalkan aku dengan anak temen mama, tapi aku hanya milih Bulan ma."
Jihan hanya diam mendengar ucapan anaknya itu.
"Mama pengen tau, gimana pilihanmu itu."
Langit kaget saat mendengar ucapan mamanya.
"Gini kan aku sayang mama, tenang aja ma Bulan itu anaknya baik, pinter, mandiri."
"Oh ya?."
"Iya ma aku serius."
"Oke, mama beri kamu kesempatan untuk ngenalin Bulan sama mama."
"Ya udah aku mau ngampus dulu dada mama." ucap bintang sambil mencium pipi Jihan.
***
Setelah di kampus langit tak melihat kekasihnya, dia hanya melihat Fina dan Gino sedang makan di area kantin.
"Liat Bulan gak?." Tanya Langit di segerombolan siswi yang berada di kantin.
"Dia pulang Lang." ucap Fina.
"Pulang?."
"Iya, Kan emang udah gak ada jadwal, mangkanga dia pulang."
"Ya udah makasih ya."
Langit langsung buru buru masuk ke dalam kelas, untuk mengikuti mata pelajaran sebentar lalu setelah itu ke rumah Bulan untuk menjemputnya dan mengenalkannya kepada mama.
***
Langit melajukan mobilnya dengan cepat untuk segera cepat sampai di rumah Bulan, Langit tak sabar dengan momen hari ini, di mana mamanya memberikan kesempatan untuk memperkenalkan Bulan, Langit yakin setelah ini perjodohan ini akan segera berakhir.
Sesampai di rumah Bulan, Langit menelepon Bulan untuk memberi kabar bahwa dia sudah ada di depan rumah.
"Kamu ke sini kok gak bilang dari awal?."
"Kejutan sayang."
"Kita mau kemana sih?."
"Udah kamu ikut aja ya, dandan yang cantik."
Sambil menunggu gadisnya selesai mengganti pakaian, Langit di persilahkan masuk, untuk menunggunya di ruang tamu. Setelah sekitar 10 menit Bulan keluar dengan pakaian yang menurutnya sederhana tapi jika di pakaikan di Bulan menjadi sangat anggun.
Bulan keluar dengan dandan yang tak terlalu menor, rambut yang ia gulung dan hanya menyisakan poni di depan, serta bedak yang tidak terlalu tebal karna bulan memang sudah cantik walau tak memakai polesan bedak.
"Cantik banget sih pacar aku." ucap langit gemas.
"Gombal."
"Gombal? Kain pel pel an itu kan."
Bulan menggelengkan kepalanya.
"Ya udah yuk berangkat." Langit menggenggam tangan Bulan.
Mereka segera tancap gas menuju rumah langit.
***
Rumah langit
Rumah yang sangat Megah, semua bangunan berdominan kayu membuatnya sangat cantik.
Seorang ibu paruh baya menyambut kedatangan Bulan dan Langit, ya dia Jihan mama Langit, ia tersenyum ke arah Bulan. Sontak Bulan membalas dengan senyuman juga.
"Sore tante." sapa Bulan sambil menyalimi mama langit.
"Kamu yang namanya Bulan"
"Iya tante"
"Baru kali ini tante di kenalin sama Bulan, maklum tante jarang di rumah" ucap Jihan.
"Ayo kita masuk, gak baik ngomong sama orang di depan pintu gini."
Jihan lalu mengajak Bulan masuk dan berbincang. Tetapi justru Langit sedikit ada ketakutan ketika mamanya ngajak ngobrol Bulan, tapi di lihat dari ekspresi wajah mama yang senyum ketika bulan sedang berbicara. Menandakan bahwa mama menyukai Bulan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biarkan aku yang pergi
Teen FictionLangit yang gelap juga membutuhkan sedikit cahaya, untuk membuat semua menjadi sempurna, tetapi cahaya yang semakin lama semakin redup karna cahaya bulan tak bisa membuat langit yang hitam menjadi benderang
