Flashback on
"Jeng Sarah, apakah nanti kita bisa bertemu?." Jihan mengirimkan pesan singkat ke Sarah.
"Memang ada acara apa jeng?."
"Nanti aku jelasin ya, temui saya di Legend Cafe, ya jeng."
"Oke."
Setelah itu, Jihan bersiap siap untuk menemui Sarah di cafe yang telah di janjikan.
Jihan telah sampai di cafe tersebut, ia menunggu Sarah yang tak kunjung datang. Sudah 5 menit Jihan menunggu, tapi belum melihat sosok Sarah.
"Maaf telat ya jeng, soalnya jalanan macet kalau malam minggu gini." Ucap Sarah.
"Santai aja jeng."
"Emang ada apa jeng, nyuruh saya ke sini?."
"Gini, saya ingin bekerja sama."
"Dalam hal apa?."
"Bisnis jeng."
"Oh iya terus?."
"Kan bisnis saya sedang di ambang kebangkrutan, jadi tolonglah saya lah jeng. Supaya bisnis saya tidak hancur."
"Waduh, gimana ya jeng. Kan masalahnya Bisnis kita itu beda, saya kan bisnis di bidang tambang, kalau jeng sarah kan di bidang fashion."
Jihan kemudian terdiam sejenak.
"Atau gini aja, kita jodohkan anak saya dengan anak jeng Sarah, jadinya nanti kan bekerja samanya jadi lebih mudah."
Sedikit gila memang Jihan, tapi mau gimana lagi, demi tidak bangkrut ia rela melakukan apa saja. Termasuk mengorban anaknya sendiri.
"Jodohin gitu?."
"Iya jeng, nanti jeng Sarah liat aja deh anak saya, dia ganteng cocok dengan anak jeng Sarah yang cantik."
"Tapi, kalau misal anak saya tidak bahagia dengan Langit, apakah jeng Jihan mau bertanggung jawab?."
"Saya jamin, anak jeng Sarah akan bahagia bersama anak saya Langit."
"Oke kalau gitu, nanti aku hubungi anak saya, soalnya dia lagi kuliah di London."
"Baik jeng, nanti hubungi saya aja."
Jihan merasa senang, walaupun sedikit tidak tega.
"Masih ada yang perlu di bicarakan jeng?." Tanya Sarah.
"Sudah kok."
"Oke kalau gitu, saya pamit dulu ya, soalnya mau ke mall sebentar."
"Oh, iya jeng silahkan."
"See you."
Sarah akhirnya meninggalkan Jihan, namun seketika Jihan terdiam, melamun. Apakah mau Langit dengan Della?, jika tidak bagaimana.
"Aku harus bisa membujuk Langit." Ucap lirih Jihan.
Flshback of
Jihan di landa bingung, mengapa ia melakukan kesalahan kepada anaknya sendiri. Ingin sekali ia memberitahukan alasannya menjodohkan dengan Dilla, pastinya Langit tidak akan memaafkan Jihan.
Langit yang akhirnya sudah pulang, Jihan langsung buru-buru untuk menemui Langit.
"Nak." Teriak Jihan
Langit menoleh ke arah mamanya.
"Mama.. mau.." belum selesai ngomong, Langit langsung memotong pembicaraan.
"Apa? Mau ngomong kalau aku suruh jauhin Bulan? Demi Della?, enggak akan ma." Langit langsung meninggalkan mamanya dan masuk ke dalam kamar.
"Sungguh berat mama mau bilang nak." Ucap lirih Jihan.
Jihan langsung kembali masuk ke dalam kamar, dan memikirkan bagaimana caranya agar nanti Langit tidak membenci dirinya.
***
Jodoh memang sudah ada yang ngatur, tinggal kitanya saja mau berusaha atau tidak, tapi jika perjodohan? Apakah itu cara yang terbaik untuk memaksa seseorang mencintai orang yang tidak sama sekali di cintai?.
***
Dari dalam kamar Jihan, terdengar suara mobil anaknya, yang menandakan bahwa Langit telah pulang. Jihan buru-buru menghapus air matanya, lalu menemui Langit.
"Ma, aku beliin ini buat mama." Langit memberikan bingkisan ke Jihan.
"Apa ini?."
"Buka aja, pasti mama bakalan suka."
Jihan lalu membuka bingkisan tersebut, dan al hasil Jihan tersenyum. Ternyata anaknya memberikan hadiah sebuah dress yang sangat cantik.
"Cantik dressnya." Ucap Jihan.
"Alhamdulillah kalau mama suka, itu pilihannya Bulan lo."
Otomatis Jihan langsung kembali bersedih.
"Bulan bilang, kalau mama pasti bakalan suka sama dress itu. Soalnya warnanya kalem dan keliatan anggun, ya udah aku ambil deh pilihannya Bulan ma." Ucap Langit
Jihan hanya bisa tersenyum.
"Ya udah ya ma, aku mau ke kamar dulu, mau lanjut tugas." Langit langsung pergi ke kamar.
Jihan lalu duduk di kursi sofa, sambil melihat baju yang di pilihkan oleh Bulan, kini Jihan di landa bingung. Di saat pilihannya sudah mantap untuk menjauhkan Langit dari gadis itu, justru pilihannya semakin berat.
Tiba-tiba hp Jihan muncul notif pesan, dan yang mengirim pesan itu ialah Sarah.
"Aku tunggu janjimu jeng."
Begitulah isi pesannya. Langsung buru-buru Jihan menghapus pesan tersebut.
"Andai waktu bisa ku putar, tak kan ku buat kesalahan seperti ini." Batin Jihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biarkan aku yang pergi
Fiksi RemajaLangit yang gelap juga membutuhkan sedikit cahaya, untuk membuat semua menjadi sempurna, tetapi cahaya yang semakin lama semakin redup karna cahaya bulan tak bisa membuat langit yang hitam menjadi benderang
