Jaevran memasuki apartemennya yang gelap, pukul 12 malam. Ia baru tiba di apartemennya dengan keadaan yang sedikit menyedihkan. Kemeja biru langitnya sudah kusam, begitupula celana bahan abunya yang sudah kusut disana sini. Dasinya sudah tanggal entah sejak kapan. Pukul 12, waktu yang menandakan bahwa satu hari yang melelahkan kembali berhasil ia lalui. Ia merebahkan badannya di atas kasur yang sedikit berantakan, ia tak ada waktu untuk membersihkan kamarnya. Bahkan untuk memperhatikan dirinya saja ia tak ada waktu. Sebenarnya untuk siapa ia menjalani semua harinya ini?
Suara dering ponselnya membuat ia susah payah bergerak mendekati nakas di sisi kanannya. Nama Haera tertera di layar yang menyala terang.
"Halo Je? Kamu udah pulang?" Suara meneliti di ujung sana mampu membuahkan secarik senyuman muncul di wajah putih Jaevran.
"sudah nyonya, lagi otw mau mandi nih." Jaevran menyandarkan tubuhnya pada ujung tempat tidur. Menatap langit kamarnya. Ia memejamkan matanya sejenak.
"Oke sekarang kamu langsung mandi, terus tidur ya. Jangan lupa minum vitaminnya. Besok pagi aku telpon lagi." Jae tak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Halo Je? Kamu denger gak?"
"hmmm" Hanya deheman singkat yang menjadi jawaban Jae.
"ih jawab iya dulu dong Je. Masa aku dari tadi ngomong gak disaut sih. " Suara Haera mampu membuat Jae membayangkan wajah sebal gadis itu. Membuat Jae tertawa.
"lah malah ketawa dong dia."
"kamu kenapa belum tidur?" bukannya menjawab, Jae justru ikut melontarkan pertanyaan. Haera menghela nafas.
"gapapa, aku belum ngantuk."
"tante gimana?"
"udah mendingan, hari ini udah boleh makan selain bubur, mungkin lusa udah boleh balik."
"bagus deh kalo gitu, kamu jaga sama siapa malem ini?"
"Ayah baru balik ke rumah disuruh bang Naren. Takutnya ayah ikut kecapean dan drop. Kalo bang Naren kayanya jaga di UGD." Jelas Haera panjang lebar, Jae mengangguk meski ia tahu Haera tak akan tahu ia sedang mengangguk.
"yaudah kamu, istirahat juga ya. Aku mau mandi dulu." tutup Jae. Tak ada jawaban.
"halo ra?" tidak ada jawaban di ujung sana. Jae memeriksa apa sambungan telponnya masih terhubung, dan jawabannya iya. Jaevran menunggu jawaban Haera. Ia mendengar samar ada suara Haera dan seseorang.
"eh sorry Jae, tadi dokter Jovan ngetok buat anter hasil lab." Jelas Haera, Jae sedikit heran. Mengantarkan hasil lab? Pukul 12 malam? Sedikit tidak wajar. Tapi ia tak ingin berburuk sangka. Ia percaya pada Haera.
"okay ra, aku tutup ya."
"iya Jae, selamat istirahat. I miss you Je. "
"i miss you too more that i can say Ra. Byee."
Percakapan mereka berakhir, Jae segera melakukan semua rentetan perintah yang tadi diberikan oleh Haera. Ia berusaha membuang prasangka setiap nama Jovan muncul dalam pikirannya. Sampai akhirnya tak lama ia benar-benar terjatuh dalam alam mimpi. Membiarkan tubuh dan pikirannya beristirahat.
Malam ini Jae mendapat kabar bahagia, temannya sekaligus bawahannya yang merupakan seorang produser di perusahannya baru saja menemuinya. Sam namanya, pria itu bersikeras bahwa Harikeenam harus menerbitkan setidaknya satu album. Ia mengutarakan permintaannya setelah menonton video rekaman mereka yang biasa di unggah oleh Brian di akun youtubenya. Awalnya Jae menolak, namun Sam memohon kepada Jae. Jae akhirnya meminta waktu kepada Sam untuk berdiskusi dengan para rekannya. Maka disinilah Jae duduk di tengah keempat pria yang menatapnya penuh interogasi. Jae menghela nafas sebelum menyampaikan sebuah kabar yang entah akan membawa keputusan seperti apa.
"Okay, jadi gini. Bri lo kenal Sam kan?" Tanya Jae pada Brian.
"Samantha produser itu? Yang di kantorlo kan? Yang dulu pas ngampus pernah ngecompose musik bareng gue juga kalo gak salah." Jae mengangguk.
"kenapa dia?" Tanya Brian, ketiga pria lainnya hanya menyaksikan percakapan itu. Mereka tak kenal siapa pria yang sedang dibicarakan kedua temannya itu.
"dia minta kita rekaman."
"Lawak Jae, dikit lagi usahanya." - Wahyu. Jae diam.
"masa iya?" - Said. Jae masih diam.
"kita gitu?" -Danu. Jae tetap diam.
"canda nih si jae." -Brian. Jae membuka mulut.
"tapi kayanya dia serius si bang." -Danu. Jae menghela nafas. Keempat temannya diam.
"GUA SERIUS ASTAGA."
"Oke, tapi kenapa?" Tanya Said bingung.
"Katanya Sam jatuh cinta sama lagu yang di tulis Brian, trus juga dia udah nonton semua video kita di youtube."
"Trus gimana dong bang?"
"Gua terserah kalian, walaupun kalo kalian iyain ini bakal otomatis di bawah label gua, tapi ini gak berurusan langsung sama gua sih."
"gila, ini dulu tu cita-cita kita pas ngampus. Trus tiba-tiba kejadian gitu aja. Padahal kita gak ngarep." Wahyu yang pada dasarnya paling emosional, hampir menangis.
"jangan nangis, geli gua." Brian menjauh dari Wahyu "gua mau, mau banget. Tapi gua gamau maksain kalian semua. Apalagi Said dan Jae, gua tau kalian sibuk banget dengan kerjaan kalian." sambunya kemudian.
"sebenernya, gua minggu depan bakal resmi gantiin bokap. Alias urusan gua cuma tanda tangan ini itu, gak bakal terjun langsung kaya dulu. Sedikit free, kecuali kalo malem karena gua udah ada pawangnya." Said membuat ketiga temannya terdiam. "kenapa lu semua? Kesambet?"
"maksudnya lo jadi direktur utama alias pemegang saham utama?" Tanya Jae memastikan. Said mengangguk.
"sobat gua kaya banget." respon Brian santai.
"Kalo kalian nanya gua, jawabannya sudah pasti iya. Dari dulu gua gak terikat di perusahaan, dan musik tetep satu satunya hal yang gua cintai."
"gua sama juga sama bang wahyu, gua bebas, dan gua seneng banget sejak ngeband kita banyak waktu ngumpul gini." Danu menatap Brian.
"gausah tanya gua lagi, jawabannga kaya tadi. Udah pasti iya. Tinggal lo doang Jae, gimana?" Brian melempar pertanyaan penentu pada Jae.
Ada sedikit jeda disana. Said hampir menyudahinya, ia tau ada beban berat di pundak Jae. Apalagi mengingat jika mereka benar rekaman, Jae akan bekerja ekstra.
"gua ambil. Ini salah satu mimpi gua dari dulu, gua pasti bisa bagi waktu." Jaevran tersenyum, Said tak jadi berkata. Jaevran memilih untuk yakin pada dirinya sendiri. Kali ini ia akan berjalan pada mimpinya sendiri.
"Woy merinding gua ah." Lagi-lagi Brian menjauh dari wahyu yang melankolis. Wahyu tidak perduli dengan reaksi Brian.
"Lah Danu kok lo yang nangis anjir." Said kaget bukan main saat disebelahnya Danu mulai terisak.
"seneng banget dah gua bang. Gatau lagi." Ujar Danu dengan nada rendah. Keempat pria lainnya tertawa. Jae menepuk pundah Danu pelan.
"tenang Dan, kita bakal gini terus kok." Ucap Jaevran. Disusul suara isakan Wahyu yang akhirnya tumpah.
Malam itu mereka kembali berbincang tentang mimpi di masa lalu yang sempat mereka kubur, tanpa mereka tau bahwa hari seperti ini akan muncul. Jaevran berniat untuk memberi kabar pada Haera, namun niatnya ia tepis saat melihat jam yang sudah sangat larut. Nanti saja, ia akan berbagi kabar bahagia itu nanti. Semoga, nanti masih ada waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Break Up After Love
Fiksi PenggemarJaevran namanya, alerginya banyak. Pecandu teh, bukan kopi. Pakaian favoritnya adalah hoodie abu-abu dan celana sobek di bagian lutut. Dunianya ada dua : diatas panggung dan di belakang meja kerja. Sampai di titik ia paham keduanya tak bisa sejalan...
