Chapter 15: Teach Me

1.5K 187 79
                                        

Jeon Jungkook

Mencium bibir Sifra itu sudah kumasukkan ke dalam daftar “Jungkook’s Favourite Things To Do” karena aku sangat menyukai bagaimana lembutnya bibirnya itu ketika aku menciumnya.

Jangan salahkan aku, tapi salahkan bibir manisnya yang membuatku kecanduan. Kalau bisa, aku ingin menciumnya setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik—kapan pun itu.

Ketika ciumannya usai, Sifra mengatakan, “kau tidak boleh menciumku lagi karena kau sudah mengatakan bahwa ini yang terakhir.”

Aku ingin sekali tertawa. Mana mungkin ciuman ini menjadi yang terakhir?

Kubelai rambutnya. “Iya.”

“Aku ingin istirahat.”

“Bisakah kau tidur di sini lagi denganku seperti kemarin malam?”

Sifra menggigit bibirnya. Oh, fuck, I want to bite it too.

“Aku ingin tidur di kamar.” Katanya.

Aku mendecak, “jadi kau akan meninggalkanku sendiri di sini? Jahat sekali kau. Padahal aku sudah menyelamatkanmu di frat party. Dua kali. Bayangkan jika semisal tidak ada aku, pria-pria jahat akan melakukan hal yang kejam padamu.”

“Well, that didn’t happen.”

Bloody hell!

Aku menghela nafas. “Ya sudah, tidur saja sana di kamarmu. Aku akan tidur di sini.”

Aku pun mulai memejamkan mataku.

Kupikir Sifra sudah masuk ke kamarnya. Tapi tak tahunya, dia kembali duduk di sofa dan mengatakan, “beri aku ruang agar aku bisa tidur juga.”

“You’ll sleep here?”

“Seems like it.”

Mendengar jawabannya itu, aku tersenyum. Lalu kuberikan ruang untuk dia berbaring di sebelahku. Sofa ini cukup besar untuk dua orang, jadi aku dan Sifra bisa tidur di sini.

Dengan saling berhadap-hadapan, Sifra bertanya. “Bagaimana rasanya kuliah di Jurusan Hukum?”

“Biasa saja.”

“Jawab aku dengan serius, Jungkook.”

Aku mengendikan bahuku. “Entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku memilih Jurusan Hukum karena Papa ingin aku untuk memiliki profesi yang membanggakan seperti Pengacara, Jaksa, Hakim—yang berkaitan dengan hukum.”

“Tapi sebenarnya kau tidak ingin berada di Jurusan Hukum?”

“Ya.”

“Lalu, kenapa kau mengikuti keinginan Papa-mu? Bukankah seharusnya kau mengikuti keinginan dirimu sendiri. It’s your life, after all.”

“Aku ingin setidaknya membuat Papa bangga padaku, Saint Andrew. Sedari kecil, Papa membiarkanku untuk melakukan apa pun yang aku mau. Aku menjadi anak nakal dan dikeluarkan dari sekolah, tapi Papa membiarkanku. Hingga akhirnya aku harus melakukan home schooling. Aku selalu mengecewakan Papa sejak dulu. Dan sekarang, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk membahagiakannya. Lagipula, itu juga untuk kebaikanku.”

Memang benar. Aku bukanlah tipikal anak penurut dan anak baik-baik. Jeon Jungkook yang dulu sangatlah nakal dan tidak bisa ditolerir sikapnya.

Tapi sekarang, aku sudah berubah. Kasihan Papa jika aku terus membuatnya malu dengan sikapku yang jelek ini.

Sifra terlihat terkejut setelah apa yang kukatakan padanya. “Banyak sekali rahasia dalam dirimu yang tidak orang ketahui. Kau tahu, di kampus itu semua wanita membicarakanmu. Mereka bilang Jeon Jungkook itu pria brengsek yang akan menyakiti hati wanita-wanita. Juga, Jeon Jungkook itu manwhore yang hanya memanfaatkan wanita untuk tubuh mereka saja. Tapi mereka tidak tahu bagaimana kau sesungguhnya.”

PORNOPHOBIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang