Reality Show

6.1K 807 131
                                        

Clara langsung memeluk Andra begitu kami tiba di rumah Lia. Andika juga terlihat di sana, dia bangkit dari sofa ketika melihat kedatanganku dan Andra. Wajah lelaki itu terlihat panik dan lelah, sementara Clara menangis sesenggukan di dada ayahnya.

"Sejak kapan?" Andra bertanya ke arah Andika.

"Kemarin sore. Kalau enggak salah kemarin sore." Andika menjawab dengan tidak yakin. "Tadi malam, sepulang dari kerja aku mampir ke sini. Cuma ada Clara. Katanya, ibunya pergi dari sore. Sampai tengah malam belum juga pulang. Jadi aku nyari keliling Jakarta, neleponin dia. Enggak ketemu, enggak diangkat."

Kemarin sore? Berarti setelah aku pergi dari rumah. Siangnya aku masih melihat Lia dan Clara di teras rumah mereka. Masih bersahutan dengan si gadis kecil perkara love dan hate. Setelah aku pergi, aku tidak tahu apalagi yang terjadi.

"Mama enggak bilang mau ke mana?" Andra yang sejak tadi berlutut demi memeluk Clara, bertanya pada anak semata wayangnya.

"Enggak. Mama enggak bilang apa-apa ...." Clara masih tersengguk.

"Aku benar-benar bingung." Andika mengacak rambutnya sendiri.

"Om Andika selalu aja datang terlambat!" Clara melirik ke arah Andika dari dada ayahnya. Matanya terlihat menyipit dengan tidak suka.

"Maaf ...." Kepala lelaki berkemeja putih itu menunduk.

"Sayang ...." Kusentuh pundak Andra, membuat suamiku itu mendongak.

"Ya?"

"Bagaimana kalau kamu tanya ke Mama dan Papa? Siapa tau, 'kan?" Aku memberi saran. Bukan tidak mungkin Lia ada bersama dengan mereka. Entah apa alasannya, tapi bisa saja. Aku kepikiran dengan drama di pagi tadi. Mama yang menelepon, dan kemudian Lia yang menghilang. Bisa saja, 'kan?

"Mama?" Andra mengyipitkan mata. Namun, sepertinya dia setuju dengan saranku. Dilepasnya Clara dari dekapan. Setelah mengecup kening anaknya yang sudah terlihat lebih tenang, dia bangkit berdiri dan berjalan ke teras sendirian. Bisa kulihat tangannya yang bergerak di layar ponsel sembari melangkah.

Mataku beralih kepada Andika yang masih termenung di tempatnya berdiri. Masih terlihat gelisah, juga lelah. Sementara itu Clara berlarian di anak tangga, sepertinya dia menuju kamarnya karena tak lama terdengar pintu berdebum. Sama sekali anak itu tidak menyapaku sejak kami datang. Salahku juga tidak menyapanya.

"Jangan khawatir, Lia akan ditemukan," kataku, iba melihat bagaimana rupa Andika saat ini.

Andika hanya mengangguk pasrah, kemudian tersenyum kecut. "Clara benar," katanya, "aku selalu aja datang terlambat." Dia terlihat sangat menyesal.

"Sabar ya ...," kataku. "Lagian, kita enggak bisa ngatur kapan waktunya masalah bakal datang. Kamu cuma kurang beruntung." Aku tersenyum, tapi senyum di wajah Andika terlihat bertambah masam.

"Sejak kecil, aku memang kurang beruntung sama yang namanya masalah." Dia terkekeh. "Bahkan kita berdua ketemu pertama kali, juga karena masalah. Iya, 'kan?" Dia menatapku.

Sejenak aku kebingungan, tapi beberapa saat kemudian turut tertawa. Teringat bagaimana kami pertama kali bertemu karena mobilku yang mogok.

"Ck!" Andika berdecak. "Aku rasa, aku memiliki masalah dengan yang namanya masalah ini sejak aku masih sangat muda. Masih kecil. Seusia Clara-lah ...."

"Tujuh tahun?" tebakku.

Andika mengangguk.

"Tujuh tahun. Masalah yang membuat mataku membela---"

"Ngeselin!" Tiba-tiba saja Andra berseru, membuatku dan Andika menoleh ke arah pintu.

"Kenapa?" tanyaku. Andra terdengar, dan juga terlihat benar-benar kesal.

DOUBLE DATE - TerbitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang